Kini, Gang Pardi kerap menjadi lintasan yang sangat ramai meski hanya satu arah. Tak sedikit, kendaraaan baik motor maupun mobil, berhenti di toko-toko yang berderet di sana, tetapi yang acap disinggahi, hanya toko terbesar milik Pardi. Toko itu menjual aneka pakaian beragam usia dengan harga sangat murah. Para pengunjung kebanyakan datang untuk tujuan berbisnis. Pakaian yang sudah dibeli– eceran maupun partai, dijual kembali ke konsumen akhir.
“Bu… kita ke toko Pardi yang satunya lagi, yu?” ajak Cahyani, putri sulungku tatkala kami tengah berada di toko utama. Kini, toko Pardi ada tiga. Yang satu sudah dibangun beberapa bulan lalu dan baru dibuka dalam dua pekan. Yang satunya lagi, baru beres dibangun dan dimungkinkan akan buka beberapa pekan ke depan. Letak toko Pardi yang satu dengan yang lainnya agak berjauhan tapi masih di sepanjang jalanan itu. Gang Pardi meski padat kendaraan tapi tak pernah macet. Saban toko menyediakan lahan parkir yang memadai.
“Sebentar, Ibu mau bayar dulu kaus singlet dan celana dalam anak-anak,” ucapku lalu tubuhku berbalik menuju kasir. Hendak mengantri tapi seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tujuh tahun dan berperawakan sedang– menghampiriku. Tersenyum dan segera kubalas sembari sedikit menganggukkan kepala.

Lelaki itu sesaat menatapku, membuatku jengah. Ingin menghindar tetapi sapaan ramahnya membuatku urung melangkah. “Ibu… sering belanja di toko ini, ya?”
Kepalaku mengangguk. “Ya. Seminggu sekali.”
“Ibu sering borong, ya?”
“Saya belanja untuk dijual lagi, Pak…”
“Ooh…” mulut lelaki itu membentuk huruf ‘o’ sembari menyungging senyum. Tatapan matanya agak liar kurasakan hingga aku mendadak kurang simpati.
“Boleh kenalan?” lelaki itu tampak ngeyel sembari mengulurkan tangan kanannya. Ingin aku menolaknya tetapi kurang etis bila kulakukan. Terpaksa kuterima uluran tangannya sembari menyebut namaku. Nuryani. Tanpa kepanjangan.
“Nama yang sangat cantik, secantik orangnya,” ucapnya.
Aku diam.
“Kalau saya… Ahmad Supardi. Orang-orang biasa memanggilku Pak Pardi.”
Mendengar nama itu, sontak mataku meliriknya. “Pak Pardi pemilik toko ini?”
Dia mengulas senyum sebagai jawaban. Aku sedikit gugup. Untung saja sikapku padanya masih wajar. Aku pun pamit untuk mengantri dan dia mengucap sepatah kata ‘silakan’.
Dua hari kemudian, Cahyani merajuk minta diantar menemui Pardi.
“Sepertinya dia orang baik kalau kudengar cerita Ibu.”
“Ibu hanya bicara sebentar dengannya. Ya, dia baik biar tokonya ramai pengunjung. Pemilik toko itu kan harus ramah.”
“Bu, ada dua tujuanku bertemu Pak Pardi. Yang pertama, aku mau belajar berbisnis darinya. Yang kedua, aku mau menulis kisah hidupnya. Tulisanku itu untuk tugas mata kuliah Bahasa Indonesia mengenai orang-orang sukses,” jelas Cahyani. Dia pun menelepon seseorang. Dua jam kemudian, orang yang ditelepon muncul. Teman sekolahnya tapi kini kuliah di tempat yang berbeda.
“Bu… ini Lena, dia itu saudara Pak Pardi, lho. Cahyani tahu Pak Pardi dari cerita Lena. Ternyata Pak Pardi itu dulunya orang miskin dan sering diabaikan saudaranya yang kaya. Hingga Pak Pardi berjuang keras untuk menjadi orang sukses. Setelah sukses, dia mempekerjakan orang-orang yang tak mampu.”
“Kalau begitu, kamu bisa minta antar Lena untuk bertemu Pak Pardi,” aku menyarankan.
Kepala Lena menggeleng. “Maaf, Bu. Lena tidak bisa karena ada ujian praktek dalam beberapa hari ke depan. Lena juga tidak tinggal dekat rumah Pak Pardi. Tapi memang sering ke Gang Pardi karena di sana banyak keluarga Lena. Kalau minggu depan, mungkin Lena temani ke sana, tapi Cahyani tengah terburu-buru.”

“Bisa kamu cari waktu lain yang Lena bisa menemanimu?” kualihkan tatapanku pada putriku. Cahyani menggeleng. Dia masih merajukku hingga Lena pulang. Namun lusanya, wajah Cahyani ceria. Dia diberi kunci rumah saudara Lena yang tinggal di sekitar Gang Pardi. Rumah itu kosong dan digunakan jika ada tamu saja. Kata Lena, Cahyani dan aku boleh menginap di rumah itu karena Pardi bisa diajak berbincang di saat pagi sembari menikmati secangkir kopi kental.
Menjelang malam, aku dan putriku tiba di rumah itu.
“Kenapa kita tidak pagi-pagi saja datang ke sini… lalu ke rumah Pak Pardi… tanpa harus merepotkan Lena menyediakan tempat untuk menginap di rumah ini,” ucapku agak menyalahkan keputusan putriku. Keinginannya selalu ingin cepat terpenuhi.
“Bu… kita itu tinggal jauh dari sini. Kalau mau sampai di sini pukul tujuh, kita harus sudah berangkat dari rumah pukul empat pagi. Naik ojek. Cegat bus. Sambung angkot sampai belokan Gang Pardi. Lalu berjalan kaki mencari-cari rumah Pak Pardi. Kan sekarang kalau bermalam di sini, kita bisa tenang dulu. Untung Lena pegang kunci rumah ini. Terus, Cahyani sebentar lagi mau ke luar, tanya-tanya letak rumah Pak Pardi, biar pagi, kita bisa langsung menuju rumahnya.”
“Kamu ini.”
“Ibu harus dukung Cahyani.”
“Kamu kalau ada maunya, kayak mendiang ayahmu.”
“Kan emang Cahyani anaknya Bapak. Jadi sebagian sifat Bapak mewarisi sifat Cahyani.”
Aku diam tak berkomentar. Kuselonjorkan tubuhku di atas tempat tidur. Masih menurut Lena juga yang menegaskan pada Cahyani, jika Pak Pardi tak suka ditelepon orang asing. Cahyani dan aku itu tetap asing di mata dia meski kami pelanggan tokonya. Namun untungnya, ketika Lena menghubungi Pardi, lelaki kaya raya itu berkenan meluangkan waktu untuk berbincang dengan Cahyani.
Ketika Cahyani pamit ke luar untuk mencari informasi keberadaan rumah lelaki paling kaya di kawasan sini, terngiang-ngiang ucapan Tini, perempuan sebayaku yang bersua dua hari lalu di depan warung Bah Apud, penjual buah-buahan. Tini yang tahu aku kerap ke Gang Pardi bilang jika dia teman kecil Pardi. Dia pernah tinggal di kawasan gang itu. Dan kini tinggal satu kecamatan denganku. Dia pun cerita beberapa hal mengenai lelaki itu. Tak jauh dengan yang diceritakan Lena. Hanya ujung cerita Tini membuatku tak ingin ikut-ikutan berpikiran buruk. Dugaanku sederhana: kehidupan Tini berada di bawah kemiskinan dan dia tak suka dengan kesuksesan yang kini diraih teman masa kecilnya.
“Biar usahanya maju, si Pardi suka ritual aneh saban malam Jumat Kliwon,” ucap Tini yang tak kutanggapi. Kantuk mulai menyerangku. Pulas beberapa saat. Terbangun ketika putriku sudah kembali. Membawa dua bungkus baso dan dua minuman jahe yang tak berhasil menggugah selera makanku. Aku duduk bersandar ke dinding. Kami berbincang ringan hingga pukul dua puluh tiga.
“Cahyani, malam Jumat ini ibu tak mengaji,” ucapku menyesal lantaran waktu magrib kami baru tiba di sini. Solat fardlu tanpa mengaji Yasiien.
“Sesekali tidak mengaji kan tidak apa-apa ya, Bu?” Cahyani tersenyum. “Atau kalau mau… bisa sekarang?”
“Sepertinya… Ibu mau mengaji di sepertiga malam saja, tadi ibu tidur sebentar. Sekarang belum mengantuk lagi.”
“Oh ya, itu lebih bagus.”
“Maukah kamu mengantar ibu keluar? Mencari capcay,” ucapku sembari beranjak. Cahyani mengikuti. Kami berjalan bergandengan tangan menyusuri jalanan yang sepi. Toko-toko pakaian sudah tutup. Hanya beberapa tenda makanan yang masih buka. Kami berhenti di depan sebuah tenda yang menjual nasi goreng dan capcay. Kupesan dua makanan itu. Nasi goreng untuk Cahyani. Capcay untukku. Dibungkus. Cahyani mengajakku pulang melintasi gang kecil. Biar cepat sampai di rumah saudara Lena, begitu alasannya. Dia menduga gang ini menuju ke rumah Pardi. Rumah paling megah di ujung gang. Garasinya mengarah ke jalan utama.

Kupikir Cahyani salah mengambil jalan. Rupanya kami akan berbelok ke gang lainnya. Kaki-kaki kami melangkah lebar-lebar sembari tetap bergandengan tangan– sementara tangan sebelahku memegang plastik nasi goreng dan capcay lengkap dengan air minum. Dari ujung gang, kulihat seseorang yang tengah berlari-lari kecil menuju ke arah kami. Dadaku tersentak. Aku mengenali wajah itu meski kami baru bersua satu kali, tempo hari. Orang itu tanpa merasa sungkan dengan keadaannya, melintasi kami. Kedua telapak tangan Cahyani menutup rapat-rapat matanya. Aku melakukan hal sama. Entahlah, apakah putriku akan mengurungkan niatnya esok pagi–untuk bersua lelaki kaya yang barusan dilihatnya tanpa sehelai benang di tubuh.***
*) Bandung Barat, 25 November 2021

Komala Sutha yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda, Jawa dan Indonesia. Tulisannya dimuat dalam koran dan majalah di antaranya Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Jawa Pos, Kompas.id, Republika, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Minggu Pagi, Harian Rakyat Sultra, Harian Fajar, Merapi, Mercusuar, Metro Sulawesi, Radar Bromo, Denpasar Post, Lampung Post, Padang Ekspres, Malang Post, Bangka Post, Analisa, Medan Post, Kabar Cirebon, Tanjungpinang Post, Radar Banyuwangi, Radar Jombang, Madrasah Digital, Sinar Indonesia Baru, Joglo Pos, Regaksimagz, Ceritanet.co, Lensasatra.co, Lensarakyat.co, Diksi Jombang, Karebaindonesia, Ayobandung. Com, Veasna, Tribun Kaltim, Radar Tasik, Kabar Priangan, Galura, Target, Femina, Hadila, Potret, Veasna, majalahAnak Cerdas, majalah Utusan, Mayara, SundaUrang, WartaSunda, Beat Chord Music, Manglé, SundaMidang, Djaka Lodang, Mutiara Banten, Kandaga, Cakra Bangsa, Metrans, Buletin Selasa, Redaksi Jabar Publisher, Utusan Borneo dan New Sabah Times. Buku tunggalnya, novel “Separuh Sukmaku Tertinggal di Halmahera” (MujahidPress, 2018) dan kumpulan cerpen “Cinta yang Terbelah” (Mecca Publishing, 2018).

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


