Kebetulan ini lagi musim pemilihan anggota dewan yang terkemuka di kota itu. Alhasil banyak partai politik yang kesengsem alias mengajaknya untuk bergabung dengan partai itu.

“Kau jadi bergabung dengan partai aku kan?” tanya Aldo.

“Bingung juga sih!” sahut Jagoan pusing tapi bukan pusing 7 keliling.

“Jangan munafik deh! Apakah kamu tak mau meningkatkan atau menambahkan pundi-pundi uang itu! Ini kesempatan tak datang dua kali dalam hidupmu,” Aldo meyakinkan ucapannya sendiri.

Setelah sejenak berpikir, padahal pikirannya entah melayang kemana, kita semua tidaklah tahu yang ada di dalam pikirannya itu.

“Baiklah kalau begitu,” jawab Jagoan.

Maka amplop yang berwarna coklat, seperti wanita yang suka memikat, diterimanya. Jagoan ini menerima amplop itu yang isinya tentu banyak uangnya. Bisa kita katakan, uang itu bisa untuk membeli mobil mewah.

Ternyata tak hanya satu partai politik saja yang mengajaknya untuk bergabung dan berkontestasi dalam ajang pemilihan anggota dewan yang terkemuka di kota itu. Hal ini tentu saja membuat Paijo marah. Dia adalah seorang kader partai yang cukup pandai dan kaya. Kali ini emosinya menjadi sesuatu yang punya level sangat tinggi.

“Kurang ajar! Jagoan itu memang harus bisa ku kalahkan, dia harus bisa ku hancurkan!” umpat Paijo sambil menendang meja di depan rumahnya itu.

Dendam masa lalu rupanya tumbuh kembali. Paijo ini tak sudi jika Jagoan itu bisa menjadi anggota dewan yang terkemuka. Dia berpikir bahwa dirinya adalah yang terbaik di kotanya. Maka dia menyuruh beberapa orang untuk menyerang Jagoan itu.

“Jika suasana aman dan kondusif, kalian cari tahu tentang tempat tinggalnya! Kalian ambil uang yang ada di rumahnya. Dia harusnya jadi orang yang termiskin di kota ini. Cari tahu tentang kegiatannya di tempat itu!” Paijo nyengir dengan sombongnya.

Sementara itu di tempat yang lainnya, Jagoan sedang menimbang uangnya dengan sebuah timbangan jadul. Timbangan itu punya orang tuanya.

“Ini uang kutimbang, belum banyak juga! Tapi jika kelak aku bisa jadi anggota dewan yang terkemuka, semua uang akan bermunculan dengan sendirinya, hahaha!” ucap Jagoan sambil menimbang uangnya.

Jagoan ini memang sudah jarang sekali punya uang segitu banyaknya. Bisa dibilang sejak dahulu, dia punya nasib yang sama sekali membuatnya kembang kempis alias kemiskinan yang selalu menghantuinya. Mumpung ada kesempatan, sekali dayung, semua pulau terlewati, begitulah pikirannya. Jagoan ini juga sudah mengetahui jika ada seorang bernama Paijo yang merupakan kader partai politik, yang paling favorit di sekitar daerah itu. Tapi Jagoan hanya tahu, jika dengan uang, semua bisa diatur dan tidak usah berusaha untuk susah payah.

Jagoan tidak tahu, jika ada beberapa orang yang mengawasinya dari jauh. Tapi entahlah kenapa, orang yang mengawasinya itu, malah berubah pikiran. Mereka malah menghampirinya.

“Hei Jagoan! Aku ini utusan dari Paijo. Tapi aku ingin duit yang banyak sepertimu, bisakah kita kerja sama!” kata orang yang badannya gemuk itu.

“Maksudnya kau ini mau berkhianat, dan akan menipu Paijo itu?” sahut Jagoan masih menghitung uangnya.

“Jangan banyak basa basi deh! Setuju atau tidak?” jawab Orang yang badannya gemuk itu tampaknya tidak senang.

“Baiklah kalau begitu,” ucap Jagoan.

Maka perjanjian kerja sama ditanda tangani oleh Jagoan dan beberapa orang itu. Sebenarnya dalam hatinya, dia masih ragu. Tapi biarlah semua berjalan dengan sendirinya. Dia tidak mau pikir panjang lagi. Mumpung ada duit, semua bisa dilakukannya dengan cepat dan mudah.

Disini juga ada seorang yang berhasil dan sengaja menyelinap di dekat rumah itu. Orang itu bernama Dudung, yang memiliki visi misi, untuk mencari informasi tentang Jagoan itu. Dudung inilah yang akan menjadi jembatan informasi yang sangat spektakuler dari sebuah kejadian, yang mungkin bukan sesuatu yang luar biasa. Tapi bagi Dudung, pengalaman menjadi seorang yang bisa bersembunyi layaknya seorang detektif swasta, dia pun tak bisa dianggap enteng begitu saja. Pada masa kecilnya dia bercita-cita menjadi seorang peneliti yang terkenal seperti Albert Einstein. Tapi sayangnya dia hanya anak dari keluarga miskin, maka dengan sendirinya impiannya itu pupus sudah.

Dengan berbekal informasi yang didapatkannya di tempat itu, maka dia melaporkan kejadian itu kepada Paijo. Otomatis Paijo kali ini sangat emosional sekali. Tak hanya meja yang diatasnya ada kopi panas, tetapi juga televisi yang ada dihadapannya, ditendangnya dengan cukup kencang.

“Awas saja kau Jagoan tengik, jagoan yang sinting, bego, edan, goblok!!” umpat Paijo kesal bukan main sambil sesekali mengelus kumisnya yang cukup tebal.

“Maaf Bos, apakah Bos ini punya dendam masa lalu dengan Jagoan itu?” tanya Dudung.

“Betul sekali. Aku ini sudah dendam dengan suksesnya dia. dahulu puluhan tahun yang lalu, keluarganya pernah menghinaku ketika lomba bernyanyi, lagian aku memang tidak pandai nyanyi. Tentu saja aku kalah dengan Jagoan itu yang ahli untuk menyanyi!” sahut Paijo mengingat masa kecilnya dahulu.

“Tapi Bos ini jg anak orang kaya, kenapa tak menyuap saja panitia pelaksana lomba itu?” Dudung mencoba menahan tawanya, takut dimarahin dan mencoba menjaga wibawanya di hadapan Bos yang bernama Paijo itu.

“Sudahlah! Jangan kau ungkit lagi tentang masa kecilnya aku itu. Pokoknya orang yang telah berkhianat itu, jangan lupa kau  ajak kembali ke sini. Jika mereka menolak, tahu sendiri apa akibatnya!” sahut Paijo.

Paijo pun tampaknya memberikan amplop berwarna pink. Isinya tentu saja uang yang sangat banyak sekali. Tetapi ini bukan warna kesukaannya, melainkan warna yang disukai oleh mantan pacarnya. Beberapa kali cintanya kandas, alias gagal, semuanya gara-gara ulah Jagoan yang punya wajah lumayan, sehingga banyak wanita yang mengidolakannya ketika masih sekolah dahulu.

Dudung kemudian menerima amplop itu dengan sebuah senyuman palsu. Dalam hatinya, dia memang punya prinsip untuk tidak ambil bagian dari perseteruan yang sengit, antara Paijo dan Jagoan itu. Dia hanya ingin mencari kesempatan mendapatkan uang dari kedua tokoh tersebut, yang diprediksikan akan mampu menjadi seseorang anggota dewan yang terkemuka di kota Fantasy. Pada intinya, Dudung ini meniru sistem yang pernah dilakukan VOC ketika jaman penjajahan Belanda dahulu. Prinsipnya tidak lain tak bukan, adalah memecah belah antara kedua tokoh yang banyak mendapatkan perhatian masyarakat kota itu.

Kita kembali ke laptop, maksudnya kembali ke tokoh utamanya. Karena tentunya cerpen ini menjadikan Jagoan itu sebagai tokoh utamanya. Jadi mau tak mau, sudi tak sudi, tentunya kita terima Jagoan itu sebagai tokoh utamanya. Kita semua tentunya sadar dan tahu betul, bahwasanya seorang Jagoan itu harusnya selalu menjadi pemenang. Nah apakah kali ini Jagoan itu pasti akan menang, makanya baca terus cerita ini, jika masih ingin tahu kisah yang terjadi di kemudian harinya.

Sebenarnya Jagoan ini memang sudah tak ada niatan untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan yang terkemuka. Akan tetapi karena banyak orang yang meminta untuk ikut kompetisi ini, ditambah dengan banyak partai yang mendukungnya, maka luluh juga hatinya.

“Aku terima semua ajakan kalian, dari banyak orang dan partai, yang sudah mendukung, aku akan berusaha untuk yang terbaik. Jika nanti saya kalah, itu urusan belakangan dan kita tak harus kecewa. Pada prinsipnya hidup ini ada menang atau kalah,” kata Jagoan ketika mengadakan temu kader dalam sebuah musyawarah dengan beberapa pendukungnya.

Pada suatu malam, mobil mewah yang ada di depan halaman rumahnya Jagoan itu, tampaknya terbakar, dengan percikan api yang membumbung tinggi ke angkasa. Alhasil Jagoan yang sedang tidur nyenyak, kalang kabut bingung sambil berlarian ke sana ke mari. Jagoan ini tak tahu, jika Dudunglah yang membakarnya. Dudung kemudian melaporkan kepada Paijo, jika dirinya telah berhasil membakar mobil itu. Paijo pun tertawa senang. Hadiah uang tunai yang cukup banyak, diberikannya kepada Dudung sebagai ucapan terimakasihnya.

Akan tetapi di sisi lainnya, Paijo takkan pernah tahu, jika Dudung ini masih punya dendam dengan keluarganya Paijo itu. Dengan kepandaiannya, layaknya hewan bunglon yang bisa berubah-ubah warnanya, Dudung akan menghancurkan bisnisnya Paijo. Semua bisnis di kota Fantasy memang banyak dikuasai oleh keluarganya Paijo. Dengan keyakinan yang kuat, Dudung akan menjadikan dirinya sebagai orang biasa saja, nantinya pasti akan menjadi seorang yang luar biasa.

TENTANG PENULIS : Anton Sucipto, SP. Alumni Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto. Tulisannya dimuat di media cetak dan online.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==