Orang-orang yang menyukai game di atas, mungkin akan senang sekali mendengar kabar bahwa game yang dimainkannya masuk dalam cabang olahraga SEA Games. Tapi, di balik kejadian tersebut ada hal miris yang terjadi berulang-ulang, bahkan berdampak negatif dengan jangka berkepanjangan.

Sebagai contoh, kasus 2 pelajar di Madiun yang mencuri uang hingga 102 juta untuk top-up game online, kasus remaja kecanduan game online hingga bunuh diri dari lantai 13 apartemen, kasus dua bocah berhenti sekolah satu tahun hanya untuk menyelesaikan game online, dan masih banyak lagi kasus lain (lihat kompas.com).
Peran orang tua untuk mengawasi dan mengedukasi anak dalam bermain game sangat penting dilakukan secara konsisten. Jangan sampai lepas dalam penglihatan atau pengawasan orang tua. Dampaknya akan sangat buruk, contohnya adalah kasus yang telah disebutkan di atas. Tidak hanya orang tua, lingkungan sekitarnya harus mendukung untuk meminimalisir bermain game online.

Orang tua bisa memberikan batasan waktu kepada anak dalam bermain game online, guru sekolah bisa memberikan aturan kepada para murid agar jangan membawa smartphone, keluarga tidak memainkan HP di samping anak yang masih perlu kasih sayang dan contoh yang baik, serta masih banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk mencegah kecanduan game online.
Mari sayangi anak dan lebih peka dengan lingkungan sekitar. Bagaimana pun, anak adalah investasi masa depan yang seharusnya mendapatkan kebahagiaan dengan cara yang baik dan positif. Jangan sampai anak-anak menjadi rusak hanya karena benda mati! (MNF/Dari situs Unpslash.com)



