Ayah tidak lagi sesibuk dulu. Bahkan, kami banyak meluangkan waktu bersama di rumah. Begitu juga ibu yang tidak lagi sibuk karena orderan. Pandemi juga ada dampak positif dan negatifnya. Positifnya, ayah-ibu jadi banyak waktu di rumah. Negatifnya, ya ekonomi keluarga ini makin tak menentu.
Ayah hampir satu tahun di rumah. Kata ayah, perusahaan yang memperkerjakan ayah menyuruhnya kerja di rumah (work from home). Perusahaan khawatir banyak kasus korban Covid-19. Maka itu, untuk meminimalisasi mereka merumahkan pegawainya. Sementara ibu mulai akan tutup bisnis onlinenya. Bahkan, hanya sesekali menerima orderan. Di tengah kesulitan itu, ternyata ada api dalam sekam.
Ayah-ibu ternyata tengah mengalami krisis pasangan. Mereka tengah perang dingin. Di rumah, kemesraan hanya yang terlihat oleh anak-anaknya. Namun, ketika perang terjadi, mulai tak lagi tedeng aling-aling. Kata-kata kasar dan ekspresi wajah merah ditunjukkan kepada kami, anak-anaknya. Buntutnya, selepas pandemi, ternyata ayah nggak jujur pada ibu soal pekerjaan. Ternyata ayah sudah dipecat dari perusahaan dengan pesangon pas-pasan.
“Katanya WFH, ternyata Ayah sudah nggak kerja lagi di sana!” Ketus Ibu saat berdebat dengan ayah.
“Ya, mau gimana lagi. Ini sudah jadi keputusan perusahaan. Ayah nggak mau kalian sedih. Ayah sedang berusaha cari kerja lagi.”
“Cari kerja, kapan? Ayah di rumah mulu tiap hari. Kerjanya main ponsel dan laptop. Sana Ayah kerja di luar.”
“Iya, sabar! Ini ayah sedang berusaha. Ibu jangan pojokin Ayah terus!”

Saat kedua orangtuaku sedang dalam kondisi buruk, aku berupaya membawa kedua adikku pindah ruangan atau keluar rumah agar tidak jadi sasaran.
Puncaknya, siang itu aku dan dua adikku tengah berada di rumah nenek yang tak jauh dari rumah. Sementara ayah-ibu tengah bersitegang di rumah. Entah mereka sedang memperdebatkan apa, aku pun tak mau tahu.
Tak lama, ayah datang ke rumah nenek untuk menjemput kami bertiga. Tapi, tidak ada ibu. Kata ayah, ibu sedang keluar dulu. Aku dan dua adikku ikut dengan ayah pulang. Namun, tampak ada beberapa tetangga berkerumun di depan rumah kami. Aku jadi curiga, tapi takut bertanya pada ayah. Di dalam rumah kondisinya seperti habis ada acara pesta. Acak-acakan, tapi sepertinya lekas dirapikan.
Menjelang malam, ayah seperti biasa sibuk dengan ponsel dan laptopnya. Sedangkan aku dan dua adikku asyik dengan mainan baru yang ayah belikan tadi sore. Malam makin larut dan kami bertiga mulai lelah bermain.
Kami satu persatu ditidurkan oleh ayah. Awalnya adik paling kecil ayah bawa ke kamar. Kemudian adik gede pun dibawa ayah ke kamar untuk tidur. Aku mulai menguap. Lalu aku ikut ayah ke kamar untuk tidur. Sebelum mata ini tertutup, aku melihat tangan ayah membesar hingga menutupi hidung, mulut, mata, dan aku merasa sesak. Padanganku samar seperti ada kabut hitam menutupi. Mungkinkah aku bermimpi atau ada di surga?
***
Dalam rekonstruksi adegan pembunuhan itu, Patra tengah mempraktikkan kejadian sebenarnya. Tiga boneka manekin anak-anak disejajarkan di atas kasur saling bergandengan tangan membentuk huruf ‘U’. Di samping Patra ada penyidik kepolisian tengah mencatat adegan tiap adegan. Patra lalu menangis sambil berujar, “Maafkan Ayah, Nak!”
*) Ilustrasi kolase internet
*) Feb-Mar 2024

TENTANG PENULIS: Muhzen Den adalah nama pena dari Muhamad Jaeni, S.Pd, yang lahir di Kota Serang, Banten. Menghabiskan masa pendidikan dasar hingga tinggi di kota jawara. Alumni kelas menulis Rumah Dunia sekaligus mengabdi sebagai relawan. Beberapa tulisan berupa esai, puisi, dan cerpen pernah terbit di media cetak/online dan buku. Pernah bekerja di Jakarta sebagai editor berita di media nasional. Sekarang menetap di Cikampek bersama istri dan tiga jagoannya.

REDAKSI CERPEN SABTU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikbudristek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.


