Gadis itu hanya bisa berbaring. Matanya tertutup, tetapi mengeluarkan bulir-bulir bening yang membasahi kedua pipinya. Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan bintik-bintik agak besar dan kemerahan.
Mata Sinta tampak sembab, entah sudah berapa lama dia menangisi teman seperjalanannya tiba-tiba terjangkit penyakit yang sangat aneh. Gadis yang mengenakan baju lengan panjang berwarna putih dan celana panjang bahan berwarna hitam itu mengungsi sementara di salah satu rumah penduduk sekitar. Seorang ibu paruh baya mengusap-usap punggung Sinta sembari mengipasinya dengan kipas tangan yang terbuat dari bambu.
“Bu, maafin saya dan Dewi, ya.” Suara Sinta terdengar lirih.
Ibu paruh baya itu menggeleng. “Nggak apa-apa, Neng. Namanya juga musibah nggak ada yang tahu.”
Sinta benar-benar tidak menyangka momen liburan mereka berujung memilukan. Mereka sengaja memilih desa itu ketika libur kuliah lantaran pemandangan alamnya masih asri. Tidak perlu menginap di villa ataupun hotel, cukup mendirikan tenda saja di tanah lapang yang tersedia.
***
Padarincang, sebuah kecamatan di Kabupaten Serang, menyimpan pesona tersendiri. Terletak di sisi selatan dari pusat Kota Serang, wilayah ini menyapa dengan hamparan sawah hijau yang membentang luas dan diselingi pepohonan rindang yang menjulang tinggi. Udara sejuk khas pedesaan menyapa setiap pengunjung membawa ketenangan dan kesegaran.
Di tengah hamparan hijau itu, rumah-rumah penduduk berjajar rapi dengan arsitektur khas Banten yang sederhana dan menawan. Di beberapa sudut, terlihat surau-surau tua dengan arsitektur klasik, menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan kentalnya nilai religius masyarakat setempat.
Di pagi hari, Padarincang dipenuhi dengan aktivitas para petani yang sibuk menggarap sawah. Suara gemericik air irigasi dan kicauan burung menciptakan melodi alam yang menenangkan. Di sore hari, suasana berubah menjadi lebih tenang, dengan anak-anak yang bermain di lapangan, para ibu yang sibuk memasak di dapur, dan para lelaki yang duduk santai di teras rumah sembari menikmati secangkir kopi.
Namun, siapa sangka, dibalik keindahan alam yang terhampar, ada mitos yang masih dipercayai oleh warga sekitar. Konon, di sana terdapat mahluk gaib yang melegenda. Namanya Setan Nganji. Sekumpulan mahluk gaib yang kawin di tempat-tempat sepi atau angker.
Barangsiapa yang melewati tempat para mahluk gaib sedang kawin, dia akan ketempelan, bahkan sekujur tubuhnya timbul bintik-bintik agak besar, kepala terasa sakit, dan memuntahkan cairan merah. Jika ingin kembali pulih, cara mengobatinya adalah berlari di tengah malam dalam keadaan tanpa sehelai kain.
Mendengar mitos itu dari salah satu warga, Dewi justru tertawa. Bagaimana caranya kita tahu bahwa ada mahluk gaib yang sedang kawin? Wujudnya saja tidak ada. Kalau ada manusia yang melewati tempat mereka bersenang-senang, tentu bukan salah kita.
“Kok, ada, ya, hantu sesensitif itu? Manusia nggak salah apa-apa, malah mereka sewot.” Dewi tertawa-tawa saat hanya berdua dengan Sinta di tenda.
Sebenarnya, Sinta pun tergelitik saat mendengar mitos itu. Namun, dia tidak seekspresif temannya. Dia cukup memendamnya sendiri. Sebab, dia pun takut akan terjadi sesuatu, apabila bertindak tidak sopan di desa orang.
Suatu malam, Dewi berkata bahwa dia ingin membeli camilan di warung. Memang saat itu posisinya mereka sudah kehabisan camilan. Karena gadis itu sudah terbiasa bepergian sendiri, dia pun tidak mengajak Sinta. Dewi berjalan sendirian di pematang sawah yang hanya diterangi rembulan. Suara gemericik air irigasi yang tadi siang menenangkan, kini justru membuat bulu kuduknya meremang di tengah kesunyian malam.
Lima belas menit kemudian, Dewi kembali ke tenda dalam keadaan wajah yang timbul bintik-bintik agak besar. Seketika tubuhnya ambruk. Lama-lama bintik-bintik itu menjalar ke seluruh tubuh. Dia juga mengeluh kepalanya terasa begitu sakit.
Sinta langsung membalurkan minyak aroma terapi, bedak, apa pun itu untuk penanganan pertama Dewi. Sinta lantas pergi ke rumah salah satu warga di desa itu untuk meminta bantuan.

Di situlah mereka sekarang. Dewi masih berbaring dalam kondisi yang memilukan. Bahu Sinta berguncang hebat, pandangannya pada Dewi mengabur saat menyaksikan teman seperjalanannya mendapat nasib buruk.
“Neng, cara biar Neng Dewi sembuh adalah harus lari di tengah malam dalam keadaan tanpa pakaian. Itu cara satu-satunya, Neng.”
Sinta makin terisak. Bagaimana mungkin gadis ceria itu melakukan ritual yang tidak masuk akal? Bukankah akan bertambah parah?
“Neng, jangan dibiarin terlalu lama. Keadaan ini bakal makin buruk, kalau nggak segera diobati.” Sang ibu paruh baya makin mendesak.
Sinta sudah pasrah. Bagaimanapun pengobatannya, yang penting temannya bisa kembali seperti sedia kala.
***
Langit begitu gelap. Hanya ada pancaran sinar rembulan. Tampak sosok gadis berbintik-bintik kecil berwarna hitam di wajah, tangan, dan kakinya. Dia sedang duduk di bawah pohon rindang bersama sosok berbadan besar, berbulu hitam, dan memiliki mata yang merah menyala.
***
TENTANG PENULIS: Vivi Intan Pangestuti adalah disabilitas netra, alumni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Dia memiliki hobi menulis di media publik dan media pribadi. Jika ingin mengenal lebih dekat, bisa melalui akun instagram @viviintan99.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Redaksi menyediakan honor Rp. 100 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:



