Cerpen Sabtu: Batu Pindah

             Usai menabrak angin sepanjang dua jam perjalanan dari kampungnya di wilayah Bungbulang, dan memarkir motor Vario 150 cc-nya di sebuah warung kopi tepi jalan, ia segera menembus jalan menuju bibir hutan. Kamera smartphone di ujung tongsisnya, mengikuti langkah Nizar, membuat dunia dalam kotak yang berjalan menyusuri jalan setapak terjal menuju bahu sungai.

            Pada sebuah batu besar agak datar, ia menarik kaki-kaki mungil yang terbentuk dari ujung tongsinya yang merangkap tripod. Ia mundur beberapa langkah dan mulai berbicara untuk pembuka video Youtube-nya. Sebuah pekerjaan lain yang berhubungan dengan kegiatannya sebagai penggali akik. Dalam empat tahun, akunnya, Cerita Rimba, telah manarik 2 juta lebih subscriber dan jutaan jam tayang. Sarang rezeki lain yang tak diduganya.

            Dia kembali melanjutkan misi berbahayanya yang menyenangkan. Ia menyusuri betis sungai, menggali dengan linggis kecilnya, mencuci akik temuannya pada aliran air, menerawang tingkat kekristalan batu, meyakinkan calon pemirsa tentang kompoisisi warna batuan dan keunikannya, lalu menyimpannya pada karung plastik. Setiap ada bonglahan akik yang menarik, ia mengarahkan kameranya lalu berbicara laiknya seorng reporter.

            Ia terus berburu. Memakan jam dan detik sepanjang langkahnya. Matahari dan awan membantunya menemukan batuan mana yang harus ia ambil. Termasuk ketika empat jam kemudian dari 200 meter medan pencariannya ia melihat bercak cahaya keemasan pada batuan pinggir goa. Sepatu bootnya segera menyeruakkan aliran air dan pasir, lalu senyumnya mengembang saat menemukan bongkahan besar yang membuatnya takjub. Ini akik yang lebih indah dibanding ratusan penemuan sebelumnya. Tangannya segera membasuh paras batu hijau berurat tembaga klep dan butiran selasih keemasan itu, meraba sekelilingnya, menyorotnya dengan senter kecil lonjong, memeluknya seperti saat ia menemukan kebahagaiaan pada tubuh Neng Sarti, pacar lama yang sudah berkali-kali mengajaknya ke pelaminan.

            Dia terlalu berbulan madu dengan hatinya. Ia tak sadar, kamera yang menyala pada tripodnya, juga merekam sosok serupa bayangan yang tengah mengamatinya.pada celah-celah pohonan tua dan batuan sebesar menhir.

                                                        

            Batu unik seberat 30 kilogram itu ia letakkan di atas meja kayu dekat laptopnya. Ia mengambil beberapa foto yang dianggapnya lebih jernih. Diambilnya beberapa sudut, menata komposisi terbaik, sambil mengatur pencahayaan dengan lampu duduk. Biasanya ia  segera mengedit video perjalanannya dan mengunggahnya ke akun yotube-nya. Namun kali ini, ia memilih menyebarkan beberapa foto batuan baru itu ke beberapa nomor kolektornya. Ia baru beranjak ke lautan mimpi menjelang larut malam, setelah menyantap nasi goreng spesial buatan ibunya, dan membaca beberapa komentar kolektor yang ingin mengoleksinya.

            Menjelang pagi memanjangkan bayangan pepohonan dan pagar-pagar bambu, Dia bergegas menuju kamar kerjanya yang dipenuhi bongkahan, lempengan, dan losstone akik. Ia mengucek matanya puluhan kali. Tak yakin dengan permukaan mejanya yang kosong. Ia melihat sekeliling meja dan sekitar kamarnya, namun batu yang semalam ai simpan itu raib.

            Ia bergegas ke dapur yang diterangi bara api pada hawu.

            “Mak, mindahkeun batu yang di atas meja?” 

            Ibunya terdongak, menatap heran,”Ya enggak, atuh! Buat apa?”

            Dia menggaruk kepalanya. Ya, buat apa pula ibunya yang semalam ikut terbelalak saat ia memotret, mau memindahkan batu seberat 30 kilo itu, sadar Nizar. “Bapak di mana, Mak?”

            “Masih tidur. Tadi subuh baru pulang ngeronda!”

            “Atau Bapak memindahkannya, Mak?” Nizar Alvaro memperlihatkan kepanikan.

            “Ya, nggak tahu. Tapi, rasanya Emak lihat bapakmu langsung tidur!”

            Dia terdiam. Menarik dan menghembuskan napas kecemasannya. Ia berbalik lalu setengah berteriak memanggil adiknya,”Nah…Onaahhh!”

            Jawabannya terdengar dari teras. Nizar Alvaro segera melintasi ruang tengah, lalu setengah terbang menerjang pintu meski bukan untuk menghirup udara pagi.

             Keningnya berkerut. Rasa herannya tumbuh.

            “Ini batu apa, Aa? Besar dan indah pisan!” ujar Onah yang tengah mengamati batu akik besar yang bertahta di atas meja marmer warisan keluarga kakek mereka.

            “Jeh…kenapa kamu bawa batu dari kamar kerja Aa, ke sini?”

            “Yey, ditanya malah nuduh! Sebesar ini mah, mana tahan atuh!”

            Hingga Tengah hari, rasa heran itu kemudian telah mampu dibunuhnya. Ia segera mengemas akik itu, setelah tawaran tertinggi dari seorang kolektor disetujuinya, dan bukti transfer telah diterimanya.

            “Wah, tiga ratus juta? Ini setara batu Bacan Palamea Nizar!” tawa ayahnya, memupus rasa heran dan menghindari perdebatan kecil tentang siapa yang memindahkan batu itu dari kamar ke teras.

                                                           

            Empat hari kemudian Nizar Alvaro mengajak bapak, ibu, dan adiknya menikmati santapan di sebuah rumah makan besar di jantung kota Garut yang terkenal dengan nasi liwetnya.  Saat menunggu pesanan telponnya mengirimkan nada dering. Sang kolektor yang telah membeli batunya itu terdengar berbasa-basi sebentar, lalu mengabarkan hal yang membuat keningnya berkerut dan jantungnya terpompa cukup hebat. Perbincangan tanpa kabel yang mengejutkannya itu, berlangsung hampir satu jam, dan menghasilkan perjanjian baru.

            Saat menikmati sajian, lalu dalam perjalanan mobil sewaan, hingga tiba Kembali di rumah, dia masih melahap keterkejutannya sendirian. Rahasia itu baru ia buka keesokan paginya, termasuk munculnya sosok aneh yang samar terlihat di balik pepohonan dalam video terakhirnya.

            “Kita kembaikan saja ke tempat semula!” ujar sang bapak, usai memamah secara bijak semua penjelasan Nizar Alvaro.

            Maka, dua hari setelah paket batu pengembalian dari sang kolektor itu tiba, ditemani bapaknya, bergegas dibawanya batu itu kembali ke tempat asalnya.

            Usai meletakkan batu itu dekat goa pinggir sungai, dengan khidmat  disimakn saya saja semacam rajah dan do’a-do’a yang dilantunkan bapaknya. Antara takut dan haru, kepalanya kembali memutarkan ingatannya, tentang bagaimana batu itu berpindah-pindah tempat, dari satu ruangan ke ruangan lain, seperti disampaikan sang kolektor.

Dan tepat saat Nizar Alavaro mengusap muka dengan kedua jarinya, menutup do’anya, terdengar ringkik kuda yang samar menerjang batuan dan air Sungai, lalu berderap menerobos semak dan pepohonan. Sesaat, Nizar Alvaro melihat sosok samar yang terguncang-guncang, berkelebat, lalu menghilang ke atas bukit.           

Bandung, Pebruari 2024.

TENTANG PENULIS: Eriyadi Budiman lahir di Tasikmalaya, 2-3-1966. Alumni KIP/UPI Bandung Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia ini menulis esei, puisi, cerpen, dan feature di berbagai media massa lokal dan nasional. Novelnya, Amora Magma mendapat penghargaan di Rainy Days Banjarbaru International
Literary Festival 2019 dan Nominasi Kawistara Balai Bahasa Jawa Barat 2023. Kini menetap di
Bandung. Selain menulis juga bergerak dalam kegiatan literasi, dan menjadi fasilitator perpustaakan
daerah hingga Taman bacaan Masyarakat (TBM). Alamat, Jl. Kp, Babakan No. 48B, RT 03/RW06,
Desa Cangkuang, Kecamatan Cangkuang, Kab. Bandung. Kode Pos : 40377. NIK;Hp. 082117112448.

REDAKSI CERPEN MINGGU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor WA dan rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==