Cerpen Gol A Gong: Si Cantik Jembatan Merah

“Antar saya ke jalan kamboja, Bang…,” suaranya ibarat dua besi yang saling bergesekan.
Di depan Burhan berdiri seorang perempuan cantik, berpakaian baju tidur serba putih. Rambutnya panjang, bibirnya merah berleleran darah, kedua matanya putih tanpa bola mata.

Burhan memaklumi jika orang-orang yang melintasi jembatan merah ini akan lari ketakutan saat bertemu dengan si cantik ini.

Foto Suara Surabaya

“Ke jalan kamboja…”
“Kenapa tidak pesan ojek online saja?” Burhan terus meneliti sosok yang sudah sebulan ini muncul di jembatan merah dan jadi perbincangan hangat. Orang-orang kampung mulai memanggilnya dengan sebutan “si Manis Jembatan Merah”.

“Antar saya ke jalan kamboja, Bang…,” suaranya semakin menderit dan mendekati Burhan. Mulutnya terbuka dan darah muncrat.

“Bagaimana kalau saya antar ke kantor polisi?” Burhan turun dari motornya.
“Ke jalan Kamboja, Bang,” si cantik jembatan merah yang tadinya hendak mendekati Burhan berhenti.

Foto Suara Surabaya

“Bagaimana? Ikut dengan saya ke kantor polisi?”
Burhan memberi tahu si cantik jembatan merah, bahwa sudah 3 laporan masuk ke Polsek. Semua korban menjelaskan hal sama, lari ketakutan melihat sosok si cantik jembatan merah ini. Tapi ketika kembali ke lokasi, mereka tidak menemukan motornya.

“Motornya kamu bawa ke kuburan? Kamu pake buat balapan?” Burhan terus merangsek.
Si cantik jembatan merah melompat mundur.
“Kamu pikir saya bodoh!” Burhan menyerbu.

Hantu cantik itu terjengkang ke belakang dan rebah di tanah. Burhan langsung mengunci dan memborgol lengan si cantik jembatan merah. Dia membuka topengnya!

“Andi?” Burhan kaget. “Kau, Andi!” Burhan berdiri dan menendang tubuh Andi. Dia mengambil HP dan melapor ke markas.

Foto Jawa Pos

Andi adalah temannya semasa SMA. Andi memilih kuliah film dan mempelajari dunia artistic. Dia seak SMA memang senang mengurusi artistik panggung jika ada pesta prom night.

“Sorry, Han. Gue kena PHK. Covid-19 memang brengsek. Gue nggak punya cara lain,” Andi membungkuk.

“Bangsat lu! Bikin gue puyeng!” Burhan mengambil kayu yang tergeletak di pinggir jalan.
“Gue punya anak, Han. Mau masuk SD. Please,” nadanya menghiba.
“Pukul gue! Cepetan! Terus lu kabur dari kampung ini! Jangan pernah kembali lagi sebagai si cantik jembatan merah!”

Foto Tempo.co

Andi langsung mengambil kayu dan mengayunkannya ke kening Burhan.
“Gila lu! Keras banget!” Burhan limbung dan tersungkur. Dia masih bisa melihat bayangan tubuh Andi yang melarikan diri ke pinggiran jembatan merah.

Sayup-sayup terdengar suara sirine mobil patrol. Beberapa orang turun dan memapah tubuh Burhan. *

*) Serang 7 Desember 2022. Cerpen jenis ini biasanya disebut fiksi mini. Terkumpul di antologi “50 Fiksi Mini Pilihan” terbitan SIP Publishing, Desember 2022

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==