Pertama kali saya datang ke Kota Tegal, mengunjungi TBM Sakila Kerti di pojokan terminal Kota Tegal pada tahun 2012. Saya terkejut. Ruangan 6 X 5 meter dan bersebelahan dengan toilet umum terminal. Seorang akademisi dengan gelar “doktor” mengabdikan hidupnya mengurusi warga yang dikategorikan masyarakat berkemampuan rendah, bodoh, miskin, suka mabuk dan tidak bermoral. Bagi saya ini luar biasa. Saya harus membantunya.

Doktor Yusqon berkisah, “Mereka disebutnya sampah masyarakat. Saya prihatin. Saya terpanggil untuk menaikkan derajat mereka. Itu soal pendidikan.”
Ceritanya lagi, “Tanggal 22 Desember 2011, Walikota Tegal, Pak Ngasmawi dari Kemdikbud RI dan Pak Jukri dari Dinas Kota Semarang meluncurkan TBM Sakila Kerti.”

Sang Doktor yang baik hati ini ingin memutus kebodohan yang menghinggapi warga kelas bawah di terminal Kota Tegal. Kondisi pengasong dan warga di terminal Tegal yang 90 % buta aksara, hijaiyah dan Putus sekolah, memanggil-manggilnya untuk memberi cahaya terang kehidupan kepada mereka. Dia juga ingin menghilangkan ketergantungan kepada tengkulak, yang menjerat mereka dengan utang.
“Banyak juga pelanggaran hukum di sini seperti mabuk dan pencurian. Maka keberadaan TBM Sakila Kerti dengan pengembangan membuka sekolah terminal kejar paket ABC tiap hari Senin sampai Kamis dilanjutkan Jumat untuk baca Qur’an, sangat efektif untuk memutus kebodohan,” Doktor Yusqon optimis.

Ketika kedatangan saya yang kedua pada 2016, TBM Sakila Kerti berkembang pesat. Luasnya jadi 6 X 15 meter. Ruangannya terdiri dari 3 ruang, yaitu ruang baca, ruang pembelajar, dan ruang pemberdayaan. Saya sudah tidak jadi Ketua Umum PP Forum TBM Indonesia lagi, tapi datang sebagai penulis.
Selalu ada kegiatan literasi disiapkan Doktor Yusqon untuk menjamu saya. Misalnya saya dipertemukan dengan pedagang asongan di terminal. Saya bercerita tentang masa kecil saya yang kehilangan tangah kiri untuk memberi semangat kepada mereka. Kadang juga Dr. Yusqon memfasilitasi para pegiat literasi Kota Tegal berkegiatan bersama saya di sini. Pak Yusqon memang Doktor yang baik hati.
Paling seru ketika saya dan keluarga – Tias Tatanka, Gabriel (18 th), Jordy (13 th), dan Natasha (12 th) – Nabila di Ghuangzhou, Tiongkok – keliling Jawa menyulut Gempa Literasi tahun 2017. Kami sekeluarga merapat ke TBM Sakila Kerti. Kami berpesta literasi. Dan setiap ke Kota Tegal, setelah selesai dengan Sakila Kerti, pasti beberapa komunitas literasi meminta kami berkegiatan di tempat mereka.

Dr. Yusqon tidak pernah kapok dan bosan memestakan saya. Lalu 2017, saya dan Maman Suherman. Ketika pandemi Covid-19 pada September 2022, saya sudah ditetapkan jadi Duta Baca Indonesia, bersama Rudi Rustiadi, dan Daniel Mahendra memulai Safari Literasi Jawa Barat dan Jawa Timur. Berlanjut Safari Literasi Jawa-Bali-NTB-NTT Januari hingga April 2022. Taufik Hidayatullah bergabung. Juga Kapolres Kota Tegal yang gemar membaca novel karya saya, Rahmad Riyadi, menyiapkan kegiatan literasi di Polresnya.


