“Pur, Pur, Purnomo!” Dengan kesal ia menyepak kaki Purnomo. Bagaimana mungkin suara kencang yang memanggil namanya tak dihiraukan.
“Sialan Kau!”
“Lihat, itu Mawar.” Sukmo mengaitkan kepala Purnomo di ketiaknya, membuat pandangan Purnomo teralihkan pada gadis yang sedang berjalan di lorong gang.
Mawar namanya. Kembang desa yang namanya tersohor sampai ke desa sebelah. Lelaki manapun akan jatuh cinta hanya dengan pandangan pertama. Suara langkah terdengar semakin dekat, berpacu dengan suara jantung Purnomo yang berdentang kencang bak sedang perang.
Purnomo merasa terpaku di tempatnya, bagaimana mungkin wanita yang sedang berlari di dalam pikiran bisa muncul di hadapannya. Ini seperti mustahil dalam sejarah hidupnya. Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa hal ini membuat Purnomo senang bukan kepalang.
Rambut panjang hitam tergerai jatuh di pundak wanita berkulit langsat itu, lesung pipitnya terlihat jelas saat Ia tertawa dengan temannya.
“Mawar, Purnomo mau jadi suamimu,” ucap Purnomo saat Mawar berlajan di depan pos ronda yang sedang ditempati Sukmo dan Purnomo.
“Najis.” Lirikan tajam diberikan oleh pemilik mata berwarna cokelat itu. Hidung mancungnya mengembuskan napas kesal.
Bagaimana mungkin lelaki pengangguran yang tak memiliki masa depan ingin menjadi suaminya. Lancang sekali lelaki itu, untuk makan sehari-haripun susah, mana mungkin pengangguran mampu memberikan kehidupan yang layak dan berkelas untuknya. Pikir Mawar.
“Selama ini, hanya lelaki yang memiliki kebun, tahan yang luas, dan sawah berhektar-hektar yang bisa mendekatiku. Tapi, tiba-tiba saja ada lelaki yang hanya bermodalkan kelamin berani ingin menjadi suamiku. Cuih.”
Darah yang mengalir di dalam tubuh Purnomo terasa mendidih, membuat warna kulit wajahnya seperti udang rebus. Mendengar kata-kata menyakitkan dari mulut wanita yang dicintainya, membuat rasa cinta itu hangus terbakar tanpa sisa. Purnomo tak menyangka bagaimana mungkin bibir mungil itu mampu melontarkan kalimat yang begitu kejam.
Gadis berbulu mata lentik itu menggandeng tangan temannya, langkah kakinya mengayun cepat meninggalkan pos ronda. Ia tak peduli meski lelaki itu sakit hati atas ucapannya. Ia mengganggap lelaki itu gila, karena bermimpi menjadi suaminya.
“Mawar, bukankah sikapmu terhadap Purnomo itu keterlaluan?” tanya gadis yang berjalan dengan Mawar.
“Aku ga peduli, lelaki tanpa punya rasa malu itu harus disadarkan!”
Purnommo menyaksikan kepergian wanita yang menjadi dambaan hatinya. Ah, tidak. Lebih tepatnya yang pernah menjadi dambaan hati. Kedua tangan Lelaki berkulit sawo matang itu mengepal, urat tangannya terlihat menonjol.
“Akan Kubuat Kau bertekuk lutut kepadaku, Mawar!” Purnomo menggenggam tanah yang tadi dicudahi Mawar. Pandagannya tajam, seakan ingin menumpahkan api yang ada di dalam dadanya.
Purnomo meminta Sukmo mengantarnya ke suatu tempat. Sukmo terus berjalan mengikuti langkah temannya yang semakin cepat. Bulu kuduknya berdiri, suara binatang malam saling sahut-menyahut. Sesekali lelaki bertubuh gempal itu memegang erat kaus Purnomo. Ia sudah meminta pulang, tapi Purnomo tak mengindahkan permohonannya.
Cahaya purnama terlihat dari celah dedaunan, di hutan semakin kehilangan sumber penerangan. Tak jarang, kaki mereka tersandung tumbuhan liar dan bebatun. Pandangan mereka semakin sulit karena hanya mengandalkan cahaya dari senter gadget yang hampir kehabisan daya.
“Ini tempatnya.”
“Pur, lebih baik kita pulang saja. Ingat dosa, Pur.”
“Hujanan duri yang kuterima. Akan kubuat Mawar menuainya. Jika Kau ingin pulang, pulang saja sendiri.”
“Aku takut pulang sendiri, Pur. Di sini gelap banget, mana aku ngga tau jalan pulang. Aku tetap di sini aja. Tapi, aku ngga mau ikut tanggung jawab sama apa yang kamu lakuin ke Mawar.”
Lelaki yang sudah bertekad membalas rasa sakit atas penolakan yang Ia terima itu menggelar sarung yang diambil dari pos ronda. Kedua kakinya duduk sila menghadap pohon besar yang tersohor dengan kramat. Kelopak matanya menutup, tangannya menggenggam tahan yang telah diludahi Mawar.

“Mawar Widuri binti Tan. Ingsun minta aji ajiku jaran goyang.”
Mulut lelaki berkumis tipis itu komat-kamit, mengucapkan kalimat kalimat yang tak dipahami Sukmo. Sukmo tak peduli apa yang dilakukan Purnomo, yang jelas Sukmo hanya ingin pulang. Tangannya memukul bagian tubuh yang terasa gatal dan panas, hampir seluruh tubuhnya digigiti nyamuk alas.
Hampir satu jam Purnomo melakukan ritual yang menurut Sukmo aneh, akhirnya hal itu selesai. Di perjalanan pulang, wajah Purnomo terus melukiskan senyuman seperti orang gila. Sesampainya di rumah, Purnomo tidur dengan nyenyak.
Kelambu malam sudah dibuka, sinar hangat menyusup dari bilik jendela. Sayup-sayup suara yang memanggil namanya mulai terdengar.
“Mas, Mas Purnomo.”
Purnomo membelakakan matanya, tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Sosok yang selama ini dimimpikan, kini berada di kamarnya. Wajah mungil ayu itu bisa ia belai dengan nyata. Duri-duri dari mulut wanita itu telah hilang, berganti menjadi madu yang memabukan.
Kini, kabar Mawar Sang Kembang Desa jatuh cinta kepada Purnomo sudah tersebar dari mulut ke mulut. Gadis berkelas yang dielu-elukan lelaki mapan kini telah hilang mahkota di tangan Purnomo. Sejagat antreo sudah tahu bahwa lelaki itu menggunakan pelet untuk membat Mawar tergila-gila padanya.
Sabit di wajah Purnomo tal pernah hilang, Ia merasa bangga karena mampu memikat Mawar dalam dekapannya. Setelah Mawar menghinanya, kini ia bisa membalaskan rasa sakit penghinaan itu.
“Purnomo! Mas! Mas Purnomo!”
Wanita dengan rambut awut-awutan itu berlari keliling desa tanpa mengenakan pakaian. Tubuhnya yang dulu molek kini telah berubah, perutnya semakin membesar. Label Kembang Desa tak lagi disematkan pada dirinya.
“Biar tau rasa, dulu sombong banget.”
“Purnomo hanya menikmati indah tubuhnya, terus pergi gitu aja tanpa nikahin Mawar.”
“Bukannya dia di pasung di rumahnya, ko’ bisa kabur, ya.”
“Serem banget si Mawar.”
Sekumpulan Ibu-ibu terlihat menikmati bangkai yang bagi mereka lezat, mereka saling berebut mengambil santapan di depannya.
Mawar Widuri, Mawar yang Memudar di antara harapan. Kelopaknya terjatuh di tanah tandus. Sisa keindahan yang kini kelabu. Dahulu harum, kini hanya bisu.

Tulisan ini adalah hasil dari Workshop Menulis Cerpen untuk Pemuda Kota Serang yang diselenggarakan Rumah Dunia bekerjasama dengan Badan Bahasa Kemendikbudristek pada Sabtu, 12 Oktober 2024.


