Setiap pagi, kami pandangi kursi-kursi yang lain. Berharap mereka ada tentu tidak adil. Paling juga si sulung Nabila dua minggu sekali weekend, duduk menemani makan sambil menceritakan mimpinya domisili di luar negeri. Begitu juga ketiga adiknya, tidak ada yang ingin berdomisili di Kota Serang. Kata mereka, “Kota Serang tidak kreatif.” Mengumpulkan mereka di meja makan setahun sekali baru bisa. Akhirnya saya sering mengajak Tias makan di luar.

Sejak kami menikah, meja makan diniatkan tidak sekadar tempat makan, tapi juga curhat. Ketika keempat anak kami lahir, tumbuh besar, dan bermimpi, kami biarkan mereka “ribut” di meja makan. Kami melatih mereka agar mau berbicara secara langsung. Iklim dialog kami bangun, jangan sampai mereka curhatnya di medsos.
Gol A Gong



