Peringatan Hari Pendidikan 2 Mei 2025 telah lama berlalu. Namun, catatan tentang harapan masih tersimpan dalam memori dan juga galeri. Salah satu hal yang menarik dari moment Peringatan Hari Pendidikan di wilayah gugus sekolah tempat saya mengabdi sebagai guru, wilayah Gugus 1 Inerie Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur adalah perlombaan mendaklamasikan puisi antar perwakilan siswa dari masing-masing sekolah dasar (Di gugus 1 Inerie adalah enam sekolah dasar, yaitu SDI Sewowoto (sekolah tempat saya mengabdi), SDK Nunupada (sekolah tuan rumah peringatan Hardiknas tahun ini), SDN Malapali, SDI Ngadhusawu, SDI Kelitey dan SDI Ngalubere). Saya mendapat kepercayaan oleh rekan guru segugus 1 Inerie untuk mencipta puisi yang akan dilombakan. Dua puisi yang dijadikan sebagai referensi perlombaan adalah puisi yang saya kirim ke website ini: “Aku Ingin Mencintai Bangku Sekolahku” dan “Suara Harapan dari Timur Matahari Terbit”.
Lomba mendeklamasikan puisi sebagai salah satu jenis mata lomba di antara perlombaan lain di bidang Akademik, Kesenian dan Olahraga, di wilayah gugus sekolah kami menjadi hal menarik bagi saya karena: pertama, puisi menjadi jalan untuk bersuara tentang kemanusiaan, keadilan dan kepeduliaan. “Suara Harapan dari Timur Matahari Terbit” adalah representasi dari suara minor orang pelosok, orang daerah seperti kami, yang jarang disentuh oleh berkat pemerataan pengembangan teknologi di Negara Indonesia ini yang berdampak pada kemajuan mutu pendidikan. Puisi adalah aspirasi kami untuk mengetuk nurani tuan dan puan di takhta kuasa untuk sudi menaruh peduli.
Apalagi di SDK Nunupada, sekolah tempat kami melangsungkan serangkaian kegiatan peringatan Hardiknas 2025, sedang terjadi masalah krusial yang belum terselesaikan. Sebagian lahan sekolah itu (termasuk lapangan sekolah) dijarah oleh oknum yang mengakui diri mereka sebagai tuan tanah, pemilik tanah, Mori Watu Tana (Sebutan dalam Bahasa daerah Ngada). Masalah krusial itu tidak hanya berdampak buruk pada perayaan peringatan Hardiknas 2025, melainkan juga pada pengembangan mutu pendidikan bagi para peserta didik di sekolah tersebut. Ruang ekspresi anak-anak dibatasi di lingkungan sekolah. Guru-guru honor yang belum diakomodir mengikuti tes PPPK di sekolah itu, tiap hari tetap mengajar peserta didik, meski dalam tekanan.
Masalah di SDK Nunupada yang belum terselesaikan ini, coba diangkat melalui puisi. Coba disuarakan melalui puisi, agar pemerintah dan para pihak pemerhati pendidikan dapat sudi menaruh peduli. Sehingga anak-anak dapat bersekolah dengan aman, damai dan nyaman, dapat bertumbuh menjadi anak-anak yang berguna bagi bangsa dan Negara Indonesia tercinta.

Kedua, puisi mengandung mimpi anak-anak. Melalui puisi anak-anak mengungkapkan mimpi mereka. Dasar dari mimpi mereka adalah mencintai bangku sekolah. Bersama puisi anak-anak mendapat kesadaran bahwa sekolah itu penting. Menjadi cerdas itu penting, agar tidak dijajah oleh ketidakadilan dan ketimpangan social lainnya. Juga tak jarang, saat ini banyak anak yang memilih berhenti bersekolah, putus sekolah oleh pelbagai alasan, yang intinya (dalam pengamatan saya) : sekolah itu tidak menjamin hidup. Puisi coba berupaya panggil pulang mereka bahwa sekolah itu bisa jamin hidup.
Puisi-puisi ini juga saya dedikasikan untuk sosok Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Bangsa yang terkenal dengan triologinya: Ing Ngarso Sung Tulado, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Semoga amal baik dan perjuangan beliau menjadi teladan bagi pemimpin bangsa hari ini.
Saya berharap, puisi-puisi saya dapat sampai ke jiwamu sebagai teman untuk kita sama-sama berjuang menegakkan keadilan di daerah yang masih sering mendapat penindasan dan perlakuan tidak adil. Mari lawan dengan puisi! Auhe!
Mario D. E. Kali

Mario D. E. Kali
AKU INGIN MENCINTAI BANGKU SEKOLAHKU
Aku ingin menjadi sejarah
Yang tercipta dari tangan kecilku
Bukan sekadar cerita dongeng romansa
Tapi hikmah untuk berkembang
Seperti Ki Hajar Dewantara
Seperti para pahlawan tanpa tanda jasa
Aku rela dibentuk oleh apa yang aku cinta
Ialah bangku sekolahku.
Aku ingin mencintai bangku sekolahku
Yang terbuat dari rindu
Terbentuk dari papan-papan lapuk kesederhanaan
Yang tersusun rapi saban hari di sekolah tua
Yang menopangku belajar
Bersama guruku terkasih
Bahwa cinta adalah tuan yang hebat
Yang mengajariku menjadi apa yang aku alami.
Bangku sekolahku
adalah cinta pertama dalam hidupku
Dalam mimpiku yang tak terbatas
berkelana mencari letak
Dengan sungguh
Ketika aku mencintai bangku sekolahku
Aku tahu betapa berarti cinta
orang tua, para guru
Tuhan dan alam semesta.
Dan dengan cinta itu
aku ingin menjadi tangan kecil
yang mampu menulis sejarah
merayakan kehidupan dan mimpi
Tanpa ragu
Tanpa takut
Berkembang bahagia
menuju selamat.
(Sewowoto, Maret 2025)
Mario D. E. Kali
SUARA HARAPAN DARI TIMUR MATAHARI TERBIT
Dengarkan suaraku
Suara harapanku
Sendengkanlah telinga dan bukalah hatimu
Wahai tuan dan puan di atas takhta kuasa
Dari timur matahari terbit
Di kaki gunung Inerie, di pelukan Ibu penuh kasih sayang
Laksana anak garuda berdecit
Suaraku ini seumpama maskumambang
Puisi yang berjuang menjadi pisau
Menembus labirin kegalauanku
Mencapai titik takhta kuasamu
untuk menggugah dan menggugat mata nuranimu
Agar sudi menaruh peduli
padaku dan kawan-kawanku
pada kami dan guru-guru kami
pada kami dan lingkungan sekolah kami
sebab jauh di pelosok ini
cinta kami pada negara selalu bertepuk sebelah tangan
mimpi kami bersekolah dengan damai
selalu dirundung kegelisahan
kami bernyanyi restorasi pendidikan
kami belajar dengan kurikulum merdeka
tapi hati kami hanyut dirundung gelisah
suara kami hanya decit garuda kecil dirundung malang
kepada siapa kami mesti mencari payung perlindungan?
Jika cinta negara seakan tak peduli pada kami
Yang ingin merdeka bermimpi
Yang ingin merdeka belajar
Dengarkanlah suara ini
Suara harapan dari Timur Matahari Terbit
Berdecit bagai anak garuda yang malang
Demi nama cinta alam semesta
Dalam berkat roh mendiang Ki Hajar Dewantara
Kami ingin merdeka bermimpi
Kami ingin merdeka belajar
Jangan bunuh mimpi kami
Jangan penjarakan harapan kami!
(Sewowoto, Maret 2025)
Mario D. E. Kali
ODE KEPADA KI HAJAR
O kau, kau e … kau kau e…!
O kau, kau e … kau kau e…!
Pada mulanya adalah gelap, saat bergemuruh kumandang ampera menjadi luka menganga di tanah bijana oleh tangan serakah para penjajah. Dan kau Ki Hajar tak membalas tangan untuk menghajar. Namun bangkitkan niat untuk mengajar; pendidikan itu peluru bukan pembunuh! Melesap sekejap lenyapkan gelap kebodohan, segera terbitlah cahaya kebijaksanaan dari lubuk cinta yang berdoa dan berusaha tanpa kenal lelah dan tak sudi menyerah kalah. Dikaulah Ki Hajar, dikaulah Dewantara. Dikaulah perintis yang layak dipuja. Dikaulah Bapa para pengajar.
O kau, kau e … kau kau e…!
O kau, kau e … kau kau e…!
Suara sajak ini
Melodi syukur pujian terlantun dari hati dan budi
milik paduan para murid yang ingin berbakti mengabdi setia bagi negeri ibu pertiwi.
Terima kasih kepadamu adalah cara kami melestarikan amanat
Bahwa sesungguhnya kebodohan yang amat jahat harus dihapus di atas muka bumi Nusantara!
Bahwa sesungguhnya kebodohan yang amat jahat harus dihapus di atas muka bumi Nusantara!
Terima kasih kepadamu. Karena dayamu kami bisa membaca kata dan rasa, kami bisa menghitung angka dan tanda, kami bisa menulis karya dan karsa. Terima kasih kepadam. Agar kami makin sadar kodrat diri, kodrat alam, kodrat zaman harus kuat mengakar menumbuhkan perdu naungan selamat dan bahagia selama kami belajar:
Hidup berbuah kasihasih berbagi dari hati. Hati yang tulus bercermin pada budi nan suci.
Tuntun kami menjadi insan yang merdeka! Merayakan 2 Mei dengan penuh khidmat.
Menimba berkat di bulan penuh rahmat sebagai insan cendekia kami ingin selalu tersenyum
dengan harapan belajar berguna bagi bahagia dan selamat.
(Sewowoto, 2 Mei 2024)
Mario D. E. Kali
SEPATU SEKOLAH
Sekolah itu ladang
Akulah benih
Disemaikan oleh tangan guru
Ditaburi pupuk ilmu pengetahuan.
Masuk sekolah kelas satu SD
Aku pakai sepatu baru
Hingga mujur jadi sarjana
dan aku kerja jadi guru.
Syukur sepatu sekolahku yang usang
Masih menemani tapak kaki melangkah
Terima kasih
Sepatu sekolahku!
(Sewowoto, 16 Agustus 2023)

Mario D. E. Kali
Pesan Kakek
Saat terakhir akan dijemput maut
Dengan tongkat kayunya yang keramat
Kakek mengukir empat kata sifat
Tak hanya sebatas bekal kenangan pada nisannya
Melainkan teladan bekerja penuh kebajikan selama hidup:
1, Jujur
sebab ketiadaan sering mengada-ada
pun sebaliknya,
Sekalipun lidah tiada bertulang
Hati budi tak terberi untuk membual.
2, Lurus
Sebab keberanian bukan sebuah aba-aba
Melainkan tenggala jiwa
Meluruskan selalu jalan bengkok berlekuk
Meski tiada berujung.
3, Taat
Sebab ketulusan adalah batu asa
bagi ketajaman nurani dan kejernihan budi
Sekalipun neraca hukum dunia tak diukur seimbang
Sifat membangkang Adam telah dihapus darah Yesus.
4, Hormat
Sebab kebiasaan baik adalah cara benar
Menyuburkan pohon keturunan
Meski ada ranting yang patah pun sebaliknya bunga mekar buah lebat
Jangan sekali-kali memukul dada sendiri.
Merenungi pesan kakek, menerangi jalan pengharapanku
Pada kisah setiap detik yang tak semua kucatat pada buku kehidupan
Aku tahu bahwa pada akhirnya
Kakek akan kembali dengan tongkat yang keramat
Mengetuk pintu rumahku
Di kala aku belum baik dan benar bersiap untuk diajaknya pulang
(Sewowoto, 6 April 2022)
Mario D. E. Kali
NARASI HITAM PUTIH
Hanya ada dua pilihan:
hantu atau Tuhan (?)
Cukup pilih satu!
Dengan rupa-rupa cara
Menerka beribu cerita
Jadi satu kesimpulan
Hitam tak berarti dosa
Putih tak selalu suci
Sebab kini hidup banyak sekali manipulasi
(Tandamatakali, 24 Januari 2023)

TENTANG PENULIS: Mario D. E. Kali adalag guru pada UPTD SDI Sewowoto, Desa Enabhara, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Ia juga merintis Pondok Baca Sewowoto bagi anak-anak Desa Enabhara. Buku puisinya berjudul Tanda Mata (Teras Budaya Jakarta, 2020) dan Hari Tuhan Bagi Kalanuk (Makhsara Books, 2024).


PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik gambar di bawah ini:


