Cerita Tentang Kehilangan Bapak

Aku mendekatinya, mencoba memberikan penghiburan dengan kata-kata sederhana, namun hati ini turut merasakan kesedihannya. Tak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan kehilangan seorang ayah, sosok yang selama ini menjadi pelindung dan pemandu dalam hidupnya. Wajahnya yang lelah menyiratkan pertanyaan yang sama yang ada dalam benakku: Kenapa harus ada kematian?

Kematian. Kata itu bergema dalam pikiranku seperti dentang lonceng yang tak pernah berhenti. Mengapa hidup ini harus berakhir? Kenapa Tuhan menciptakan rasa sedih dan kehilangan ini? Mengapa kebahagiaan tidak bisa abadi? Pertanyaan-pertanyaan ini mengalir, menekan dadaku dengan beban yang tak terlukiskan.

Dalam keheningan itu, aku merenung. Mungkin kematian adalah bagian dari siklus alam yang harus kita terima, meskipun sulit. Tanpa kematian, apakah kita akan benar-benar menghargai kehidupan? Apakah cinta akan terasa sama tanpa ancaman kehilangan? Namun, meski menyadari hal ini, tetap saja rasa sedih itu tak bisa kuabaikan. Kehilangan mengajarkan kita tentang nilai kebersamaan dan kasih sayang yang sering kali kita abaikan dalam kesibukan sehari-hari.

Sore semakin larut, dan cahaya matahari yang redup seolah ikut merasakan duka ini. Tuhan memberikan kita rasa sedih, mungkin, untuk mengajarkan bahwa kita adalah manusia yang rapuh, yang butuh satu sama lain. Kehilangan seorang yang kita cintai mengingatkan kita bahwa setiap momen itu berharga, setiap detik kebersamaan adalah anugerah.

Ketika semakin sore, aku meninggalkan rumah itu dengan perasaan yang campur aduk. Rasa duka tetap ada, tetapi juga ada pemahaman baru. Kematian, meskipun menyakitkan, adalah bagian dari kehidupan. Dalam setiap air mata dan rasa kehilangan, tersimpan pelajaran tentang cinta dan keabadian kenangan.

Dan di sanalah aku berdiri, di tengah malam yang sunyi, masih bertanya-tanya, masih mencari jawaban. Tapi mungkin, seperti kehidupan itu sendiri, pertanyaan tentang kematian bukan untuk dijawab, melainkan untuk dirasakan. Sebuah pengingat bahwa kita hidup, kita mencintai, dan pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada-Nya.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==