Saya bisa seperti ini karena berangkat dari orang yang gagal, mimpi kandas, pernah kecewa. Tapi, saya ulangi: saya bukan orang yang kalah. Saya bukanlah pecundang. Bagi saya, setiap jatuh, saya bangkit. Terus begitu sampai apa yang saya inginkan tercapai.

Dulu saya bercita-cita jadi pilot, karena ingin keliling dunia secara gratis. Tapi kandas ketika tangan kiri saya harus diamputasi. Apakah saya putus asa? Tidak. Saya mulai fokus ke tujan kenapa cita-cita sebelumnya ingin jadi pilot, yaitu: keliling dunia. Maka mulailah saya merawatnya: keliling dunia. Hingga hari ini sudah 21 negara. Pelan-pelan, jika ada waktu, rezeki, dan diberi kesehatan, saya traveling ke negara-negara yang belum saya datangi.

Jika hidup diartikan sebagai sebuah pertandingan, makan kita harus mau menerima konsekuensinya. Menang, jangan sombong. Besarkan hati yang kalah. Jika kalah, jangan berkecil hati. Apalagi menuding orang lain jadi penyebabnya. Itu mental pecundang.

Dari mana saya mendapatkan semangat “pantang menyerah” itu? Semuanya bermula ketika tangan kiri saya diamputasi pada usia 11 tahun, 5 Oktober 1974. Saya jatuh dari pohon (kelas 5 SD). Bapak menyuruh saya berolahraga, membaca buku, mendengarkan Emak bercerita, dan menonton. Stimulus itu membuat saya kuat, sehingga lupa bahwa saya ini berlengan satu.

Di olahraga, sewaktu SMP, 1976-79, saya sudah bertanding di lapangan badminton. Ini adalah kecerdasan kinestetik ala Howard Gardner. Saya jadi sehat, psikomotorik saya yang dilatih sejak kecil lewat badminton jadi lentur, sehat, mudah beradaptasi, dan memiliki naluri kompetisi yang sportif. Saya pernah menang dan kalah.

Saya menyabet juara kedua, sedangkan juara pertama lengannya dua. Beranjut di SMA, 1980-82, saya juara kedua badminton SLTA se-Banten (juara pertamanya berlengan dua dan masih musuh bebuyutan di SMP). Sedangkan di Asian Para Games (dulu Fespic Games), saya pernah juara badminon kelas amputi tangan, di Solo 3 emas (1985) dan di Jepang 2 emas (1989).

Saya atlet cacat Indonesia, 1985-89.Menang dan kalah jadi hal biasa di lapangan badminton. Sportivitas dijunjung tinggi. Jika kalah, saya tidak akan pernah menuding orang lain jadi penyebabnya, tapi itu semata-mata karena lawan tandingnya lebih baik.

Ya, saya sudah terbiasa menang dan kalah di lapangan badminton. Jika menang, itu adalah hasil dari proses. Jika kalah, sekali lagi, jangan menuding orang lain sebagai penyebabnya – itu mental penyundang. Malu, ah! Apa kata dunia!
Kamu, bagaimana?
Gol A Gong
.

