Oleh Muhzen Den
Dewasa ini sumber informasi mudah didapatkan, baik secara manual maupun secara online. Namun, kemudahan tersebut membuat kita malas bertindak lebih bahkan maunya praktis dan cepat beres.
Membaca adalah cara kita mendapatkan informasi yang ada di luar diri ini untuk dijadikan wawasan berpikir. Ibaratnya, membaca merupakan cara kita mencerna informasi. Apakah kita cukup dengan membaca saja? Ternyata tidak. Jika kita kelebihan informasi justru kurang baik untuk otak sehingga menimbulkan kegelisahan dan overthinking alias berpikir macam-macam.
Oleh karena itu, ketika informasi yang begitu pesat masuk ke dalam otak maka cara untuk mencerna menjadi bentuk nyata adalah menulis. Menulis merupakan cara mengikat makna (kata alm Hernowo) agar informasi yang ada di kepala ini dapat tersalurkan.
Menulis adalah aktivitas literasi yang mendokumentasikan informasi lewat tulisan sehingga menjadi karya. Karya tulis berbagai macamnya, tapi hanya karya kreatif yang akan diperhitungkan, seperti karya sastra (puisi, cerpen, pantun, novel), karya tulis ilmiah (laporan penelitian, tesis, skripsi, disertasi), dan karya tulis popular (artikel, kata-kata inspiratif, esai, teks pidato dan lainnya).

Membaca dan menulis merupakan dua aktivitas literasi yang saling mendukung atau simbiosis mutualisme untuk meningkatkan cara berpikir cerdas. Dengan membaca maka akan kita menambah asupan gizi ke otak agar semakin berwawasan. Dengan menulis maka kita telah mengikat informasi atau ilmu menjadi sebuah karya nyata yang memiliki manfaat.
Dua pilar metode berbahasa ini sangat penting bagi kehidupan. Tanpa membaca ibarat kita seperti melihat dunia tanpa keindahan. Tanpa menulis ibarat kita membiarkan keindahan dunia tanpa terdokumentasikan.
Makanya, sesibuk apapun kita dalam bekerja maupun menjalani rutinitas yang berulang, cobalah untuk berhenti sejenak dengan cara membaca dan menulis. Nikmati waktu luang maupun sempit dengan cara membaca dan menulis niscaya pengaruhnya akan terasa bagi diri kita sendiri. Terima kasih.



