Cinta dan Gerakan Reformasi (2)

Ibu itu diam. Tak berani lagi.
“Awas yah kamu nuduh saya lagi. Akan tahu resikonya!,” kata lelaki itu sambil tangannya menunjuk-nunjuk wajah si ibu yang ketakutan.
Tak ada satu pun yang menolong. Semua penumpang diam seribu bahasa. Seolah-olah pura-pura tidak tahu ada peristiwa kekerasan dan pengancaman itu. Tak ada yang berani untuk membelanya.

Termasuk aku, seorang anak muda tanggung yang ternyata seorang penakut. Tak ada keberanian sedikitpun untuk membela si ibu itu. Padahal duduknya di kursi yang bersebelahan dengannya. Jelas tampak wajah si ibu yang merah itu. Dan jelas juga wajah lelaki yang beringas itu. Aku hanya bisa menunduk karena cemas.

Mobil Damri yang kutumpangi sejak dari Terminal Leuwipanjang itu masih terus melaju dengan kecepatan sedang. Di dalam, penuh terisi penumpang hingga saling berdesakan. Sebagian terpaksa berdiri. Saat bus melaju lambat karena jalan mulai tersendat, lelaki beringas itu turun bersama dua lelaki lainnya.

Meski lelaki itu sudah pergi. Suasana di dalam bus terasa sunyi senyap. Tak ada suara orang berbincang. Sepertinya para penumpang masih shock atas kejadian barusan. Semuanya diam dalam pikirannya masing-masing.

Aku pun demikian. Terbayang tentang perjalanan hidupku sehingga harus berada dalam bus sialan ini. Ini adalah pengalaman baruku, meninggalkan rumah yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer. Demi satu tujuan: mendaftar kuliah.

Dengan berbekal restu orang tua meski setengah hati, ku bertekad ingin kuliah di kampus yang sesuai dengan keinginanku menjadi seorang pelukis.
“Buat apa kamu mau kuliah seni, nanti lulus mau jadi apa?”, tanya orang tuaku pada waktu itu.

“Jadi pelukis itu tidak ada jaminan untuk hidup. Nanti susah cari pekerjaan”, tambah perkataan ayahku (Baca:Abah).
“Tapi Enggup ingin jadi pelukis, Abah”, jawabku.
“Iya sudah, terserahlah. Kalau itu sudah keinginanmu, abah ikut aja,” akhirnya orang tuaku mengalah meski masih belum yakin akan masa depanku nanti.
“terus mau kuliah dimana?” tanya Abah.
“ di Fakultas Seni Rupa ITB, Abah,” jawabku dengan mantap.

Setelah menyelesaikan sekolah di MAN 2, aku memang sudah jauh-jauh hari punya rencana melanjutkan ke perguruan tinggi yang ada jurusan seni. Alasannya waktu sekolah dulu pernah ikut lomba melukis dan kerap dapat juara. Di sekolah, juga pernah mengurus majalah dinding yang isinya banyak membuat gambar dan karikatur.

Saat masih melamun memikirkan perjalanan hidupnya, terdengar suara kondektur bus.
“ITB, ITB, siapa yang tadi mau minta turun di kampus ITB?”
“Iya pak, saya”, jawabku dengan agak terbata-bata.
“Iya di sini turunnya. Nanti jalan kaki aja ke arah jalan itu. Itu sudah masuk kawasan kampus,” kata kondektur saat bus berhenti.

Waktu menunjukkan pukul 3 sore ketika kakiku melangkah menuju kampus yang dituju. Suasana terasa asing dan rasa sepi mulai menggelanyutiku.

Di kanan kiri jalan, berdiri dengan tegaknya pohon-pohon angsana berusia ratusan tahun dengan daun-daunnya yang lebat membuat cahaya matahari menjadi terhalang masuk. Cuaca sudah mulai terasa dingin dan mendung.

Di antara para pejalan kaki, tak satu pun yang aku kenal.
Terlihat di ujung sana tak jauh dari kebun binatang, berjejer puluhan kuda untuk jasa keliling wisata.

Di sebelah kiri jalan nampak Masjid Salman yang cukup megah dengan halamannya yang tertata rapih. Aku bersegera menuju masjid untuk menunaikan shalat Ashar terlebih dulu.

Bersambung ke bagian ke-3

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==