Cakrawala 26: Gonjang-ganjing Sastra Masuk Kurikulum

Diluar persoalan kesalahan input data yang fatal, misalnya Sutardji Calzoum Bachri sudah meninggal (memang absurd , wong orangnya masih hidup) dan Akmal Nasery Basral adalah penulis Lima Menara (padahal itu karya Ahmad Fuadi dan Akmal menulis Naga Bonar Jadi 2), program ini harus dilanjutkan dengan perbaikan di buku panduannya. Eka Kurniawan sebagai kurator sudah mengamini kritik di surat terbuka Nirwan Dewanto.

Saya mengusulkan agar di daerah, penulis dan dinas terkait duduk bareng. Misalnya di Payakumbuh (Sumbar) ada Gus tf, Iyut, sebagai misal. Jadikan kedua penulis itu guru praktikum. Sehingga buku-buku yang layak masuk daftar tapi tidak disertakan di Sastra Masuk Kurikulum bisa diakomodir. Jangan diserahkan kepada guru mata pelajaran yang mengajar kepada para siswa, karena kita tahu beban mereka sudah berat mengurusi tetek-bengek kewajibannya sebagai guru, sehingga tidak ada waktu untuk membaca.

Di Padang, di Aceh, Payakumbuh, Semarang, Bali, Makassar, Banjarmasin dan kota-kota lain di Indonesia, serahkan ke para penulis di kota tersebut. Nanti ada pertukaran guru praktikum. Ini merdeka belajar, kurikulum merdeka. Jadi, penulis mengajar dengan bukti prosa/puisi yang ditulisnya. Praktik baik literasinya jelas. Saya kira ini akan menghidupkan dunia literasi kita. Benny Arnas yang sekarang sedang residensi di Eropa temasuk penulis yang menembus batas-batas wilayah dan aktif di gerakan literasi nasional secara terbuka.

Kita tahu, selama ini para penulis sering dijadikan narasumber oleh instansi terkait seperti Perpusnas RI, Kemdikbud RI, dan Badan Bahasa. Sekarang “legalkan” saja penulis sebagai guru praktikum di masing-masing kotanya. Ini juga akan jadi solusi dalam persoalan ekonomi. Penulis bisa lebih fokus menulis karya terbaru karena ada pendapatan rutin setiap bulannya. Dan penulis baru akan termotivasi untuk menulis karya berkualitas. Kalau perlu dibuatkan Perdanya oleh Pemerintah Daerah (Gubernur dan DPRD), agar pihak eksekutif dan petinggi di sekolah serius menjalankannya.

Dulu di TVRI ada film yang mirip seperti Sastra Masuk Kurikulum. Pemainnya Mutiara Sani. Si guru membawa masuk novel Belenggu ke dalam kelas. Film produksi Hollywood apalagi, berderet judulnya selain Dead Poet Society (sastra masuk kampus). Barangkali suasana kelas di Indonesia bisa seperti itu. Tentu literasi digital harus penghubung para penulis yang usianya berjarak dengan para siswa. Barangkali alih wahana jadi solusi. Para siswa membuat tugas-tugasnya dalam betuk resume novel atau pembacaan puisi dalam bentuk video dan diunggah di medsos seperti TikTok, IG, FB, dan YouTube.

Itu saja, sih. Semoga gonjang-ganjing Sastra Masuk Kurikulum ini dimaknai sebagai dinamika literasi menuju kesejahteraan kita bersama. Salam hormat untuk semua penulis di Indonesia.

Gol A Gong – Penulis Balada Si Roy
*) Serang, 27 Mei 2024

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==