Pak Asman itu relawan Rumah Dunia pertama untuk orang tua. Ketika orang-orang kampung belum “ngeh” dengan Rumah Dunia, Pak Asman sudah ikut ngurusi. Anak-anaknya aktif di Rumah Dunia; Deden, Awi, Aini, Sri.
Pak Asman Telah Pergi Selamanya

Dunia Kata, Dunia Imajinasi
Komunitas baca dan tulis

Pak Asman itu relawan Rumah Dunia pertama untuk orang tua. Ketika orang-orang kampung belum “ngeh” dengan Rumah Dunia, Pak Asman sudah ikut ngurusi. Anak-anaknya aktif di Rumah Dunia; Deden, Awi, Aini, Sri.

kegiatan ini bukan hanya sekedar bersih-bersih akan tetapi bertujuan untuk menciptakan rasa tanggung jawab guna menjaga dan merawat kebersihan dan kerapihan Rumah Dunia.

Jika mereka memasang spanduk kegiatan OPD atau kampanye pemenangan karena mendapatkan amplop atau bayaran, tepatnya untuk mengisi dari tenggorokan hingga ke perut, maka kami menempelkan flyer Kelas Menulis Rumah Dunia ini karena sukarelawan untuk memenuhi asupan leher hingga rambut.

Rudi Rustiadi, Presiden Rumah Dunia 2025 2030, dalam sambutannya mengatakan bahwa kunjungan ini lebih tepat disebut study tiru, bukan study banding. “Silakan mengambil sebanyak mungkin pengetahuan dari Rumah Dunia, Mas Gong, dan dari relawan Rumah Dunia lainnya. Tiru apa yang kalian dapatkan dari TBM yang sudah berjalan selama puluhan tahun ini untuk pengembangan TBM Pekijing dan kalian sendiri,” tuturnya.

Aku menulis tentangmu bukan untuk sebuah ratapan atau tangisan. Aku ingin mengambil kembali semangat puisimu yang berserak di belantara teks serta imaji. Aku ingin mengabadikan kenanganmu agar tetap terjaga meskipun kau telah tiada.

Kegiatan iMalabar alias Malam Apresiasi dan Bedah Karya di Rumah Dunia ini terbuka untuk semua kalangan yang ingin mengenal Rumah Dunia dan harapannya diikuti oleh peserta Kelas Menulis Rumah Dunia, baik angkatan pertama hingga sekarang.

Maka, sebetulnya menu utama bersih-bersih bukan nyapu-nyapu dan cabut rumput, tapi kemistri dan transfer wawasan kepenulisan dari relawan sebagai tutor ke peserta menulis. Jika beruntung peserta menulis juga meminta masukan tulisan langsung dari mas Gol A Gong jika sedang ada di rumah.

Dulu, saya adalah anak bungsu yang belajar dari para senior. Sekarang, saya berada di posisi mereka, mencoba melakukan hal yang sama untuk relawan baru.

Aku memberanikan diri untuk membuat sebuah film pertamaku yang selama hampir 3 tahun belum berani membuat film hasil ide dan garapan diri sendiri

Momen yang paling diingat bagi saya tentang Bang Salam, saat menang lomba video pendek juara 3 se-Kota Serang. Beliau tampak semangat mendorong saya untuk naik ke podium.

Terima kasih, Bang. Bang Salam sudah mengajarkan banyak hal. Maaf juga kalau selama jadi relawan belum sepenuhnya mampu jadi seperti yang Bang Salam harapkan.

Terimakasih banyak om Salam, atas semua ilmu yang telah diberikan kepada aku. Tanpamu, aku tidak akan bisa jadi seorang mahasiswa film. Sekali lagi terimakasih banyak. Semoga kebaikan beliau bisa menjadi jalan menuju pintu surga

Hal lain yang harus kita lakukan bersama di Rumah Dunia sepanjang 2025-20230 adalah mendorong kembali terciptanya berbagai buku dan karya tulis di Rumah Dunia seperti di periode awal. Di momen-momen seperti Hari Ulang Tahun Rumah Dunia, Hari Buku, Hari Puisi, dan perayaan yang berkaitan dengan buku dan literasi, saya berharap ada buku yang ditulis oleh keluarga besar Rumah Dunia.

Sayang sekali aku hanya bisa membantu mereka sebentar. Aku tidak mengikuti ini secara full, padahal acara (DADA) merupakan acara yang begitu seru

Bang Salam, di hari kau disalatkan, aku melihat istrimu Dio dan buah hatimu Ozora berdiri di pelataran Masjid, menunggu jamaah lain selesai membacakan doa untukmu. Air Mataku tak bisa kubendung, aku tak bisa berbuat apa-apa, kukecup kening Ozora, anak tampan yang akan meneruskan perjuangan ayahnya di Rumah Dunia.

Kalaupun aku diminta untuk bersaksi, aku tidak sanggup. Aku juga bingung kesaksian atas peristiwa dan kenangan mana yang harus kuceritakan. Tidak ada peristiwa istimewa saat kita bersama. Aku pernah pergi ke laut bersamamu, aku pernah pergi ke hutan, ke bukit, ke pulau juga ke pasar juga bersamamu. Semuanya tidak ada yang istimewa, semuanya sangat istimewa.

Salah satu kenangan paling membekas adalah kebiasaan Abdul Salam menolong orang lemah. Ia pernah memborong dagangan seorang pedagang tua yang sepi pembeli, lalu membagikan dagangan itu kepada kami. Ketika saya bertanya mengapa ia melakukannya, ia hanya menjawab, “Biar bapak/ibunya cepat pulang dan istirahat.”