“Pengin pizza, pengin donat, pengin roti ….” gumamnya lirih. Lalu disapunya layar dengan jari untuk mencari camilan lain. Beberapa merek terkenal tak dihiraukannya. Beberapa merek dihindarinya karena alasan kemanusiaan.
“Apa aku buat pizza sendiri saja?” tanyanya galau. Lalu berselancar mencari resep pizza.
“Pizza butuh waktu lama. Apa bikin roti maryam saja?”

Monolog itu dilanjutkan dengan menonton video cara membuat roti maryam. Ia takjub karena menyaksikan cara baru dan bercita-cita membuat roti maryam banyak-banyak untuk disimpan di kotak pendingin.
“Kapan pun anak-anakku ingin roti maryam, mereka tinggal ambil.”
Ia masih menimbang-nimbang makanan pilihan, dan memilih-milih membeli atau membuat sendiri. Ia terus memikirkan hal itu sambil berjalan ke dapur, tepatnya ke sebuah kotak pendingin.
Dibukanya tutup kotak dan melihat-lihat isinya. Diambilnya sebuah kotak plastik dan dibukanya terburu-buru. Ada plastik-plastik berisi irisan tempe beku dalam kondisi baik. Senyumnya mengembang.
Tangannya meraih seplastik tepung terigu dan menuangkannya ke baskom kecil. Wajah seorang istri itu semringah.

“Gais, aku akan membuat makanan kesukaan suamiku, yaitu tempe mendoan!”
Tak ada kamera yang merekam. Namun, ia terus saja berpura-pura berada dalam siaran langsung acara masak-memasak sampai camilan matang.
Ia telah menemukan cara memasak dengan suka cita.
Rumah Dunia, 7 November 2024


