Reaksi tersebut sebagian besar berisi keluhan dan keberatan tentang pengisian e-kinerja tersebut. Uniknya keberatan tersebut tidak hanya disuarakan oleh guru-guru yang masa pensiunnya kurang dari masa jabatan presiden. Keluhan tersebut banyak juga disuarakan oleh guru-guru milenial akhir dan gen-Z yang kesehariannya lebih sering memegang gawai daripada memegang buku.

Menurut saya hal tersebut cukup wajar. Saya juga selaku guru muda awalnya sedikit overthinking mengenai e-kinerja ini. Hal ini disebabkan karena pelaksanaan e-kinerja yang diintegrasikan dengan PMM baru dilakukan tahun ini. Apalagi dengan track record PMM yang memerlukan kemampuan literasi digital cukup agar bisa digunakan secara maksimal. Sehingga tugas untuk menyelesaikan e-kinerja sudah terasa berat walaupun belum dikerjakan.


Diperparah dengan banyaknya berita simpang-siur menganai e-kinerja 2024 di berbagai media sosial; baik itu instragram, tik tok maupun youtube yang menyatakan bahwa e-kinerja 2024 itu seperti ini…, seperti itu…, dan seterusnya. Semua berita tersebut saling tumpang tindih dan bertabrakan tanpa sumber-sumber yang bisa dipercaya. Bahkan berita-berita tersebut seakan-akan menenggelamkan informasi resmi yang disampaikan langsung dari pihak Kemendikbudristek. Menyebabkan kebingungan akan pemahaman tentang konsep e-kinerja itu sendiri.


