Cerpen Sabtu: Surga di Tangan Ayah

Ayah dan ibu punya mimpi besar yang sama dalam diri mereka masing-masing maupun keluarga kecilnya. Ayah-ibu ingin sukses di bidang profesinya masing-masing. Sebagai kepala keluarga, ayah ingin memberikan nafkah terbaik untuk istri-anaknya. Begitu juga ibu ingin punya penghasilan sendiri, meski ada nafkah suaminya. Kedua orangtuaku tampak rajin dan tekun menjalani apa yang mereka harapkan dan impikan.

Namun, kehidupan kadang tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Hidup tak selamanya lancar. ada saja liku-liku dalam perjalanan menuju sukses atau bahagia. Ayah-ibu mengalami itu. Sebagai manusia, Tuhan akan menguji hambanya dengan ujian yang tidak melebihi batas kemampuannya.  

Ayah-ibu mengalami pasang-surut, baik dalam hubungan maupun pekerjaan. Namun, mereka terus maju dan bangkit. Apalagi di tengah-tengah itu lahirlah aku menjadi obat pelipur lara di antara mereka. Kehadiranku dianggap membawa hoki dalam keluarga ayah-ibu. Karir dan bisnis ayah-ibu melesat maju. Ayah diangkat jadi pegawai tetap setelah lima tahun dikontrak. Sementara ibu bisnisnya makin laris dan banyak brand besar ingin bekerja sama dengannya.

Namun, kesibukan ayah-ibu dalam mencari nafkah ternyata mempunyai efek samping bagi keluarga kecilnya. Aku jadi kurang dapat perhatian. Ayah berangkat kerja pagi dan pulang petang atau malam, sedangkan ibu meski ada di rumah juga sibuk dengan bisnisnya. Kadang ibu juga keluar untuk bertemu kliennya. Sementara aku dirawat kakek-nenek atau pembantu.

“Yah, sekali-kali ajak Gina main keluar rumah dong!” Minta Ibu saat ayah tengah beres-beres koper baju.

“Emangnya di kantor cuma Ayah doang yang kerja, kok weekend gini juga masih sibuk.” Ibu masih terus ngomel-ngomel lihat kesibukan ayah yang bagi dia keterlaluan.

“Iya, nanti Ayah ajak Gina. Ayah beberapa bulan ini masih sibuk. Banyak pekerjaan dan harus ketemu klien.” Alibi ayah untuk menangkis serangan kata-kata dari istrinya.

“Sama, Ibu juga sibuk, Yah. Tiap hari Gina nggak mau lepas dari Ibu. Padahal banyak orderan masuk.”

“Emangnya nggak cukup uang yang Ayah kasih ke Ibu?”  

“Bukan gitu, Yah. Ibu juga butuh pengembangan diri. Kan, Ayah juga yang dukung Ibu bisa sukses berbisnis.”

“Iya, Ayah tahu. Tapi, tolong jangan biarkan anak kita sendirian.”

“Aaalah, emang Ayah sering temani Gina. Di rumah saja paling sibuk dengan ponsel dan laptop.”

“Iya, Ayah minta maaf. Ayah juga begini untuk kalian.”

Perselisihan semacam itu sering terjadi di antara ayah-ibu. Aku sebagai anak hanya bisa  diam. Bahkan sesekali aku tutup telinga jika tensi di antara dua orang deawa ini makin tinggi.

Ujian-ujian itu lambat waktu pun berlalu. Kini usiaku sudah menginjak enam tahun, dan aku sudah punya dua adik kecil yang lucu. Aku senang sekali karena di rumah makin ramai dengan celoteh adik-adikku ini. Namun, kebahagiaan keluarga kecil ini tidak bertahan lama. Pandemi Covid-19 melanda hampir seluruh dunia yang membuat situasi makin kacau. Dampaknya hampir seluruh sektor negara kolaps. Salah satunya sektor ekonomi.  

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==