Di Sebuah Kamar Hotel Melati di Kupang

Ketika dua relawan Rumah Dunia kesurupan, hal klasiknya memang mereka dalam keadaan capek, belum makan, dan sedang tidk sehat. Alhamdulillah, para relawan lelaki Rumah Dunia berhasil mengatasi.

Saya jadi teringat peristiwa 1991 di sebuah hotel di Kupang. Saya naik perahu dari Rote Ndau. Perahu kayu. Dua malam. Ketika mendarat, saya lelah sekali. Saya mencari hotel melati di sekitar kota lama sekarang, dekat mercusuar.

Saya diberi kamar murah, Rp. 5000/malam. Itu tahun 1991, lho. Dolar Amerika masih di kisaran Rp. 700,-. Kamarnya di belakang. Ranjangnya tingkat. Saking lelahnya saya tidur. Saya terbangun karena mendengar suara kran air di kamar mandi. Sepertiga malam. Ketika bangun, saya tidur di ranjang atas padahal awalnya saya tidur di ranjang bawah. Keran air saya matikan. Saya wudhu, mau tahajud.

Setelah tahajud, saya leah, tidur lagi. Saya merasakan tubuh dingin. Rupanya saya tidur di lantai. Saya salat lagi dan berdzikir hingga pagi.

Pagi-pagi saya check out, mau melanjutkan perjalanan ke Soe. Saya bertanya ke resepsionis, “Di kamar yang saya tempati ada apa, ya?”

Di luar dugaan, si resepsionis memberi keringanan kepada saya. “Mas, tidak usah bayar. Gratis.”

“Oh, makasih. Tapi, di kamar itu ada apa?”

Si resepsionis meminta saya bercerita. Saya ceritakan panjang lebar. Dan si resepsionis mengatakan dengan pelan, ‘Dulu ada pelayan bunuh diri di sana, Mas.”

Gol A Gong

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==