Lun tidak habis pikir terhadap orang-orang kaya yang mau berpanas-panas, berlelah-lelah dan berkeringat bersepeda. Ya, memang mereka bersepeda bukan dalam rangka meraih rezeki melainkan olahraga sekaligus refreshing tetapi bukankah mereka punya pilihan lain yang jauh lebih asyik. Misal biliar, golf atau gim di mana perempuan-perempuan cantik dan seksi bertebaran di sana.
Tidak habis pikir lagi, orang-orang kaya itu rela menghabiskan puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk membeli sebuah sepeda. Memang sepeda itu konon buatan luar negeri, teknologi terbaru, dan terjamin mutunya. Beda jauh dengan sepeda jengki miliknya yang dibelinya second. Sebagaimana biasa, Lun akan menjadi gondok hatinya kala membayangkan seberapa banyak uang dari orang-orang kaya itu. Harga sepeda saja segitu mahalnya. Belum rumah, mobil, perlengkapan pula aksesoris bermerek.
Di tengah Lun melamun dibalut kelelahan, sebuah klakson menyentil telinganya. Ia mengintip ada mobil di belakang sepedanya. Pengemudi mobil merasa terganggu karena sepeda Lun terlalu ke tengah. Tidak seperti biasanya kali ini Lun di puncak kenekatan.
“Mentang-mentang kaya, mau menguasai jalanan,” batin Lun marah.
Maka Lun pura-pura budek. Ia menyengaja tetap berada di tengah.

Berkali-kali klakson yang dikirim oleh mobil di belakang justru membuat Lun puas. Hemat Lun, orang kaya biasa memamerkan hartanya tanpa memikirkan perasaan orang miskin. Jadi tidak ada salahnya Lun membalas perbuatan mereka itu. Biar mereka tahu bagaimana rasanya tidak diindahkan pula direndahkan.
“Woi, minggir!” teriak pengemudi mobil di belakang diikuti klakson yang kian memekakkan.
Suara dari arah belakang makin gaduh. Rupanya bertambah mobil yang berderet di belakang. Dengan terpaksa Lun mengakhiri permainannya. Ia meminggirkan sepedanya. Mobil-mobil tergesa menyalipnya. Kebencian tumbuh di mata Lun.
“Dari mana saja?! Jam segini baru sampai!” maki Rat sesampainya Lun di pasar.
Lun diam saja. Tidak mungkin ia mengaku pada istrinya kalau keterlambatannya karena bermain-main dengan orang kaya.
“Budek kamu ya?!” bentak Rat gemas mendapati keterdiaman Lun.
“Awas kamu kalau besok-besok sampai telat jemput aku lagi!” ancam Rat sembari menudingkan telunjuknya ke dahi Lun.
Hal semacam inilah yang membuat Lun memilih membungkam mulutnya kala Rat bertanya. Apa pun alasannya, keadaannya, benar salahnya; Lun pasti disemprot oleh Rat. Semprotan akan mengucur kian deras serta lama kalau Lun menjawab apalagi membantah. Bahkan kerap Lun mendapatkan kekerasan fisik. Dijitak, ditoyor, pula ditampar. Dan itu disaksikan oleh orang-orang di pasar.

Tak ayal lagi, Lun dikenal oleh seantero pasar sebagai suami takut istri. Bukan saja di pasar, di kampungnya pun begitu. Hanya di jalanan di mana orang lalu lalang serta silih berganti, Lun bisa petentengan. Rata-rata tidak ada yang mengenalnya.
Andai bisa Lun ingin meninggalkan istrinya yang galak. Namun dominasi Rat sudah telanjur mengusai seluruh sendi hidup Lun. Sudah pasti Lun akan menggelandang tak jelas tanpa Rat. Tanpa rumah, tanpa istri anak, tanpa sandang pangan dan tanpa uang. Lun masih waras dan tak hendak mengambil pilihan itu. Pikirnya biar lah ia tunduk asal masih hidup.
Menjalani hari-hari yang serasa tidak pernah berganti melainkan copy paste dari hari-hari sebelumnya, mencipta kebosanan yang luar biasa dalam hidup Lun. Ia sudah kenyang kemarahan dan kekerasan dari istrinya. Patuh. Tidak bisa melawan. Padahal ada gumpalan besar dari dalam dirinya yang mendesak keluar. Masalahnya Lun tidak tahu harus mengeluarkannya di mana dan kepada siapa. Setidaknya tanpa sepengetahuan istrinya.
Petang itu Lun tengah sibuk seorang diri mengumpulkan berbagai hasil kebun yang akan dijual ke pasar besok. Lun dan isterinya biasa menjual buah dan daun pepaya, daun singkong, daun melinjo dan berbagai komoditi dari kebun warisan orang tua Rat. Di pasar mereka tidak memiliki kios melainkan membuka dasaran di emperan pasar dengan meja kecil dan tikar.
Tatkala sedang meraih pucuk daun singkong muda, Lun tergelincir. Ia terpeleset hingga jatuh. Pantatnya mencium tanah. Sebatang pohon singkong roboh karena menjadi tumpuan tangannya.
“Sialan!” umpat Lun sembari membuang sandal yang berada di dekatnya. Ia yakin sandal usang yang telah tipis itu penyebabnya.
Lun mencoba bangkit tetapi merasakan sakit. Ia terduduk kembali. Setelah meneliti tangan dan kaki, ada beberapa goresan bersemburat darah. Mungkin terkena batang singkong yang sedikit tajam atau batu kerikil yang bertebaran di tanah.
“Kurang ajar!” umpat Lun lagi. Kali ini pada pohon singkong.
Tiba-tiba Lun tersenyum picik. Wajahnya berseri kepuasan. Ia seperti baru saja menemukan jalan keluar setelah lama terkurung di gua gelap gulita.
Inilah dia. Dengan mengumpat Lun mendapatkan kepuasan diri. Ia merasa jadi laki-laki sejati. Laki-laki yang memiliki kuasa. Kepercayaan dirinya muncul dengan umpatan yang keluar dari mulutnya.
Sejak hari itu Lun begitu mudah mengumpat. Sasaran umpatannya bermula pada benda-benda di sekitar: pohon, batu, pintu, meja. Lama-kelamaan umpatan Lun berpindah dari obyek menuju pada subyek.
“Dungu! Dasar orang kaya baru! Belum bisa menyetir mobil, sudah berlagak di jalan raya!” caci Lun dari kejauhan kala menyaksikan kecelakaan lalu lintas. Dua mobil beradu banteng.
Cacian Lun lebih terlihat gerutuan karena ia sendiri yang bisa mendengarnya. Akan tetapi ia sudah merasa puas kali itu. Lambat-laun teori kepuasan seolah-olah menghantui Lun. Memintanya untuk berbuat lebih dan lebih. Menagih.

Hingga keluarlah hinaan itu. Dengan lantang Lun menghina artis, tenaga medis, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, kepala daerah sampai ulama. Penghinaan yang bersumber dari upayanya mendapatkan kepuasan diri. Ia merasa hebat dapat melakukan penghinaan kepada orang-orang terpandang maupun para pesohor. Mata-mata di sekelilingnya seakan-akan memandangnya dengan sinar kekaguman. Video tentang aksinya yang direkam entah oleh siapa itu menyebar cepat. Membuat nama Lun viral di media sosial juga dunia nyata.
Bagai orang mabuk yang merasa dirinya terbang ke nirwana, Lun menikmati pencapaiannya. Hingga tibalah kesadaran menggugahnya ketika polisi menggelandangnya ke markas. Lun jatuh dari awang-awang. Dikenai pasal penghinaan; Lun hanya bisa memelas, menangis dan minta maaf. Menyesali diri.
Terbayang-bayang di pelupuk mata Lun, Rat yang galak. Yang menjadi pasal dirinya melakukan penghinaan. Rat dan kedua anaknya sama sekali tidak datang menjenguk. Bahkan ia mendengar kabar Rat akan mengajukan gugatan cerai. Di penjara yang dingin, Lun merasa hidupnya terjun bebas ke titik nadir.*

TENTANG PENULIS: Endang S. Sulistiya menetap di Boyolali. Lulusan Administrasi Negara FISIP UNS. WA: 0858 7951 2346. IG: @endangsrisulistiya. FB: Endang S. Sulistiya. Apabila karya ini layak dimuat, honor dapat dikirim ke Bank Mandiri KCP. Solo Adi Sucipto, No. Rek. 138-00-1315453-4 atas nama ENDANG SRI SULISTIYA. NIK: 3309125910850002.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


