Oleh Kiki Pebrianto – Relawan Rumah Dunia
Selama dua hari terakhir, saya ditemani oleh buku Jejak karya Gol A Gong. Buku ini memuat sepuluh cerpen yang mengangkat berbagai pelajaran tentang kehidupan. Dari seluruh cerpen tersebut, ada beberapa cerita yang menurut saya sangat menarik karena mampu membangun imajinasi pembaca melalui alur yang kuat dan penyampaian yang hidup. Namun, ada pula beberapa cerpen yang menggunakan gaya bahasa sastra yang sangat kental sehingga saya sebagai pembaca harus membaca berulang kali untuk memahami alur dan makna yang ingin disampaikan.
Salah satu cerpen yang paling berkesan bagi saya adalah “Suara Sang Bilal”. Cerpen ini mengisahkan dua tokoh, Nasrul dan Iman, yang tinggal di sebuah indekos yang sama. Nasrul dikenal memiliki suara yang sangat merdu, sedangkan suara Iman terdengar biasa saja. Menjelang waktu Subuh, Iman meminta izin kepada Nasrul untuk mengumandangkan azan. Namun, Nasrul menolaknya dengan alasan suara Iman tidak seindah suaranya dan ia tidak ingin mendengar azan dengan suara yang dianggapnya buruk.

Iman menerima penolakan tersebut dengan lapang dada karena ia menyadari kelebihan yang dimiliki Nasrul. Akan tetapi, pada suatu hari ketika Nasrul hendak mengumandangkan azan, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Saat berdiri di depan mikrofon dan menarik napas, suaranya tidak dapat keluar sama sekali. Rahangnya mendadak kaku sehingga ia tidak mampu mengumandangkan azan.
Melihat keadaan tersebut, marbot masjid meminta Iman untuk menggantikan Nasrul. Sejak saat itu, Nasrul mulai dipenuhi prasangka buruk. Ia mengira Iman telah mengguna-gunainya agar tidak lagi bisa menjadi muazin. Rasa iri dan dengki menguasai pikirannya hingga ia tidak rela posisinya digantikan. Puncak cerita terjadi ketika Iman selesai mengumandangkan azan. Dalam luapan amarah dan kecemburuan, Nasrul memenggal leher Iman dari belakang. Akhir cerita yang tragis ini menunjukkan bagaimana rasa iri yang tidak dikendalikan dapat menghancurkan akal sehat dan membawa seseorang pada tindakan yang sangat keji.

Cerpen lain yang juga menarik adalah “Secangkir Teh di Lahore”. Cerita ini mengisahkan seorang penulis bernama Haris yang melakukan riset di Kota Lahore, Pakistan. Penelitiannya berfokus pada jenis pekerjaan yang diminati anak muda, besaran penghasilan mereka, serta bagaimana penghasilan tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah proses riset, Haris bertemu dengan seorang pria bernama Aman yang kemudian mengajaknya berkunjung ke apartemennya. Awalnya, pertemuan itu berlangsung hangat dan penuh percakapan. Namun, seiring berjalannya waktu, Haris mulai merasakan suasana yang janggal. Perasaan tidak nyaman dan firasat akan adanya bahaya membuatnya memutuskan untuk segera meninggalkan apartemen tersebut. Cerpen ini mengajarkan bahwa intuisi dan kewaspadaan sering kali menjadi hal penting yang dapat menyelamatkan seseorang dari situasi yang berbahaya.

Setelah menyelesaikan seluruh cerpen dalam buku Jejak, saya memperoleh berbagai pelajaran hidup yang sejalan dengan tema besar buku ini. Saya belajar bahwa dalam menjalani kehidupan, kita perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika berada di lingkungan baru atau bertemu dengan orang yang belum kita kenal. Selain itu, kita juga harus mampu mengendalikan rasa iri dan dengki, karena kedua sifat tersebut dapat merusak diri sendiri maupun orang lain. Yang tidak kalah penting, kita perlu senantiasa bersyukur atas apa yang telah Allah berikan dan tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Pada akhirnya, buku Jejak bukan hanya menyajikan kumpulan cerita, tetapi juga menghadirkan refleksi yang mengajak pembacanya memahami makna kehidupan dari berbagai sudut pandang.


