Cinta dan Gerakan Reformasi (9)

Tak jauh dari kampus biru Unisba, di seberang jalan sana ada juga kampus lain yakni Unpas. Akhirnya setiap hari jalanan penuh oleh banyak kendaraan dan lalu lalang para mahasiswa.

“Hemm, itu yang sedang berdiri di depan mobil yang menjajakan buku di depan kampus itu sepertinya temanku waktu di pesantren dulu,” ungkap seorang gadis dalam batinnya yang tengah duduk di bagian kursi belakang angkot yang ditumpanginya.

“Masa sih, bukanlah. masa dia kuliah di sini,” batinnya masih tak yakin.

“Tapi rasa-rasanya iya. Dia itu Roni. Mungkinkah dia kuliah di Unisba?” tanyanya dalam batinnya.

Angkot yang ditumpangi terus melintasi depan kampus Unisba dan perlahan menuju arah Lengkong. Tempat gadis itu kuliah, tepatnya di fakultas sosial dan politik.

Gadis itu hanya bisa melihat dari kaca belakang angkot yang ditumpangi. Mobil semakin lama semakin menjauh dan sosok lelaki muda itu hilang dari pandangannya.

Dalam batinnya, ada semacam rasa senang telah melihat kembali seorang pemuda yang dulu pernah menjadi teman semasa pesantren dan satu angkatan di sekolah. Ada perasaan nyaman ketika bertatap muka dan bercakap-cakap meski tak lama waktu masih sekolah dulu. Sosok lelaki yang cukup tampan dan berwibawa di mata gadis itu.

” Saya menyesal juga tak sempat menyapanya.Tapi semoga suatu saat nanti bisa kembali berjumpa dengannya dan saling bertegur sapa,” kata sang gadis dalam hatinya.

Ingatannya kembali pada peristiwa 3 tahun lalu. Ketika pertama mendapat salam dari seseorang yang belakangan bernama Roni saat masih kelas 1. Ada perasaan suka akan sosok lelaki itu. Namun karena tak ada sinyal selanjutnya dari sang lelaki itu, perasaan itu menjadi seperti biasa saja. Tak lebih sebatas teman satu angkatan.

Bahkan bila mengingat peristiwa saat kemah pramuka di pantai carita dulu, hatinya berubah menjadi benci akan lelaki itu karena tanpa ijin menyimpan fotonya. Karena kesal, foto itu diambil paksa oleh gadis itu. Lelaki itu hanya diam saja tak berusaha untuk mengambilnya kembali.

“Iya itu dulu, selama 3 tahun lamanya tak pernah akur. Hal sepele menjadi masalah besar. Padahal mungkin maksud si lelaki itu baik ingin bisa dekat denganku, tapi caranya sangat norak,” gumam gadis itu sambil tersenyum simpul.


.”Aku ingat ketika dia menyebut diriku gadis berkerudung hitam, sungguh membuat hatiku bahagia dan merasa suatu saat nanti dia akan menjadi pacarku,” kembali pikirannya mengenang kala itu dan kali ini si gadis tersenyum sendiri di dalam angkot menuju kampusnya.

“Seandainya dulu jadian sama lelaki itu, mungkin banyak yang tak menduga karena aku lebih banyak dekat dengan teman lelaki satu daerahku yang satu pesantren. Tapi memang dia lelaki yang beda. meski satu angkatan, tapi dia dewasa dan selalu ramah dan bahasanya lemah lembut padaku, ah aku jadi ingat dia lagi”, kenang gadis itu kembali.

Bersambung ke bagian 10

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==