Walaupun tempatnya tidak rapi, tapi percayalah warung makan satu ini selalu diburu oleh para siswa yang sedang mengenyam pendidikan di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur.

Saya tertarik menuliskan sedikit cerita tentang warung makan ini, mengingat harganya yang tidak masuk akal—murah banget—di saat BBM bersubsidi sedang meroket.
Bayangkan saja, seporsi nasi yang ditemani geprek, mereka menjualnya hanya 6 ribu rupiah. Mustahil ini bisa didapatkan di tempat lain. Harga geprek di kota Serang sudah menyentuh di titik 17 sampai 35 ribu. Dan mereka selalu beralasan karena segala sesuatunya naik.

Di sini, di warung yang sederhana—mereka menjual dengan harga murah. Untuk itulah, saya memutuskan untuk mencari tahu, mengapa pemilik warung makan ini—menjual geprek dengan harga yang sangat murah, yaitu 6 ribu rupiah.

Saya berjalan kaki dari tempat kursus. Rumah cat hijau itu terbilang lumayan ramai. Apalagi nanti malam hampir semua siswa kursus Kampung Inggris pernah datang ke situ. Banyak anak muda yang sedang makan, di antaranya pemiliknya—nenek—juga sedang makan.
Saya disuruhnya masuk untuk menemui anaknya yang sedang mondar-mandir melayani pembeli. Pada akhirnya, saya tanya sesuatu yang berkaitan dengan warung makanya. Sudah berapa lama buka warung makan seperti ini, Bu De?

Perempuan yang saya taksir umurnya 50-an ini, menjawab 9 tahun yang lalu. Sebelumnya, Bu De mengaku tidak hanya menjual geprek, tetapi juga soto ayam, dan menu lain yang juga sangat murah meriah.
Sekarang, Bu De dengan ibunya melayani siswa kursus Kampung Inggris. Dan warungnya buka mulai pada 07.00-21.00 WIB.

Sambil melayani, saya terus bertanya yang lebih inti lagi. Mengapa Bu De menjual harga geprek 6 ribu rupiah? Dan jawabannya sangat memukau sekali.
“Dulu Bu De pernah merantau. Merasakan lapar. Dan Bu De tahu betul saat lapar tapi nggak punya uang. Itu tersiksa banget. Bu De tahu kalau anak-anak yang kursus di sini nggak semua punya uang. Itulah kenapa Bu De jual murah saja, Mas,” katanya.

Bisnis warung makannya Bu De pernah ditentang oleh suaminya sendiri. Pasalnya, suami Bu De kerja di China. “Tahu lha ya kalau China itu gimana. Uang dikit aja harus dihitung. Bu De prinsipnya Jawa, selalu pakai hati. Kasian kalau mahal, Mas” tambahnya.
Sambil mengulak sambal aku bertanya, sambal yang dibuat kenapa harus selalu dadakan? “Biar rasanya tetap fresh, Mas. Kan ada tuh yang langsung jadi. Nah, Bu De pengen sesuai selera yang pesan. Mau sedang, pedas, atau apapun itu, Bu De layani,” ujarnya.
Bu De mengaku kepada saya bahwa setiap hari, dia bisa menghabiskan belasan kilo daging ayam segar dan dan puluhan kilo beras.

Rasa Geprek 6 Ribu
Geprek yang dibuat Bu De sangat enak untuk ukuran harga 6 ribu. Bahkan jika dibandingkan dengan geprek 15 ribu yang ada di Kota Serang tentu saja sangat jauh perbedaannya. Enakan yang dibuat Bu De.
Sambalnya gurih pas. Nggak buat pusing kepala. Daging ayamnya tidak bau amis sama sekali. Dan tentu, geprek di sini sudah hancur lebur bukan cuma ditimpuk sampai gepeng doang.

Saya tidak bisa menjelaskan lebih banyak tentang geprek Bu De, yang jelas sangat enak. Kalau Anda tidak percaya, saya bisa mengantarnya selama masih di Kampung Inggris. Silakan.*


