Cerpen Anak: Glovera Karya Ahmad Rahsya Athary

Namaku Azka, anak homeschooling berusia 12 tahun. Banyak yang bilang aku cepat marah
dan mudah ngambek, yang membuat mereka tidak mau berteman denganku.

Hari ini, aku pergi keluar untuk bermain karena ibu memaksaku agar tidak terus-menerus
bermain handphone di kamar. Aku pun mengelilingi komplek tempat tinggalku dan sampai di
lapangan sepak bola. Di sana, aku melihat anak-anak seumuranku sedang bermain bola.
Mereka terlihat ribut karena kekurangan satu orang pemain dan bingung harus mengajak
siapa.

Salah satu anak melihatku dan berkata, “Hai yang di sana! Ikut main bola, yuk!”
Entah apa yang terjadi saat itu. Aku, yang biasanya tidak mau ikut bermain bola, kali ini mau
ikut karena sedang bosan. Mereka menyuruhku menjadi kiper karena postur tubuhku yang
lumayan tinggi. Karena kupikir menjadi kiper tidak terlalu susah, aku pun tidak protes dan
langsung bermain.

Lima menit berlalu, pemain tim lawan berhasil melewati pemain bertahan di timku dan
membobol gawang yang kujaga. Seharusnya aku biasa saja, tapi tiba-tiba aku kesal karena
kebobolan dan mulai marah-marah.

“Heh, kalian bisa main nggak sih?” teriakku keras pada mereka.
Mereka terkejut dan mundur beberapa langkah.
“Gak usah marah dong! Ini kan cuma main bola!” sahut salah satu dari mereka.
“Kalau gitu aku gak main lagi, lah! Kalian gak seru!” teriakku lagi.

Dengan perasaan marah dan kesal, aku pun berjalan pergi dari lapangan itu. Aku terus
berjalan sampai akhirnya merasa lelah dan duduk di bawah sebuah pohon besar di sisi lain
lapangan.

Saat aku berdiri dan berbalik melihat ke arah pohon itu, pandanganku tiba-tiba kabur dan
aku tidak bisa melihat apa-apa.

oOo

Mataku terbuka, aku sedang dikerumuni oleh makhluk-makhluk ceria berbentuk gumpalan
yang melayang di udara. Mereka sepertinya mencoba berbicara padaku dengan bahasa
yang tidak kumengerti. Hingga salah satu dari mereka memasangkan kalung berkilau di
leherku.

“Dengan kalung ini, kamu bisa berbicara dengan kami,” seru gumpalan itu.
Saat aku berdiri, aku baru menyadari bahwa aku sedang berdiri di atas batu besar sebesar
komplek rumahku yang melayang tinggi di atas danau. Di sekeliling danau, berdiri
pegunungan yang sangat tinggi. Ada lima batu besar yang melayang bersamaan.

Aku bertanya, “Di mana aku? Kenapa aku ada disini?”
“Nama tempat ini adalah Glovera, tapi kami tidak tahu kenapa kamu ada di sini,” jawab
salah satu dari mereka.
“Kamu berada di sini karena tempat ini memilihmu,” kata seorang gumpalan yang tampak
lebih tua dari yang lain.
“Memilihku? Untuk apa?” tanyaku bingung.
“Untuk ini,” kata gumpalan tua itu sambil menunjuk ke sebuah batu. Di batu itu tertulis:

Bisa baik,
Bisa buruk,
Semua tergantung pada orang asing.

“Maksudmu aku orang asing itu?” tanyaku.
“Ya, kau yang menentukan nasib tempat ini,” kata gumpalan tua itu.
Saat aku masih memikirkan tulisan itu, para gumpalan menarik tanganku menuju jembatan
yang mengarah ke batu terbesar. Di sana ada sebuah istana besar yang sepertinya mustahil
ada di dunia asliku.

Aku pun mengikutinya masuk ke dalam istana.
“Kapan sih kita sampai?” keluhku, sedikit marah.
“Sedikit lagi kok,” jawab salah satu gumpalan, terdengar ketakutan. Yang lainnya pun terlihat
takut.

Tiba-tiba lantai istana bergetar. Gumpalan tua mulai berlari dan berseru, “Cepat sedikit,
orang asing!”

Karena takut tanahnya runtuh, aku berlari mengikuti mereka sampai akhirnya kami tiba di
sebuah ruangan yang berisi kristal besar berwarna ungu yang dirantai kuat.
“Kau membahayakan nyawa ku dan membuatku lari setengah mati cuma untuk melihat
kristal jelek ini?” kataku kesal.

Gumpalan tua itu ingin bicara, tetapi sebelum sempat mengucapkan apa pun, dari dadaku
keluar cairan ungu yang mengalir ke arah kristal dan menyatu dengannya.
“Kita sudah terlambat…” bisik gumpalan tua, membuat yang lain gemetar ketakutan.
DUARR!

Kristal itu meledak, dan pandanganku kembali kabur.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya gumpalan tua.
“Aku baik-baik saja,” jawabku, lalu bangkit berdiri.

Tapi yang kulihat bukan lagi ruangan istana atau alam indah Glovera. Kini semuanya
berubah jadi kehancuran mengerikan. Istana hancur, hanya tersisa serpihan kecilnya yang
terbakar api ungu. Udara terasa panas dan menyesakkan.

Bentang alam yang tadinya indah berubah total: semua tumbuhan layu dan terbakar. Kelima
batu besar melayang kini retak dan siap runtuh ke danau yang telah berubah menjadi lautan
lahar, dikelilingi pegunungan yang hangus terbakar.

Yang paling mengerikan adalah sosok bayangan gelap yang sedang melahap semua
gumpalan.
“Cepat, orang asing! Kalahkan bayangan itu!” seru gumpalan tua yang lemah.
“Bagaimana caranya?” tanyaku ketakutan.
“Bayangan itu adalah bayangan dirimu. Dia adalah kumpulan kemarahanmu selama ini,”
ucap gumpalan tua, lalu memejamkan matanya.

Entah apa yang kupikirkan, aku melompat menyerang bayangan itu. Semua kemarahanku
berubah menjadi energi. Dari dadaku muncul bola berisi kemarahan yang telah kumaafkan,
kemarahan yang selalu ku pendam. Aku mengambil bola itu dan melemparkannya sekuat
tenaga ke arah bayangan.

Saat bola itu mengenai bayangan, ia menyusut lalu meledak. Saat ledakan hampir
menyentuhku, seketika semuanya menjadi putih.
Tiba-tiba mataku terbuka. Aku sedang menatap pohon yang sama di komplekku. Entah apa
yang terjadi di Glovera, tapi sekarang aku merasa berbeda. Aku menjadi lebih tenang dan
tidak mudah marah.

Aku berjalan pulang. Saat melewati lapangan sepak bola, aku meminta maaf pada
anak-anak disana atas kelakuanku sebelumnya. Hatiku terasa lebih lega.
Saat tiba di rumah, aku meminta maaf kepada ayah dan ibu, karena mereka adalah orang
yang paling sering kumarahi tanpa alasan.
Ketika aku masuk ke kamar, di atas tempat tidurku ada sebuah buku berjudul Glovera. Saat
kubuka halaman terakhirnya, tertulis:

Akhirnya bayangan gelap penuh amarah itu meledak hancur saat terkena bola yang
penuh energi baik.
Semua kembali normal.

Istana mulai dibangun kembali dan para gumpalan kembali menjalani hidupnya dengan
bahagia, tapi sang orang asing tak pernah terlihat lagi.

oOo

TENTANG PENULIS: Namaku Ahmad Rahsya Atharya, tapi teman-teman biasa memanggilku Arya. Aku anak 12 tahun yang menjalani homeschooling di PKBM ABHome. Aku suka menulis, menggambar,
bermain gitar, dan bermain bola. Cerita ini adalah tulisan pertamaku. Semoga kalian
menikmatinya!

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==