Pak Danang menggandeng tangan putrinya, Tasya, yang mengenakan kaus kuning dan celana training biru, menuju bangku panjang di taman kota.
“Ayah!” Tasya menunjuk penjual es krim keliling di bawah pohon rindang. “Es krim, Ayah.”
Pak Danang tersenyum, “Jangan, Nak. Nanti perut kamu sakit.”
Tasya menunduk. Ia melihat dua anak seumurannya sedang menjilati es krim cokelat dan stroberi sambil tertawa-tawa.
Melihat raut kecewa itu, Pak Danang mengusap kepala putrinya. “Gimana kalau kita makan bubur kacang ijo aja? Hangat, manis, banyak vitaminnya. Ayah tahu kamu suka yang ada ketannya.”
Mata Tasya langsung berbinar. “Mau!”
“Baik. Tapi kamu tunggu di sini, ya. Jangan ikut siapa-siapa. Kalau ada yang aneh atau gangguin kamu, itu ada Pak Polisi tuh, kamu bisa minta bantuan. Tapi tetap duduk di sini, ya. Jangan ke mana-mana.”
Tasya mengangguk mantap. “Iya, Ayah.”
Pak Danang berjalan menjauh, menembus keramaian orang-orang yang berolahraga, bermain layang-layang, atau sekadar duduk bersantai di rumput. Tasya duduk sendiri, memeluk lututnya, matanya mengikuti ayahnya yang makin mengecil di antara kerumunan.
Beberapa menit berlalu. Seorang pria muda menghampirinya, wajahnya ramah.
“Adik sendirian? Ayahnya ke mana?”
“Beli bubur kacang ijo,” jawab Tasya singkat.
“Ibunya?”
“Ibu sudah meninggal kena Covid Sembilan belas, 3 tahun lalu.”
“Oh, ya sudah. Hati-hati ya,” katanya, lalu pergi.
Tak lama, sepasang suami istri dengan anak kecil ikut duduk di ujung bangku. Si ibu menawari Tasya sekotak bubur ayam hangat.
“Mau, Dek? Tante punya lebih.”
Tasya menggeleng sopan. “Makasih, Tante. Aku nunggu Ayah.”
“Ayahnya ke mana?”
“Beli bubur kacang ijo, Tante.”
Mereka tersenyum kagum, lalu pergi. Tasya tetap menunggu.
Akhirnya, dari arah kanan, Pak Danang muncul tergesa, napasnya sedikit tersengal, wajahnya berkeringat. Di tangannya ada dua gelas plastik bening berisi bubur kacang ijo, masing-masing dengan sendok plastik terselip.
“Maaf, Ayah agak lama. Antrenya panjang.”
“Gak apa-apa, Ayah.” Tasya menerima gelas bubur itu dengan hati gembira.
Mereka makan pelan-pelan di bangku itu. Buburnya hangat, manis, ada ketan hitam dan santan kental di atasnya. Wajah Tasya berseri-seri.
Saat sendok kelima hampir masuk ke mulut Tasya, seorang pria berseragam merah dengan topi bertuliskan “Donor Darah Hari Ini!” datang mendekat sambil membagikan selebaran.

“Donor darah yuk, Pak! Gratis bubur kacang ijo!”
Tasya mengambil satu selebaran dan membacanya sambil mengunyah. Ia menoleh pelan ke ayahnya, lalu matanya tertumbuk pada lengan kanan Pak Danang yang dilapisi kapas kecil berplester. Ayahnya haya tersenyum.
Tasya sedih. “Ayah… barusan donor darah, ya?” Pelan-pelan, sendoknya diturunkan.
Pak Danang tersenyum kaku. “Iya, kebetulan panitianya minta. Lagian, sehat-sehat aja Ayah, alhamdulillah…”
Tasya diam. Bola matanya mulai berkaca-kaca. “Andai Ibu masih ada, ya, Ayah…” Ia memeluk ayahnya tiba-tiba, erat.
Pak Danang membalas pelukan itu, menepuk-nepuk punggung Tasya. “Iya, Nak. Tapi Ibu pasti bangga liat kamu sekarang. Doakan Ayah, ya. Besok Ayah dipanggil wawancara di pabrik sepatu.” Si Ayah tersenyum.
Tasya mengangguk dalam pelukan. “Doa Tasya paling kuat, Ayah. Pasti keterima.”
Mereka melanjutkan makan bubur kacang ijo, di tengah keramaian taman kota yang tetap hidup dan hangat, seperti harapan kecil yang terus menyala dalam dada mereka.
*) Serang 26 Juni 2025 – Fiksi Mini ini disertakan di Rekor MURI 10 ribu Fiksi Mini SIP Publishing


*) Naufal Nabilludin, Aktif di Rumah Dunia sejak 2022. Penerimaan beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) BAZNAS Provinsi Banten. Pernah mengikuti program pertukaran mahasiswa merdeka di Universitas Negeri Gorontalo dan program Magang Merdeka di detikJabar. Baru saja menyelesaikan studi ilmu komunikasi di Untirta.

FIKSI MINI hadir setiap minggu mulai Juni 2025. Terbit hari Senin. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis. Klik contoh-contoh fiksi mini di bawah ini:



