Rara adalah anak perempuan berusia sepuluh tahun yang tinggal di sebuah desa kecil di pinggir hutan. Ia sangat suka membaca buku cerita, terutama tentang hewan-hewan ajaib dan petualangan seru. Setiap pagi, sebelum pergi sekolah, Rara selalu menyempatkan diri duduk di bawah pohon jambu besar sambil membaca.
Suatu sore, saat Rara sedang duduk sambil menulis di buku hariannya, tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari semak-semak di dekatnya. Rara menoleh dan terkejut melihat seekor burung besar dengan bulu berwarna-warni seperti pelangi mendarat di tanah. Burung itu terluka di sayapnya.
“Wah! Burung apa ini?” tanya Rara pelan.
Burung itu menatap Rara dengan mata bulat besar yang bersinar. Ajaibnya, burung itu bisa bicara!
“Aku Burung Pelangi dari Negeri Awan,” katanya pelan. “Aku dikejar angin badai dan terjatuh. Aku butuh bantuan untuk kembali ke langit.”
Rara membuka mulutnya, terkejut, tapi lalu tersenyum. “Aku akan membantumu!”
Perjalanan Menuju Puncak Gunung
Rara tahu bahwa satu-satunya tempat terdekat yang bisa menjangkau langit adalah Puncak Gunung Pelangi, yang menjulang tinggi di ujung hutan. Tanpa berpikir lama, Rara mengambil ranselnya, memasukkan sedikit roti, air minum, dan selimut kecil, lalu menggendong Burung Pelangi dengan hati-hati.
Perjalanan mereka tidak mudah. Mereka harus melewati sungai kecil dengan jembatan goyah, masuk ke hutan gelap dengan suara-suara aneh, dan mendaki bukit berbatu. Tapi Rara tidak takut. Ia selalu berkata:
“Jangan khawatir, Burung Pelangi. Kita pasti bisa.”
Di tengah perjalanan, mereka bertemu seekor rubah kecil yang tersangkut di semak duri.
“Aku tak bisa keluar,” kata rubah itu. “Tolong bantu aku.”
Rara segera meletakkan Burung Pelangi dan hati-hati melepaskan duri dari bulu rubah. Setelah rubah bebas, ia berterima kasih dan memberikan mereka buah ajaib yang bisa menyembuhkan luka.
“Berikan ini pada sahabatmu,” kata rubah sambil tersenyum.
Rara langsung memberikan buah itu pada Burung Pelangi, dan ajaibnya, sayapnya perlahan mulai sembuh.
Langit yang Menunggu
Setelah berjalan berjam-jam, akhirnya mereka sampai di puncak gunung. Langit tampak dekat sekali di atas kepala mereka, dan awan tampak mengambang seperti gula kapas. Burung Pelangi mengepakkan sayapnya dan tersenyum.
“Aku bisa terbang lagi!” katanya gembira. “Terima kasih, Rara. Kamu berani dan baik hati.”
Tapi sebelum terbang, Burung Pelangi memberikan sebutir batu kecil berkilau pada Rara. “Ini adalah Batu Harapan. Kalau kamu sedang sedih atau butuh bantuan, pegang ini dan panggil namaku.”
Rara memeluk Burung Pelangi, lalu melihatnya terbang tinggi ke langit, meninggalkan jejak warna-warni di langit senja.
Kembali ke Rumah
Rara turun gunung dengan hati ringan. Ia pulang ke rumah tepat saat matahari tenggelam. Ibu dan ayahnya khawatir, tapi Rara menceritakan semuanya.
Mereka tidak sepenuhnya percaya, tapi ketika Rara menunjukkan Batu Harapan yang masih bersinar, mereka hanya bisa tersenyum dan berkata, “Kamu memang anak yang luar biasa.”
Malam itu, sebelum tidur, Rara menulis di buku hariannya:
Hari ini aku bertemu Burung Pelangi. Aku tidak takut menolongnya, dan aku belajar bahwa kebaikan akan selalu kembali. Petualangan ini akan selalu aku ingat, selamanya.”
Dan siapa tahu, mungkin suatu hari nanti… Burung Pelangi akan datang lagi.
🦋 Pesan Moral:
Berani menolong makhluk yang kesulitan, walau kita belum tahu apa yang akan terjadi.
Kebaikan selalu dibalas, kadang dengan cara ajaib.
Keberanian dan empati adalah kekuatan sejati seorang anak.
oOo

TENTANG PENULIS: Nama saya Margareth Cornelya Chrystanti. Cerpen ini adalah karya orisinal saya dan belum pernah diterbitkan di media mana pun. Salam sastra. Media sosial (Instagram):rer3tha

CERPEN ANAK: Mulai Juni 2025 ada kategoi baru, yaitu Cerpen Anak. Tayang dua mingguan Setiap Sabtu, bergantian dengan CERPEN SABTU. Penulisnya khusus untuk anak-anak usia SD dan SMP; dia bisa saja anak kita, keponakan kita, muid-murid kita di sekolah atau cucu kita. Panjang cerpen anak cukup antara 500 – 1000 kata. Redaksi menyediakan honorarium Rp 100.000,- Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri atau ChatGPT. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Anak. Ayo, ditunggu. Silakan dikirim. Edisi perdana 7 Juni 2025. Jangan sampai ketinggalan.



