Buku ini bagian dari Gerakan Hibah Buku Untuk Nusantara dari Duta Baca Inonesia. Nanti akan saya sumbangkan ke Taman Bacaan Masyarakat di seluruh Indonesia. Saya mengenal pendiri Apajake Media, yaitu Tatang Hidayat Pohan. Saya pertama kali bertemu dengan Tatang di Rantau Prapat, Sumatera Utara. Tatang aktif juga sebagai Koordinator Gowes Literasi Yogyakarta.

Buku ini semacam kumpulan gagasan transformasi yang dapat dilakukan Perpustakaan Desa dan Taman Bacaan untuk memerangi “mitos’ bahwa kita adalah bangsa yang rendah minat bacanya. Segala usulan rekreatif, edukatif, dan adaptif dengan kondsi zaman yang serba digital digeloran di buku ini untuk memerangi hasil penelitian yang dilakukan Program Inernational Student Assesment (PISA) yang dirilis oleh Organization for economic Co-Operation tahun 2019. Lagi-lagi kita nomor 62 dari70 negara.

Saya sendiri capek jika mendengar para pejabat dalam pembukaannya mengutip ini dengan bangganya. Jika terus-terusan seperti ini nanti kita akan rendah diri di depan orang-orang dari luar. Padahal Kepala Perpusnas RI Drs. Muhammad Syarif Bando, MM sudah mewanti-wanti, agar kita jangan lagi ambil pusing dengan penghakiman mereka terhadap kita.

Pada 18 Januari sampai 10 April 2022, saya sebagai Duta Baca Indonesia bersama 3 asisten melakukan Safari Literasi mulai dari Kuningan, Cirebon, Tegal, Banyumas hingga ke kota Malaka di perbatasan Timor Leste, genap 40 kota. Di kota-kota itu kami mengunjungi perpustakaan desa dan taman bacaan masyarakat (TBM) di gunung, di kampung terdalam, menyeberang ke pulau-pulau kecil dengan perahu untuk menemukan akar masalah apa, sih, sehingga orang luar kok bisa-bisanya menyebut kita adalah bangsa yang rendah minat bacanya!

Ternyata saya menemukan dua hal, yaitu akses ke perpustakaan yang lemah, terutama di Indonesia Timur. Jika di Jawa, perpustakaan di mana-mana. Di Flores dan Timor, masih ada Perpustakaan Umum yang nebeng di sebuah kelas SD, misalnya. Juga distribusi buku yang tidak merata. UNESCO menyarankan 1 pemustaka membaca 3 judul buku baru setahun, sedangkan Perpusnas RI menyodorkan realitas pait bahwa disparitas atau kesenjangan antara pemutaka dan buku lebar sekali, 1 buku ditunggu 90 orang. Saya sebagai Duta Baca Indonesa diberi tanggung jawa agar 1 buku ditunggu 30 orang saja!
Paling menarik adaah tagline Perpusnas RI di tahun 2022 ini, yaitu Transformasi Perpustakaan untuk Mewujudkan Ekosistem Digital Nasional. Itu artinya kita sudah harus siap hijrah ke era digital. Beberapa kali saya ikut meresmikan Pocadi alias Pojok Baca Digital sebagai hibah dari Perpusnas RI.

Saya setuju jika Perpustakaan Desa dan taman bacaan harus direvitalisasi. SelaIN sarana dan prasarananya, juga program-programsnya. Jika Perpustakaan Desa harus dengan pendingin ruangan dan menyediakan minuman teh atau kopi, tentu itu sangat ideal. Tinggal Pak Camat dan Pak Lurah berembuk saja soal Dana Desa. Soal program tentu ini terobosan. Selama Safari Literasi, saya sering mengadaan pelatihan membat buku cerita bergambar kepada guru-guru PAUD/TK di Perpustakaan Desa dan TBM.

Perpusnas RI sendiri telah melaksanakan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial sejak tahun 2018 dengan menyasar pada perpustakaan provinsi, kabupaten/kota dan perpustakaan desa/kelurahan. Dari jumlah perpustakaan sebanyak 164.610 perpustakaan di Indonesia, baru 2.900 perpustakaan yang sudah bertransformasi. Saya mnemukan baya Perpustakaan Desa yang mendapatkan bantuan 1000 buku dan rak dari Perpusnas RI.
Buku ini layak dimiliki oleh pegiat dan penggiat literasi supaya kita jangan sampai pseudo literasi alias semu.
Gol A Gong


