“Mana tangganya kang?” tanyaku
“Itu yang disamping tempat cuci piring. Ada tangga besi yang menempel di dinding masjid,” katanya sambil menunjuk tangga yang dimaksud.
“Ini cara naiknya gimana? Apa tidak jatuh nanti? Buat pijakan kakinya saja ada yang patah,” aku cemas juga.
“Naik aja. Pelan-pelan. Tangan memegang besi di atas, kaki naik ke pijakan. Harus kuat pegangan tangannya,” katanya lagi.
Setelah bersusah payah, akhirnya aku bisa sampai ke lantai 2 setengah yang ternyata sebuah plafon disulap jadi ruangan yang terbuka. Di atas plafon dipasangi papan untuk bisa menaruh lemari dan kasur lipat. Lokasinya di depan mimbar sholat. Angin semilir masuk dengan leluasa.
Di tempat itulah, aku kerap tiduran karena tempatnya sepi dan cocok untuk merenungkan perjalanan hidup sebagai mahasiswa. Aku juga sering menulis catatan harian di ruangan itu.
Apabila jadwal kuliah sedang senggang, aku juga kerap naik ke lantai tersebut untuk menepi atau juga tidur siang. Angin yang semilir semakian membuat nyaman di lantai itu meski dengan alas tidur seadanya. Kalau malam hari, ruangan itu tidak digunakan dan tidak layak dijadikan tempat tidur karena ruangannya terbuka dan angin bebas keluar masuk.

Bahkan di tempat inilah, aku menyimpan barang hasil rampasan “perang” berupa helm polisi anti huru hara saat demo di depan kampus yang berakhir rusuh.
“Ron, ente yah dipercaya untuk menyimpan helm PHH . Jangan sampai helm itu diambil lagi oleh polisi,” tunjuk teman-teman saat setelah rapat di ruang SEMA membahas paska aksi yang berakhir bentrok dengan aparat.
Dengan dimasukkan ke dalam dus mie instan, aku membawa helm PHH itu ke arah masjid. Kulihat sekilas aparat kepolisian masih ada yang berjaga di depan kampus. Aku berjalan cepatdan naik melalui tangga menuju tempat sholat wanita lalu berbelok ke mimbar utama . Dari sna naik ke lantai dua setengah untuk menaruh helm tersebut di dalam lemari papan.
Setelah helm milik polisi dipastikan aman, aku kembali bergabung dengan kawan-kawan mahasiswa di ruang SEMA. Keadaan cukup menegangkan karena infonya polisi masih mencari di mana keberadaan helm itu. Pihak rektorat meminta agar helm itu dikembalikan lagi ke pihak aparat kepolisian, tapi para mahasiswa tak menanggapinya dengan serius. Seakan tidak tahu di mana helm itu.

Seiring waktu, setelah aku tidak lagi menetap di masjid, helm itu aku bawa ke kosan dan tahun berikutnya dititipkan ke salah satu warga terdampak proyek jembatan layang Pasupati yang saat itu kami mengadvokasi para warga yang menolak proyek jembatan layang tersebut.
Bersambung ke bagian 16


