Jika ada pernyataaan “darurat buku”, itu memang ironis, ketika dunia digital merajalela dan budaya baca (e-book atau medsos) meningkat, tapi orang-orang mengeluh karena yang konvensinal ditinggalkan. Fakta di lapangan, komunitas-komunitas atau institusi pendidikan masih meluncurkan buku konvensional walaupun dengan kualitas beum maksimal. Padahal UNESCO mengusulkan agar 1 orang Indonesia membaca 3 judul buku setiap tahunnya. Sedangkan Perpusnas menyodorkan realitas, bahwa 1buku ditunggu 90 pemustaka.

Saya bertanya-tanya, apakah problemnya tidak ada anggaran untuk mencetak buku atau tidak ada penulisnya? Ternyata buku baru yang ditulis dan dicetak sedikit. Berarti kekurangan penulis. Prof. E. Aminudin Aziz, MA, Ph.D., Plt Kepala Perpustakaan Nasional RI mengatakan, “Akan mencetak 45 juta buku di tahun 2024 ini dan akan disebarkan di seluruh pelosok Indonesia.”

Data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri pada Juni 2022, dari 275,36 juta jiwa penduduk Indonesia ada 190,83 juta jiwa (69,3%) penduduk Indonesia yang masuk kategori usia produktif (15-64 tahun). Jika mereka membutuhkan buku bacaan, tinggal dikalikan 3 buku saja untuk 1 orang, kurang lebih 57 juta buku!

Peta industri penerbitan buku sebelum pandemi menurut Bisnis Indonesa edisi Minggu, 15 Mei 2022, dari 68.290 ISBN yang dikeluarkan Perpusnas RI, toko buku Gramedia berhasil menjual 34, 71 juta eksemplar dari 44.599 judul buku. IKAPI Pusat pernah menyampaikan data pada Hari Buku Nasional, Mei 2021 di Banten, bahwa dalam 1 tahun sekitar 40 hingga 70 juta buku diterbitkan.
Jadi, apakah masih darurat buku? Apakah Anda masih belum menulis buku? Solusi terbaik dari persoalan ini adalah: kita menulis buku, jangan menyalahkan orang lain. Jika menulis buku dijadikan kesadaran kolektif, saya rasa kita tidak akan lagi mendengar: darurat buku!
Gol A Gong



