Di setiap kota, aku selalu mengajak Jordy-Natasha jalan kaki city tour, mengikuti arus warga yang menghiasi trotoar kota.
Ya, aku paling senang jalan kaki sejak di Bangkok, Vientiane, Hanoi, Kunming, Chongqing, Beijing, Urumqy China, dan sekarang Almaty Kazakhstan. Aku mengajak kedua anakku melibatkan diri dengan warga setempat di trotoar, melempar senyum kepada mereka dan berseru, “We are from Indonesia!”


Momen yang paling membuatku bersemangat adalah ketika menyeberang bersama mereka di traffic light. Aku seolah sedang mengalir di sebuah arus sungai. Jordy-Natasha juga merasakan hal sama.
Kataku, “Ingat nggak pernah Papah bawa ke Singapura?”
Jordy-Natasha mengangguk. Saat itu tahun 2013. Aku mengajak mereka bersama ibunya ke Singapura untuk mengenalkan bagaimana peraturan diterapkan; dilarang buang sampah sembarangan, menyeberang jalan harus menunggu lampu hijau, dan mengantre. Jordy lahir 2004, Natasha 2005.

Kemudian tahun 2015, aku mengajak Jordy backpackeran ke Singapura, Malaka, dan Kuala Lumpur. Aku membiarkan dia berinteraksi dengan warga lokal. Kadang aku minta dia yang membeli tiket kereta, bus, dan membayar.
Sekarang Jordy-Natasha sudah dewasa. Jordy di Jogja Film Academy dan Natasha di Bahasa Korea UPI Bandung. Di Literacy Journey 12 Negara ini, Jordy-Natasha harus menulis buku travel writing. Aku selama ini lebih sering membagikan ilmu menulis kepada relawan Rumah Dunia, sekaranglah saat yang tepat mengajari mereka menulis.


Sambil berbaur bersama warga lokal, aku ajak mereka berdialog. Jalanan menjadi kelas terbuka. Kata Ki Hajar Dewantoro, “Robohkan satu dinding kela, agar anak-anakmu melihat cakrawala.”
3 Februari 2026
Gol A Gong
Traveler, Author



