Dermaga itu masih seperti dulu: beton retak dan tangga miring yang enggan diinjak. Maria tahu, selama dermaga belum diperbaiki, harapan menjual tenun di kampung sendiri tak lebih dari angin yang melintas – datang sebentar, lalu hilang. Janji desa wisata lima tahun lalu hanyut bersama musim kampanye. Setelahnya, tak ada kapal cepat, tak ada turis. Hanya ombak, waktu, dan tubuh yang kian melemah.
Di sudut pesisir Ternate, rumah-rumah berdiri dengan malu-malu: sebagian menghadap laut, sebagian bersembunyi di balik ilalang. Seolah menunggu sesuatu yang entah kapan datang. Mungkin perahu. Mungkin anak-anak.
Maria tinggal di salah satu rumah itu. Bagian depannya sudah batako, hasil bantuan desa. Tapi dapurnya masih berdinding bambu tua yang berderit kalau malam.
“Kalau semua dibeton, nanti saya lupa bau kayu,” ujarnya.
Setiap pagi, ia duduk di bangku tua – buatan tangan Ata Hoding, suaminya dan mulai menenun. Tangannya gemetar, tapi ritmenya tetap. Benang seolah tahu ke mana harus pergi. Ia tak selalu selesai, tapi tak juga terburu-buru. Satu-satunya suara konstan di rumah itu adalah alat tenun. Selebihnya: angin, dan kabar yang kadang datang dari Kupang.
Anita, anak bungsunya, kuliah di sana. Jurusan komunikasi, katanya. Tapi yang lebih sering dikomunikasikan adalah kebutuhan bulanan. Maria selalu kirim, meski kadang hanya seratus ribu. Meski Ata belum bisa melaut karena laut naik. Meski tenun belum laku karena jalan ke pasar longsor saban hari.
Kadang Yuliana, sahabat lamanya, datang membawa singkong, labu, dan kabar-kabar baru.
“Debora wisuda minggu depan,” katanya suatu sore. “Kami rencana ke Kupang.”
Maria tersenyum tipis, lalu memalingkan wajah.
“Aku dengar Anita belum juga isi KRS,” sambung Yuliana. “Terlalu sibuk dengan komunitas motor Scoopy dan pencinta K-pop,” katanya.
Maria hanya mengangguk. Di bale-bale bambu, dua perempuan duduk seperti dua simpul tenun: saling menguatkan, saling diam. Tak ada yang perlu dijelaskan. Mereka tahu: anak bisa menjauh bahkan dari doa.
“Masih jual tenun, Ma?” tanya Yuliana.
Maria menarik napas. “Sekarang makin susah. Badan ini lemah. Bawa tenun ke desa sebelah saja, sudah ngos-ngosan. Apalagi ke Maritaing.”
“Padahal dulu katanya mau dibuat desa wisata.”
“Iya, janji waktu kampanye. Dermaga baru, turis datang, ekonomi jalan. Tapi sampai sekarang, dermaga itu hanya tinggal puing diterpa gelombang. Tenun menumpuk. Tidak ke mana-mana.”
Yuliana diam. Mengunyah perlahan ubi rebus, meneguk air dari gelas bambu.
“Kau ingat waktu kita bilang, anak-anak kita harus sekolah lebih tinggi dari kita?”
Maria mengangguk. “Kalau perlu, kita tak makan, asal mereka bisa baca buku.”
“Kita ingin mereka bisa pilih benang sendiri dalam hidup.”
“Tapi kadang mereka malah menenun arah yang tak kita kenal.”
“Ya. Tapi kita tetap beri benang, kan?”
Mereka tertawa kecil. Tawa lirih, seperti suara alat tenun yang menyelesaikan satu baris.
***
Sore lain, Yuliana datang lagi. Ia membawa daun kelor dan dua labu kuning digendong dengan sarung. Setelah menaruhnya di dapur, ia duduk pelan.
“Debora wisuda minggu depan,” katanya pelan. Seolah takut kalimat itu bisa mematahkan hati sahabatnya.
Maria terdiam. Tangannya berhenti di benang yang separuh kusut.
“Puji Tuhan,” katanya akhirnya. “Kau tidak bawa undangannya?”
Yuliana tersenyum tipis. “Saya simpan. Saya pikir, Mama mungkin lebih tenang kalau hanya dengar kabarnya.”
Maria mengangguk pelan. “Kalau lihat undangannya, saya bisa menangis. Bukan karena iri. Tapi karena hati ini belum bisa bangga sepenuhnya pada Nita.”
Yuliana memegang tangannya. Dingin.
“Anak-anak punya waktunya sendiri, Ma. Debora pun jatuh bangun. Tapi kita tahu, bukan undangan yang penting, tapi langkah setelahnya.”
“Kalau kau jadi ke Kupang, titip lihat Nita, ya? Tak perlu bilang Mama suruh periksa. Cukup lihat saja. Kadang anak cuma perlu tahu bahwa ibunya masih melihat.”
“Saya pasti lihat. Dan saya akan bilang pada Nita, ibumu tetap menenun. Entah benangnya lurus atau kusut, yang penting dijahit dengan cinta.”
***

Anita duduk sendiri di kamar kos. Lantai dingin, mie instan di mangkuk plastik sudah menggumpal. Gola, pacarnya, tertidur masih memakai jeans.
Ponselnya menyala. Satu pesan dari Ibu.
“Maaf, Nak. Belum bisa kirim. Bapakmu belum turun laut. Tenun belum laku. Doakan kami, ya.”
Ia membaca pesan itu berulang-ulang, lalu menguncinya. Tak membalas. Dari luar, suara motor berseliweran. Dari kamar sebelah, suara tawa.
Malam itu, saat Gola tertidur, Anita duduk di lantai. Ia peluk selembar kain kecil dari rumah. Benangnya sudah berbulu. Tapi aromanya tetap sama. Kenari. Asap dapur. Rumah.
Ia tidak menangis. Tidak juga berdoa. Hanya diam. Kadang, diam lebih jujur dari apapun.
***
Anis menelepon esoknya. Kakaknya yang kini bekerja di Kalimantan.
“Nita, Mama cerita kamu belum jawab pesan.”
“Aku malu, Kak. Kecewa pada diriku sendiri.”
“Kalau jatuh, jangan menjauh. Kami tetap di sini.”
Anita diam.
Anis melanjutkan, pelan tapi tegas, “Kamu tahu kan, dulu aku rela tidak lanjut kuliah demi kamu bisa sekolah tinggi. Mama bahkan harus ngutang ke koperasi buat bayar registrasi awalmu. Tapi semua itu kami lakukan karena kami percaya… kamu bisa lebih jauh dari kami.”
“Aku tahu, Kak… justru itu yang bikin aku tambah malu.”
“Kalau mau berhenti kuliah sebentar, tak apa. Cari kerja dulu. Tapi jangan jadikan cinta atau gengsi alasan untuk lari dari tanggung jawab.”
“Kalian pasti capek.”
“Ya. Tapi kami tetap kirim, tetap menunggu. Karena kamu.”
Anita menatap bayangannya di layar.
“Aku akan berubah. Aku janji.”
***
Hari itu, Maria belum menenun. Tangannya dingin, matanya pedih. Tapi suara alat tenun tetap terdengar. Ata duduk menggantikan, meski tak tahu cara menyusun motif.
“Benangmu kusut, Ata,” kata Maria.
“Aku belajar,” jawab Ata. “Kalau tak ada yang menjual tenun, siapa yang mau beli asa kita?”
***
Anita mulai kerja di toko buku kecil. Gajinya pas-pasan. Tapi ia simpan sedikit demi sedikit.
Suatu malam, ia kirim pesan: “Ma, aku kirim seratus ribu. Maaf belum bisa banyak.”
Jawaban datang esok paginya: “Terima kasih, Nak. Uangmu sedikit. Tapi doamu cukup untuk kami hidup hari ini.”
Anita menangis. Tapi ada sesuatu yang terasa lurus di dalam dirinya. Seperti benang yang ditarik pelan-pelan agar tidak kusut lagi.
Ia kirim rekaman suara ke Anis: “Aku akan lakukan sesuatu. Bukan demi uang. Tapi agar Mama dan Papa bisa berhenti menenun di kepala mereka sendiri.”
***
Di kampung itu, tenun belum selesai. Tapi tangan Maria tetap bekerja. Sebab hidup tak harus lurus. Cukup dijahit dengan cinta. Dan jika kau singgah suatu hari nanti, kau akan dengar suara benang yang saling bercerita – tentang anak-anak yang pernah pergi, dan yang pelan-pelan mulai menenun jalannya pulang.
Keterangan:
Apui, salah satu kecamatan di pegunungan Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur
Ternate, salah satu pulau di Kabupaten Alor, ibu-ibu berprofesi sebagai penenun, bapak-bapak umumnya adalah nelayan.
***
TENTANG PENULIS: Refael Molina lahir di Pulau Ternate, Alor, 26 September 1990. Lulusan S1 di Universitas Kristen Artha Wacana Kupang (2014) dan kini menempuh studi Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Nusa Cendana. Memiliki NIM 2311090005. Ia pernah bekerja sebagai wartawan Timor Express Kupang (Jawa Pos Grup), aktif menulis opini, esai di berbagai media seperti detik.com, Pos Kupang, dan Timor Express, Victory News, the columnist, geotimes, dan lain-lain – sejak menjadi mahasiswa 2010. Cerpen dan puisinya tidak pernah dimuat di media nasional, kecuali tersebar di media cetak lokal NTT. Menaruh minat pada kegiatan literasi. Hasil kolaborasi bersama Pemimpin Media Cakrawala NTT – saudara Gusty Ricarno, S.Fil, ia dipilih menjadi editor buku: Menulis Fakta Menggagas Makna (2022), dan buku berjudul Lentera (2022) Kedua buku merupakan Kumpulan artikel para guru sekolah menengah atas Penerbit Cakrawala NTT.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Redaksi menyediakan honor Rp. 100 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:



