Cerpen Sabtu: Jalur Cepat

Ucapan Junaid cukup membuatku terenyuh. Tapi buru-buru kutolak dengan halus. “Maaf, Pak Jun. Aku memang banyak kenalan, namun untuk mendapatkan koneksi yang bisa dibayar. Rasanya aku tak bisa. Maksudku … tak paham dengan begitu-begitu.”

            Usahaku berkilah, malah disambut kekehan oleh Junaid, sementara istrinya hanya senyum-senyum saja.

            “Tak usah berlagak polos! Bukannya kau sendiri sudah melakukannya agar istrimu jadi ASN, lalu bekerja di kantor pemerintahan seperti sekarang?! Tenang saja, sudah saya siapkan komisi untuk kau.”

            Setelah ia berbicara seperti itu, jelas aku tambah muntab pada Junaid. “Cukup, Pak! Jangan samakan keluarga kami dengan mental Pak Junaid.”

            Junaid terdiam, angin berdesir lembut sore itu, namun belum cukup mengusir gerah, apalagi setelah Junaid mengomporiku dengan mulut merconnya.

            Tanpa rasa bersalah ia melemparkan senyum, sekonyong-konyong menepuk pundak saya.

            “Jangan tersinggung. Sekarang tak perlu malu jika keberhasilan itu datang karena kita punya relasi pihak dalam. Lihat saja para koruptor yang tertangkap memberi atau karibnya, entah dibayar ataupun ia membayar, tetap santai-santai saja, kok. Malah bisa senyam-senyum ketika diliput.”

            Junaid yang hobi menonton berita. Berkhotbah depan mukaku dengan berbusa-busa.

            “Sudah, Pak Jun! Ini mau maghrib, lho. Cari yang lain saja!” kataku tegas.

Seraya berpamitan, Junaid dan istrinya berkata. “Jangan dijadikan berita masalah sepele ini, lho! Bisa pusing nanti saya cari koneksinya.”

***

            Menurutku, Junaid itu orang yang frustasi. Ia dibesarkan dari melihat dan mendengar kecurangan-kecurangan. Dalam tempurung kepalanya, setiap kali ada orang berhasil, dicurigainya karena ada persengkokolan, koneksi, ataupun orang dalam. Bahkan itu juga tercermin pada kesehariannya.

            Pernah ia bercerita, untuk membeli laptop atau ponsel, lebih dulu ia mencari koneksi dari pemilik toko elektronik tersebut, setelah terbangun keakraban dengan pihak dalam, barulah ia membeli barang lewat perantara si koneksi, yang tentunya lebih ‘miring’ dari harga pasaran. Maka tak jarang tiga atau empat bulan sekali ia berganti laptop atau handphone, kadang dipamerkannya barang itu ke orang-orang terdekat. Seolah ia kaya, padahal hanya memanfaatkan koneksi-koneksi untuk kepentingan pribadinya.

***

Foto-foto BKPSDMD – Babel/Gatra/Internet

Sebelum berangkat pagi, Junaid mendatangiku. Guru sekolah kejuruan ini katanya mengajar siang. Nampak ada yang berbeda dengan penampilannya.

            “Kacamata baru nih, Pak!” sapaku. Juniad tersenyum sembari memegangi gagang kacamatanya yang kelihatan mahal itu.

            “Teman saya di optik menawari kacamata ini. Aslinya tiga ratus ribu. Tapi, karena saya punya koneksi dengan sang pemilik toko, jadi saya cukup membayar dua ratus lima puluh ribu saja. Kan lumayan sisanya untuk bensin.”

            Junaid tertawa pongah diujung kalimat tadi, membanggakan keberhasilannyan membangun koneksi.

            “Maaf…” Junaid mendadak berucap pelan. “Istri saya sudah kirim lamaran untuk penerimaan calon ASN di kantor bupati. Tinggal menunggu tes saja. Kau tak usah cemas. Saya sudah menemukan koneksi sendiri. Orang ini kebetulan masih sepupu dengan pak bupati,” papar Junaid.

“Lalu?”

            “Ia minta dua puluh lima juta dimuka sebagai dana lobi untuk istri saya bisa ambil jalur cepat. Dan katanya, pelicin itu akan diputar ke beberapa tim evaluasi, dan orang-orang penting di administrasi pemerintahan. Berarti mereka sedang memperjuangkan nasib Ika.” Sorot bola mata Junaid nampak berbinar-binar.

            “Nanti aku mengajukan pinjaman ke koperasi sekolah. Orang itu minta tiga puluh juta paling lambat minggu ini. Cuma ya … untuk awal-awal, aku perlu dana administrasi. Sekarang akhir bulan pula! Mhmm … Kalau boleh, saya hendak pinjam tiga ratus ribu dulu.” Junaid memohon sembari sedikit menggaruk-garuk kepala.

            Supaya tak membuang waktu, dan kebetulan sedang ada rezeki, bergegas aku kasih saja apa yang Junaid mau. Apalagi ia juga masih tetangga satu kompleks.

            “Kebaikanmu akan saya ingat. Apalagi jika saya dan Ika sudah jadi ASN dan sama-sama kerja di pemerintahan.” Junaid menepuk pundakku. Menjadi ASN dan bekerja di ruang lingkup pemerintahan, agaknya menjadi pencapaian tertinggi, dan dapat legitimasi sosial bagi orang-orang yang tinggal di dusun seperti Junaid.

            Esoknya, Ika terdengar bercerita dengan istriku.

            “Mudah-mudahan koneksi suamiku bisa memberikan harapan yang cerah. Dua puluh lima juta tak masalah. Lha wong teman saya saja, habis sepuluh juta supaya anaknya bisa jadi staff di kelurahan,” kata Ika. “Bukankah harus mencontoh keberhasilan orang lain,” sambungnya lagi.

            “Oh, ya.” Ika mendekatkan badannya ke istriku. “Kau dulu ikut seleksi begini habis berapa?”

            Ada hening yang cukup lama setelah pertanyaan itu terlontar.

            ***

Foto Merdeka.com/Radar Solo/JPN.com

Lebih dari dua minggu aku tak bertemu Junaid, seperti halnya tak bertemu istri dan anak, karena sedang mengikuti outing kantor di Bali.

            Bahkan sepulang dari Bali, sudah jarang pula saya mengobrol lama dengan Junaid. Kadang hanya berpapasan dan saling melemparkan senyum. Kebetulan sehabis pulang outing, kerjaanku semakin menumpuk di meja. Berangkat pagi buta, pulang melewati senja.

            Beberapa minggu berselang, aku melihat pengumuman kelulusan tes pegawai negeri itu lewat epaper koran, di bagian halaman yang mencantumkan logo pemerintah daerah tingkat II. Setelah ditelusuri lebih teliti. Tak ada nama Ika di daftar tersebut. Deg! Aku membayangkan betapa kepingan harapan yang digembar-gemborkan Junaid runtuh seketika. Tak cuma itu, tiga puluh  juta, hasil meminjam kanan-kiri, pasti membuatnya gelisah tak berkesudahan.

            Untuk memastikan, malamnya aku menelepon istri. Di ujung telepon istriku berkata, “Orang-orang dalam yang Junaid mintai tolong itu ternyata residivis kambuhan. Mereka indekost di depan jalan raya selama dua bulan untuk mencari mangsa. Ada dua belas orang yang sudah termakan hasutannya, bahkan sudah lunas membayar dimuka.”

“Bagaiman dengan Junaid?” Aku penasaran nasib lelaki itu, setelah terkena bumerang dari kebanggaannya mendapatkan banyak ‘koneksi’.

“Ia lapor polisi. Namun, istrinya, Ika. Masih terisak-isak sejak tadi malam.”

Aku menutup telepon. Merasakan bagaimana harapan Junaid itu terpelanting keras. Usaha pantang menyerah yang ia lakukan demi istri tercinta, walau memang caranya  salah.

Besoknya, aku melihat rekan satu divisi sedang menulis berita penipuan penerimaan calon ASN, berkedok sepupu bupati. Pada saat yang sama Junaid menghampiriku.

“Orang-orang bedebah! Minggat ditengah jalan, padahal pembayaran sudah lunas hari itu juga, tanpa uang muka, dan tetek bengek lainnya.”

Aku memahami luapan emosi Junaid. Menunggu ada lagikah yang mau dikatakannya. Namun setelah menunggu lama, hanya nafasnya saja yang naik-turun, dengan raut wajah yang merah padam.(*)

*) Cirebon, Januari 2021/Foto-foto smkmucirebon.sch.id., Kabar24-Bisnis.com

Rizky Alvian, lahir di Cirebon, 14 November 1998. Paruh waktu sebagai pengarang disela kesibukannya sebagai penulis naskah iklan. No. Handphone/Whatsapp: 089601968985)

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==