Detik Akhir Detik Awal 2024: Acaranya di Serang beli kopinya di Pandeglang

Oleh: Dani Yanuar

Inilah sepenggal pengalamanku yang berharga dalam acara Detik Akhir Detik Awal (DADA) Rumah Dunia 2024. Pada hari Senin tepatnya tanggal 30 Desember 2024, pukul 07:00 aku baru saja terbangun dari tidurku, aku mengumpulkan chakra ku terlebih dahulu sebelum beranjak dari kasur.

Sebenarnya aku sudah bangun dari pukul 05:00, setelah sembahyang subuh aku kembali meraih kesuksesan melalui mimpi. Karena kata orang-orang “kesuksesan itu berawal dari mimpi”, akhirnya aku melanjutkan kisah sukses ku dalam mimpi.

Tiba-tiba alarm handphone pun berbunyi, ternyata mimpi sukses ku di hancurkan oleh alarm handphone. Akhirnya aku benar-benar sadar jika sukses itu yah berusaha. Sebelum aku beranjak dari tempat tidur, aku terlebih dahulu mengecek hp ku dan melihat notifikasi WhatsApp dari makhluk yang bernama Fazri. Beliau mengajak aku untuk menjadi panitia di acara Detik Akhir Detik Awal (DADA), aku tidak tahu persis itu acara apa.

Yah daripada nganggur di rumah, akhirnya aku menyetujui ajakan itu, jam 08:00 aku bergegas mandi. Pada pukul 08:15 aku bersiap-siap dari Pandeglang menuju Serang, memanaskan motor dan tidak lupa menyiapkan barang-barang titipan Fazri. Kopi kilat besar 1 bungkus, kopi luwak 1 renceng, dan gula ⅓ semuanya berharga 65.000, harga yang cukup menguras dompet bagi seorang pengangguran.

Pada pukul 09:00 aku bergegas berangkat menuju serang, perjalananku terhenti sejenak di Baros karena ada kesalahpahaman antara aku dengan penguasa jalanan (Ibu-ibu). Ibu-ibu dengan gaya superiornya menyalipku dari sebelah kiri, sedangkan aku shock melihat spionku bergesekan dengan motor ibu-ibu tersebut.

Seketika ibu-ibu itu berhenti dan berbicara padaku, “kalau jalan liat-liat”. Aku dengan ketusnya menjawab “Saya lagi pake motor bu bukan jalan”, ibu itupun kembali berbicara “Kamu udah nyenggol gak sopan lagi, kalau sampe saya kenapa-kenapa mau kamu tanggung jawab”. Akhirnya saya yang harus meminta maaf daripada harus berdebat.

Setelah perdebatan kecil, aku kembali melanjutkan perjalanku menuju komplek hegar alam, setelah sampai di sana aku tidak lupa menelepon Fazri tapi tidak diangkat. Setelah aku menunggu 5 menit di Caffe Rumah Dunia, aku memberanikan diri masuk menuju tempat di mana para relawan Rumah Dunia tinggal dan aku hanya menunggu di depan pagar Rumah Dunia.

Aku tidak sadar, ada Mas Gong yang sedang duduk di halaman Rumah Dunia, aku langsung beranjak turun dari motorku dan bersalaman dengan beliau. Beliau bilang kepadaku “Ayok masuk Fazri ada di dalam”, aku malu-malu kuda dan menjawab “Iyah Mas saya nunggu Fazri di luar saja”.

Namun, Mas Gong memaksaku untuk masuk ke dalam berkumpul bersama teman-teman yang sedang berkumpul menyusun acara Detik Awal Detik Akhir (DADA), Mas Gong memanggil Fazri “Faz ada teman di depan”, Fazri datang dan menyuruhku masuk. Aku mengira Fazri hanya sendiri di sana, namun setelah kulihat ke dalam ternyata ramai sekali.. seketika aku langsung terdiam dan malu. Fazri mengajaku beberapa kali untuk berbaur dengan mereka.

Namun, rasa malu ku ini menggunung, akhirnya dengan lapang dada dan menghilangkan rasa malu aku berbaur bersama mereka. Sayang sekali aku hanya bisa membantu mereka sebentar. Aku tidak mengikuti ini secara full, padahal acara (DADA) merupakan acara yang begitu seru. Yang aku dengar saat rapat, acaranya meliputi launching buku, diskusi, dan pensi. Namun, acara itu harus berganti konsep ketika mendengar kabar Presiden Rumah Dunia, Abdul Salam wafat H-1 acara tersebut.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==