Orakadut sedang jalan-jalan di mal. Di luar cuacanya panas. Itu sebab dia masuk ke mal bukan dalam rangka belanja tapi nebeng ngadem. Sudah setengah jam dia menyusuri koridor lantai demi lantai.
Pas di depan cafe kapitalis, Orakadut melihat seorang perempuan – tampangnya mahasiswi, sedang membaca buku karyanya yang best seller. Bukunya berjudul: Jika Kau Patah Hati, Bunuh Saja Orang Itu di Imajinasimu.
“Permisi, Mbak,” sapa Orakadut.
“Ya, ada apa?” si Mbak risih.
“Saya yang nulis buku yang Mbak baca.”
Si Mbak tentu tidak percaya. Dia meneruskan membaca bukunya.
“Coba lihat cover belakangnya. Ada foto saya,” Orakadut pantang menyerah.

Si Mbak terpengaruh. Dia membalikkan bukunya. Melihat foto penulis di cover belakang. Melihat beberapa kali ke Orakadut – cover belakang. Dia merasa senang karena bertemu dengan penulis buku yang sedang ia baca.
“Iya, ya. Masnya ini! Wah, ternyata gantengan di fotonya, Mas. Eh, maaf.”
“Nggak apa-apa. Ganteng itu tidak penting. Yang penting….”
“Ganteng itu ya penting, Mas. Ini foto di cover Masnya pake filter, ya.”
“Lupakan soal foto, ganteng, dan filter.”
“Terus, masnya mau ngapain?”
“Gini. Saya mau nagih royalti.”
“Maksudnya?”

“Mbak kan baca buku saya di ruang publik. Jadi, mbaknya harus bayar royalti. Kecuali kalau mbaknya baca buku saya di ruang private.”
“Lho, orang mudeng aku, Mas.”
“Gini. Kegiatan membaca itu kan kegiatan yang bersifat pribadi. Seperti juga agama. Tidak boleh dipamer-pamerkan. Sombong itu namanya.”
“Jadi saya harus baca buku di mana?”
“Ya, di rumah atau di perpustakaan. Kalau di ruang publik, Mbak terkena pajak, karena duduk di cafe. Juga royalti buku saya sebagai penulis. Juga royalti kepada ilustrator covernya, editornya….”

“Security!” si Mbak berteriak berulang-ulang sampai security mal betul-betul datang
Orakadut resmi digiring ke luar mall. Beberapa content creator memberitakannya di medsos hingga sampai ke para penagih royalti di bidang musik.
“Wah, menarik juga ini ide si Orakadut. Mulai sekarang , barang siapa yang membaca buku di ruang publik, kita tagih royaltinya. Kasihan juga si Orakadut. Kita bantu dia” begitu kata pemimpin penagih royalti di musik.
*) Rumah Dunia 28 Agustus 2025


