Cara Perempuan Memilih Takdir dalam Perempuan yang Memesan Takdir

Oleh Ni’ma

Aku membaca buku ini di sebuah gedung olahraga tempat tinggalku. Pada pagi hari, matahari belum sepenuhnya naik, tetapi panasnya sudah terasa menggaruk kulit. Lintasan lari di depanku dipenuhi manusia yang seolah tak pernah berhenti, statis, padat, dan asing satu sama lain.

Di sampingnya, ibu-ibu dengan seragam senada bersorak diiringi pengeras suara memutar lagu yang tak kuingat judulnya. Di tengah riuh itu, ketika manusia-manusia lain menegosiasikan tubuhnya dengan keringat, aku menegosiasikan batinku dengan luka-luka pelan. 

Tidak ada ekspetasi besar untuk album prosa ini. Buku dengan 18 cerita di dalamnya akan habis ku baca dalam sekali waktu untuk mengisi jeda peregangan, pikirku. Namun, sejak membaca prosa pertamanya, aku merasa memasuki ruang yang jauh lebih sunyi dari keramaian di depanku.

Seakan-akan, perempuan dalam buku ini duduk di sebelahku tanpa banyak bicara, tetapi hadir dengan luka yang tak meminta penghakiman. Getirnya tenang, bak kopi yang sudah tidak mengepulkan asap, tetapi aromanya pekat. 

Di tangan Welda Sanavero, perempuan-perempuan ini tidaklah menunggu diselamatkan. Mereka justru menyelamatkan dirinya sendiri dengan cara yang tak mudah dilihat. Kadang dengan kebenaran yang tak digaungkan, kadang pula dengan keputusan yang tak dianggap sebagai “pahlawan”.

Bagi mereka, takdir tidak lagi berupa garis perjalanan yang mesti dijalani, melainkan sesuatu yang dinegosiasikan dari serpihan kesempatan. Mereka seolah berjalan di tepian jalan raya yang sangat ramai dengan lalu lalang kendaraan, dan tetap berusaha melangkah meski batu dan kerikil terus-menerus melukai kaki.

Yang membuat bacaan ini membekas adalah cara tubuh menjadi wilayah tawar-menawar, seperti napas yang direnggut lalu direbut kembali, rahim yang dipertanyakan, batas diri yang dituntut untuk selalu dijaga.

Misalnya, pada tokoh Daisy yang memutuskan menjadi perempuan yang tetap melahirkan masa depan meski dianggap sebagai “perempuan yang kehilangan”. Keputusan besarnya ini adalah titik kemenangan yang meneriakkan bahwa dia memiliki arah. Di sinilah agensi perempuan tampil sebagai keberanian menerima diri tanpa lenyap dari dirinya sendiri.

Dalam prosa lainnya, ada perepuan yang memilih pergi untuk melindungi cinta, ada yang bertahan demi merawat martabat, ada pula yang menata ulang masa depan dari sisa-sisa kesanggupannya. Aku rasa, tidak ada perempuan yang benar-benar kalah di sini, hanya perempuan yang tidak diberi ruang penuh untuk hidup, juga tidak rela disebut boneka dari takdirnya sendiri.

Setelah membaca lebih dari setengah buku, aku berhenti sejenak, menutup buku sebentar, dan menatap lintasan lari di hadapanku. Derap kaki para pelari bergulung seperti gelombang yang bergerak begitu cepat, tanpa saling menatap. Tiba-tiba aku tersadar, begitulah para perempuan dalam buku ini menjalani hidupnya. Banyak suara mengelilinginya, tetapi tak kerap didengar. 

Di luar, tubuh-tubuh manusia sibuk membentuk kekuatan otot, tetapi di dalam halaman-halaman ini, tubuh-tubuh lain bertahan agar tak redup. Panas pagi menekan pelipisku, tetapi justru kutangkap makna bahwa keteguhan juga dapat berupa tarikan napas yang dipertahankan agar tidak pecah.

Album prosa ini tidak meminta pembacaya untuk memihak. Namun, ia meminta kita untuk menyadari. Bahwa ketabahan tak selalu berbentuk kepasrahan, justru kesanggupan untuk berjalan meski jarak gerak yang begitu sempit.

Tidak semua perempuan memiliki ruang untuk memilih hal-hal besar, selama mereka mampu memilih hal sekecil apa pun, mereka akan tetap menjadi subjek dalam hidupnya sendiri. Buku ini memberi makna bagi luka, yaitu jalan perempuan belajar berdiri tanpa saksi dan empati.

Ketika aku menutup buku pada halaman terakhirnya, lintasan lari itu masih penuh, dan aku mengerti bahwa setiap orang sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri dengan caranya sendiri. Jika orang-orang di depanku menguatkan otot, perempuan-perempuan dalam buku ini menguatkan keberanian.

Tanpa tepuk tangan, tanpa sorakan semangat. Hanya nyala kecil yang terus dijaga agar tidak padam. Mungkin begitulah cara perempuan memilih takdirnya, dengan memastikan dirinya tetap hidup, walau satu langkah lebih kuat dari semalam. 

Pada akhirnya, Perempuan yang Memesan Takdir menjadi potret perempuan yang terus memilih—meski pintunya sempit, meski jalannya gelap, meski dunia mengingatkan mereka akan keterbatasan setiap hari. Dan di pagi itu, di tengah riuhnya gedung olahraga yang ramai, aku merasa seakan-akan sedang duduk bersama mereka, sama-sama berusaha kuat, tanpa harus selalu terlihat sebagai pemenang.

Identitas buku:

Judul buku: Perempuan yang Memesan Takdir

Penulis: W. Sanavero

Penerbit: Buku Mojok

Jumlah halaman: 100 halaman

Cetakan: Januari, 2022

Foto diri sedang membaca buku:

Tentang penulis:

Ni’ma adalah mahasiswa Sastra Indonesia UNS yang sedang mencoba bermain dengan kata-kata. Baginya, menulis adalah cara menikmati hari. Dia percaya bahwa setiap tulisan adalah jejak dari diri yang sedang tumbuh.

RAK BUKU  adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 1000 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==