Kemudian saya menulis semacam esai di medsos, “Terima kasih kepada semua yang sudah membantu membebaskan tanah Rumah Dunia. Do’akan rencana film Balada si Roy lancar dan box office.”

Kami hitung, ternyata untuk membangun gelanggang remaja Rumah Dunia butuh dana segar kurang lebih Rp. 2 milyar! Wah, dari mana uang sebanyak itu! Istri saya – Tias Tatanka menyuruh saya untuk bersabar. Dia yakin jika kita berdo’a kepada Allah, segalanya akan dimudahkan Allah.

Tidak lama, Mas Imam Prasojo – sosiolog terkemuka di negeri ini, menelepon saya. “Gol A Gong butuh dana Rp. 2 Milyar, ya! Sana, datang ke Kantor Menpora di Senayan! Ada program Sentra Pemberdayaan Pemuda. Kamu ambil satu titik, daripada dikorupsi orang!”

Saya datang ke gedung Kemenpora RI di sebelah TVRI, Senayan, Jakarta Pusat. Awalnya tidak mulus. Mas Imam mengingatkan saya, “Kamu punya prestasi nggak? Yang membuat Kemenpora tidak bisa menolak!”
Saya ceritakan kepada Mas Imam, bahwa saya adalah peraih 5 medali emas cabang olahraga badminton di Asian Para Games (dulu Fespic Games) Solo (1985) dan Jepang (1989). Mas Imam berseru, “Itu yang saya maksud!”

Begitulah cara kerja Allah SWT. Segalanya dimudahkan. Satu titik Sentra Pemberdayaan Pemuda berdiri di areal tanah seluas 3000 M2. Das Albantani – relawan Rumah Dunia, yang membuat DED – detail engineering design.
Alhamdulillah, 2012-2013 pembangunan selesai. Sekarang Rumah Dunia menjelma jadi areal taman budaya. Siapa saja boleh datang untuk berekspresi.
Gol A Gong


