Emak dan Bapak begitu ringan tangan membantu siapa saja yang membutuhkan pendidikan. Emak adalah kepala sekolah di SKKP (Sekolah Kejuruan Keputrian Pertama) dan Bapak kepala sekolah di SGO (Sekolah Guru Olahraga). Jika ada orangtua murid yang membutuhkan pretolongan keringanan biaya, Emak dan Bapak tidak bertele-tele menolong mereka. Bahkan rumah kami menjadi transit bagi guru-guru muda dari Bandung, yang dikirim belajar ke Banten.
”Itulah yang akan kita bawa mati, amal jariyah,” kata Emak. Jika aku mengamalkan ilmu, itu juga bekalku kelak di akhirat. Dan mereka tidak pernah henti mengingatkan kami – anak-anaknya, untuk mencari ilmu kemna saja, karena janji Allah tidak akan bohong.
”Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggilah derajat itu.” Yang paling melapangkan dadaku, Emak dan Bapak tidak menekankan anak-anaknya untuk bergelar tinggi; S1, S2, atau S3. Emak dan Bapak lebih memetingkan, apakah nanti kami akan berguna atau tidak di masyarakat, karena sebaik-baiknya orang adalah yang berguna bagi lingkungannya.
Pendidikan yang dimaksud Emak dan Bapak tidal selalu harus formal, tapi juga non formal/informal. Itu sebabnya keberadaan perpustakaan dengan koleksi buku yang melimpah sangat diperlukan. Orang tuaku memanjakan kami dengan berlangganan koran Kompas, Suara Karya, Intisari, Femina, Gadis, HAI, dan Bobo.
Emak juga selalu mewanti-wanti aku, agar selalu menyisihkan setiap rezeki yang aku peroleh sebesar 2,5% saja. ”Itu sedikit. Sepantasnya adalah 10 hingga 25%. Coba saja hitung, jika kamu mendapat rezeki Rp. 1000,-, kamu hanya membagikan Rp. 250,-. Masih ada Rp. 750,- Masih banyak, daripada Allah tidak memberi kamu rezeki sepeser pun.”
Aku paling menyukai nasehat Emak yang satu ini, ”Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.” Itu memberiku spirit yang besar dalam mengarungi hidup ini. Apalagi ketika aku harus kehilangan tangan kiriku, diamputasi sebatas sikut. Emak tidak pernah mengingatkan aku, bahwa aku ini buntung. Emak justru memberiku suntikan vintamin, bahwa aku harus mencari pekerjaan. Bahwa aku harus mampu memberi kepada orang lain, karena itu adalah bagian dari perintah Allah. ”Bagaimana kita bisa berzakat kalau tidak bekerja?” tanya Emak.


