Cerpen Rumah Dunia: Mawar Tanpa Kelopak

selective focus photo of red rose

“Pur, Pur, Purnomo!” Dengan kesal ia menyepak kaki Purnomo.  Bagaimana mungkin suara kencang yang memanggil namanya tak dihiraukan. 

“Sialan Kau!” 

“Lihat, itu Mawar.” Sukmo mengaitkan kepala Purnomo di ketiaknya,  membuat pandangan Purnomo teralihkan pada gadis yang sedang berjalan di  lorong gang. 

Mawar namanya. Kembang desa yang namanya tersohor sampai ke desa  sebelah. Lelaki manapun akan jatuh cinta hanya dengan pandangan pertama.  Suara langkah terdengar semakin dekat, berpacu dengan suara jantung Purnomo yang berdentang kencang bak sedang perang. 

Purnomo merasa terpaku di tempatnya, bagaimana mungkin wanita yang  sedang berlari di dalam pikiran bisa muncul di hadapannya. Ini seperti mustahil  dalam sejarah hidupnya. Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa hal ini  membuat Purnomo senang bukan kepalang. 

Rambut panjang hitam tergerai jatuh di pundak wanita berkulit langsat itu,  lesung pipitnya terlihat jelas saat Ia tertawa dengan temannya. 

“Mawar, Purnomo mau jadi suamimu,” ucap Purnomo saat Mawar  berlajan di depan pos ronda yang sedang ditempati Sukmo dan Purnomo.

“Najis.” Lirikan tajam diberikan oleh pemilik mata berwarna cokelat itu.  Hidung mancungnya mengembuskan napas kesal.  

Bagaimana mungkin lelaki pengangguran yang tak memiliki masa depan  ingin menjadi suaminya. Lancang sekali lelaki itu, untuk makan sehari-haripun  susah, mana mungkin pengangguran mampu memberikan kehidupan yang layak  dan berkelas untuknya. Pikir Mawar. 

“Selama ini, hanya lelaki yang memiliki kebun, tahan yang luas, dan sawah berhektar-hektar yang bisa mendekatiku. Tapi, tiba-tiba saja ada lelaki yang  hanya bermodalkan kelamin berani ingin menjadi suamiku. Cuih.” 

Darah yang mengalir di dalam tubuh Purnomo terasa mendidih, membuat  warna kulit wajahnya seperti udang rebus. Mendengar kata-kata menyakitkan dari  mulut wanita yang dicintainya, membuat rasa cinta itu hangus terbakar tanpa sisa.  Purnomo tak menyangka bagaimana mungkin bibir mungil itu mampu  melontarkan kalimat yang begitu kejam. 

Gadis berbulu mata lentik itu menggandeng tangan temannya, langkah  kakinya mengayun cepat meninggalkan pos ronda. Ia tak peduli meski lelaki itu  sakit hati atas ucapannya. Ia mengganggap lelaki itu gila, karena bermimpi  menjadi suaminya. 

“Mawar, bukankah sikapmu terhadap Purnomo itu keterlaluan?” tanya  gadis yang berjalan dengan Mawar. 

“Aku ga peduli, lelaki tanpa punya rasa malu itu harus disadarkan!” 

Purnommo menyaksikan kepergian wanita yang menjadi dambaan hatinya.  Ah, tidak. Lebih tepatnya yang pernah menjadi dambaan hati. Kedua tangan  Lelaki berkulit sawo matang itu mengepal, urat tangannya terlihat menonjol.  

“Akan Kubuat Kau bertekuk lutut kepadaku, Mawar!” Purnomo  menggenggam tanah yang tadi dicudahi Mawar. Pandagannya tajam, seakan ingin  menumpahkan api yang ada di dalam dadanya. 

Purnomo meminta Sukmo mengantarnya ke suatu tempat. Sukmo terus  berjalan mengikuti langkah temannya yang semakin cepat. Bulu kuduknya berdiri,  suara binatang malam saling sahut-menyahut. Sesekali lelaki bertubuh gempal itu  memegang erat kaus Purnomo. Ia sudah meminta pulang, tapi Purnomo tak  mengindahkan permohonannya. 

Cahaya purnama terlihat dari celah dedaunan, di hutan semakin kehilangan  sumber penerangan. Tak jarang, kaki mereka tersandung tumbuhan liar dan bebatun. Pandangan mereka semakin sulit karena hanya mengandalkan cahaya  dari senter gadget yang hampir kehabisan daya.  

“Ini tempatnya.”

“Pur, lebih baik kita pulang saja. Ingat dosa, Pur.” 

“Hujanan duri yang kuterima. Akan kubuat Mawar menuainya. Jika Kau  ingin pulang, pulang saja sendiri.” 

“Aku takut pulang sendiri, Pur. Di sini gelap banget, mana aku ngga tau  jalan pulang. Aku tetap di sini aja. Tapi, aku ngga mau ikut tanggung jawab sama  apa yang kamu lakuin ke Mawar.” 

Lelaki yang sudah bertekad membalas rasa sakit atas penolakan yang Ia  terima itu menggelar sarung yang diambil dari pos ronda. Kedua kakinya duduk  sila menghadap pohon besar yang tersohor dengan kramat. Kelopak matanya  menutup, tangannya menggenggam tahan yang telah diludahi Mawar. 

person holding red rose
Photo by Hassan OUAJBIR on Pexels.com

“Mawar Widuri binti Tan. Ingsun minta aji ajiku jaran goyang.” 

Mulut lelaki berkumis tipis itu komat-kamit, mengucapkan kalimat kalimat yang tak dipahami Sukmo. Sukmo tak peduli apa yang dilakukan  Purnomo, yang jelas Sukmo hanya ingin pulang. Tangannya memukul bagian  tubuh yang terasa gatal dan panas, hampir seluruh tubuhnya digigiti nyamuk alas. 

Hampir satu jam Purnomo melakukan ritual yang menurut Sukmo aneh,  akhirnya hal itu selesai. Di perjalanan pulang, wajah Purnomo terus melukiskan  senyuman seperti orang gila. Sesampainya di rumah, Purnomo tidur dengan  nyenyak. 

Kelambu malam sudah dibuka, sinar hangat menyusup dari bilik jendela.  Sayup-sayup suara yang memanggil namanya mulai terdengar.  

“Mas, Mas Purnomo.” 

Purnomo membelakakan matanya, tak percaya dengan apa yang ada di  hadapannya. Sosok yang selama ini dimimpikan, kini berada di kamarnya. Wajah  mungil ayu itu bisa ia belai dengan nyata. Duri-duri dari mulut wanita itu telah  hilang, berganti menjadi madu yang memabukan. 

Kini, kabar Mawar Sang Kembang Desa jatuh cinta kepada Purnomo  sudah tersebar dari mulut ke mulut. Gadis berkelas yang dielu-elukan lelaki  mapan kini telah hilang mahkota di tangan Purnomo. Sejagat antreo sudah tahu  bahwa lelaki itu menggunakan pelet untuk membat Mawar tergila-gila padanya.  

Sabit di wajah Purnomo tal pernah hilang, Ia merasa bangga karena  mampu memikat Mawar dalam dekapannya. Setelah Mawar menghinanya, kini ia  bisa membalaskan rasa sakit penghinaan itu. 

“Purnomo! Mas! Mas Purnomo!”

Wanita dengan rambut awut-awutan itu berlari keliling desa tanpa  mengenakan pakaian. Tubuhnya yang dulu molek kini telah berubah, perutnya  semakin membesar. Label Kembang Desa tak lagi disematkan pada dirinya. 

“Biar tau rasa, dulu sombong banget.” 

“Purnomo hanya menikmati indah tubuhnya, terus pergi gitu aja tanpa  nikahin Mawar.” 

“Bukannya dia di pasung di rumahnya, ko’ bisa kabur, ya.” 

“Serem banget si Mawar.” 

Sekumpulan Ibu-ibu terlihat menikmati bangkai yang bagi mereka lezat,  mereka saling berebut mengambil santapan di depannya. 

Mawar Widuri, Mawar yang Memudar di antara harapan. Kelopaknya  terjatuh di tanah tandus. Sisa keindahan yang kini kelabu. Dahulu harum, kini  hanya bisu.

Tulisan ini adalah hasil dari Workshop Menulis Cerpen untuk Pemuda Kota Serang yang diselenggarakan Rumah Dunia bekerjasama dengan Badan Bahasa Kemendikbudristek pada Sabtu, 12 Oktober 2024.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==