Berhubung kesempatan nonton berdua tampaknya susah, saya minta izin ke bioskop sendiri tanpanya. Kebetulan baru Kamis (18/7) saya punya kesempatan menonton. Semula mau nonton sama anak. Tapi saya belum tahu reaksi saya sendiri, jadilah nonton seorangan.

Sebelum menonton saya berniat browsing review film produksi Starvision Plus ini, agar dapat banyak pencerahan dan kesempatan memandang dari sisi lain. Tapi akhirnya tidak jadi browsing karena tidak sempat sama sekali, rencana nonton pukul 13 maju jadi pukul 11 demi memanfaatkan waktu.
Saya masuk teater saat ruangan baru diisi dua orang. Jadi saya menikmati bagaimana penonton hilir mudik masuk mencari dan menempati kursinya. Rata-rata usia belasan hingga dua puluh tahunan. Ada yang berpasangan, ada berombongan. Saya mengedarkan pandangan di menit-menit terakhir jelang lampu dimatikan, penonton telah memenuhi tiga perempat studio.

Berikut komentar saya :
- Sejak awal saya terbius akting Zara (memerankan Dara) yang tanggung, tetapi malah mewakili karakter remaja yang easy going dan belum bisa tanggung jawab.
- Adegan kebablasan di awal film memang cukup menyentak. Ini agak riskan ditonton anak tanggung yang mulai muncul libido. Saya aja jadi kangen suami. Hahaha.
Tapi bagus jika nonton bareng ortu. Lalu ortu bisa jelasin adegan di awal, jadi dari situ lho, munculnya nafsu. Karena rasa sayang yang berlebihan dan kesempatan untuk berhubungan badan. Bisa juga dicarikan referensi medisnya.
Itulah kenapa ada anjuran menikah kalau sudah tidak bisa menahan syahwat dan sudah siap lahir batin. Kalau belum siap, puasa.
Itu juga kenapa jangan mendekati zina, bahayanya pacaran, semua aturan dalam agama ada maksudnya, sebagai kontrol diri.
Para ortu juga harus peduli, jangan percaya begitu saja kepada anak yang berdua-duaan dalam kamar, apalagi beda jenis kelamin.
Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali. Bagaimana soal cinta? Butuh orang tua yang terus peduli. - Cerita rapi jali. Butuh nonton berkali-kali untuk saya menemukan bagian yang mengecewakan. Jadi saya nggak akan komentar karena baru nonton sekali.
- Endingnya mengejutkan meski sudah ada petunjuk tentang risiko kehamilan di film ini. Tapi saya merasa janggal kenapa opsi operasi terakhir yang menyelamatkan nyawanya jadi dipandang biasa-biasa saja oleh Dara. Dan saya seperti diingatkan, memang begitulah realita kebanyakan remaja kita. Easy going dalam banyak hal, risikonya urusan nanti. Sebagai orang tua dari empat anak yang sudah baligh semua, hati saya berkibar-kibar mengingat kenyataan di sekitar.
- Anak muda penduduk +62 memang masih banyak yang karakternya seperti disebut tokoh Dewi saat memarahi adiknya. Apa itu? Silakan tonton dan perhatikan sendiri.
- Jika nonton berdua dengan suami, kami sesekali berbisik menebak adegan, mengomentari, atau setengah protes. Tapi saya nonton sendiri dan menangkap jelas saat dari kanan-kiri terdengar bunyi isakan beberapa saat menuju ending. Ya ampun, ada yang menahan haru.
- Sebelah kiri saya perempuan sebaya, datang sendiri. Tampak ia lebih larut dalam adegan pemain. Beberapa kali terpengaruh akting Cut Mini dan menyesalkannya. Kali lain ia berbisik istighfar saat adegan konflik. Sesuatu yang mungkin hanya akan saya lakukan dalam hati di bioskop
- Setiap menonton film saya akan menunggu credit tittle selesai. Biasanya akan terganggu penonton yang keluar. Tapi kali ini berbeda. Penonton tidak buru-buru keluar bioskop. Agak heran juga, ‘dapani’? Barangkali karena poin 6 dan 7 di atas.

Menonton film ini bagi kita yang dewasa bak mengenang kejayaan masa lalu. Saat kulit masih ranum dan mulai glowing alamiah. Pun saat kebingungan melanda dituntut mengambil keputusan-keputusan. Tapi tokoh-tokoh dalam film ini mewakili usia anak muda terutama di Indonesia, seperti berada di persimpangan. Hanya ada pilihan ke kanan, kiri dan teruskan. Tak ada pilihan ke atas, untuk sekadar melihat ke mana masa depan.
Untuk itulah diperlukan bimbingan orang tua, yang pernah merasakan masa muda. Anak muda, bertanyalah pada mereka tentang masa yang akan kalian jalani. Kecuali kalian tak ingin sampai di usia sama. 🙂
Rumah Dunia, 18 Juli 2019
@tiastatanka



