Rudi berdiri merapat ke tembok. Tubuhnya terhalang tanaman pucuk merah. Dia sekarang bisa melihat ke dalam café secara leluasa. Cahaya temaram melindungi keberadaannya.
“Tuh, mereka! Dasar!” Yanto merapat ke tubuh Rudi; dia juga melihat ke ruangan dalam café.
“Ssst! Jangan keras-keras,” Rudi mendorong tubuh Yanto dengan halus agar menjaga jarak.
Sejak tadi kedua mata Rudi tidak berkedip, menatap marah kepada Alex dan Agnes, yang duduk bermesraan di sudut café. Tangan Alex membelai punggung tangan Agnes. Candle night menghiasi meja mereka.
“Sekarang kamu percaya kan! Aku nggak nyebar hoax kan!” Yanto tersenyum, mendekat lagi ke Rudi.

“Aku nggak nyangka! Agnes!” Rudi mengepalkan tangan kanannya.
“Pagar makan tanaman! Temen makan temen!”
Rudi menjambak-jambak rambutnya dengan kedua tangannya.

“Sudah! Lupakan!”
“Bagaimana bisa!”
“Aku bilang ka, jangan percaya sama Alex! Dia mendua!”
“Ah!”
“Rud! Masih ada aku yang mencintaimu!” Yanto yang sejak tadi berdiri gelisah meraih tangan kiri Rudi, meremasnya dengan perasaan sayang tapi was-was.

“Jangan…”
“Aku serius.”
Rudi menepis tangan Yanto dengan halus. “Aku mohon maaf. Tanpa bermaksud menyakitimu. Kita berteman saja!”
“Kamu lihat! Apa yang sudah Alex lakukan sama kamu!”
“Biarkan saja! Sekarang aku memikirkan omongan Mama! Selama ini aku dan Alex sudah salah jalan!”
“Rud!”
“Sadarlah, Yanto! Apa yang kita lakukan ini salah jalan!” Rudi membalik, pergi, dan meninggalkan Yanto yang berdiri mematung.
Yanto menjerit dan berlari mengejar Rudi.
***
*) Rumah Dunia 20 Mei 2022




Keren. Saya awalnya sempat protes kenapa menulis cerita yang mendukung LGBT. Setelah selesai membaca pesannya sampai.
Cara menyampaikan pesan tidak selalu harus dari tokoh baik. Jika menulis cerpen tokohnya baik semua, tidak ada konflik, nanti pembaca bosan, karena nanti isinya ceraah semua. Coba sekarang baca “Pelang dari Haji”.