Keluarga besar Haris Sumantapura juga halal bihalal. Tapi Bapak sudah berpulang 17 Desember 2007 dan Emak menyusul 21 Juli 2002. Kami halal bihalal anak-anaknya saja. Juga cucu-cucu. Teh Dian (suaminya A Tedi wafat Februari 2021) dengan Iwan dan Rina serta Abim dan Adis, dan Dinar – Ryan.

Hasan dengan Wawat dan anaknya – Farhan, tapi Fani dan suaminya ada acara lain. Gosal-Ubay komplet dengan Rizky-Ayas dan Wafi-Afwa, Izhar, dan Via. Evi dengan Ehan, sayang Andi suaminya ada acara lain dan Badra yang sulung sudah kembali bekerja di Indofood Cikarang. Anad dan Oyo ada acara lain. Tinggal saya dan Tias Tatanka yang belum punya cucu. Nabila baru saja lulus dan sedang menikmati tahun pertama bekerja. Gabriel, Jordy, dan Natasha masih kuliah.

Pada saat halal bihalal, Didin – kakak kami yang datang dari Purwakarta bersama Firman – putra sulungnya yang datang dengan anak dan istri. Rencananya setelah salat Jum’at mau plesiran ke pantai Anyer.

Tentu kami merasa sepi tanpa Bapak dan Emak. Untuk mengusir rasa sepi, Teh Dian punya ide permainan game cabut uang. Mulai nominal 50 ribu, 20 ribu, 10 ribu, 5 ribu hingga 2 ribu dibungkus plastik, diikat tali rapia kemudian digenggam. Ujung talinya dicabut dan terhubung ke uang.

Satu-satu mencabut ujung tali rapia. Dimulai dari cucu-cucu dulu; abim, Adis, Wafi, Afwa, Nabila, Jordy, Natasha, Izhar, Via, dan Ehan. Ayah-ibunya juga. Saya dan Tias dapat yang Rp 2000. Belum rezeki. Hasan beruntung, karena berhasil mencabut Rp. 50 ribu.

Semua bergembira. Saya juga walaupun itu tidak lama. Seharusnya kami sungkem ke Bapak dan Emak seperti 17 tahun lalu, ketika Bapak dan Emak masih hidup.


