Film Akeloy Production Tidak Layak untuk Ditonton: Hiburan yang Menormalisasi Kesesatan

Oleh: Moh. Fauzi

Di zaman digital saat ini, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata. Ia telah bertransformasi menjadi alat komunikasi massa yang sangat ampuh dalam membentuk cara berpikir, sikap, bahkan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Dalam situasi seperti ini, setiap film yang dihasilkan seharusnya membawa tanggung jawab moral terhadap pengaruh sosial yang ditimbulkannya.

Sayangnya, tidak semua studio film menyadari atau peduli tentang aspek ini. Salah satu contoh yang mencolok adalah karya-karya dari Akeloy Production yang baru-baru ini mencuri perhatian. Film seperti Guru Tugas, musrek, fitnah dan Asapok Mardeh, bukan karena tidak menghargai kreativitasnya, tetapi karena memiliki unsur negatif. Untuk apa ditonton jika isinya tidak memberikan manfaat.

Menormalisasikan Dunia Perdukunan

Rata-rata film yang dihasilkan oleh tim Akeloy Production biasanya melibatkan seorang dukun untuk mengatasi berbagai masalah. Praktik perdukunan, hal-hal yang bersifat mistis, dan pemikiran yang tidak logis. Alur cerita dibuat seolah-olah memperkuat ide bahwa dukun, pesugihan, dan fenomena supranatural adalah jalan keluar dari permasalahan hidup. Ini jelas bisa berbahaya.

Tidak hanya karena film ini dapat mengaburkan garis antara fiksi dan kenyataan, tetapi juga karena penonton, terutama mereka yang kurang berpengalaman dan memiliki kemampuan literasi media yang rendah, berisiko besar menerima pesan tersebut tanpa memahami konteksnya.

Sebuah konten di media sosial seharusnya dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan moral, pendidikan, dan pembelajaran, namun malah menyebarkan hal-hal yang tidak seharusnya disampaikan. Bukan berarti sihir itu tidak ada, tetapi ini lebih kepada meratifikasi sihir yang sebenarnya tidak perlu untuk dilakukan atau dianggap sebagai lelucon semata.

Kemasan yang menyesatkan

Mayoritas narasi film yang diunggah di saluran YouTube bernama Akeloy Production semakin tidak pantas untuk ditampilkan karena penyajiannya yang menyerupai drama kehidupan sehari-hari. Dialognya dipenuhi dengan nuansa realistis, konflik-konflik yang relevan dengan kehidupan masyarakat, serta karakter yang mudah dikenali. Semua elemen tersebut membuat film ini tampak “logis”, padahal isinya malah menyesatkan.

Contoh dari salah satu film berjudul (Asapok Mardeh) menceritakan tentang seorang gadis yang tidak disukai oleh semua pemuda desa karena perilakunya yang kurang baik. Akan tetapi, gadis ini disarankan oleh temannya untuk menemui dukun agar semua pemuda di desa tersebut jatuh cinta padanya. Setelah berkunjung ke dukun, semua rencananya berjalan sesuai harapannya. Ini adalah contoh dari bahaya tersembunyi dari hiburan yang tidak bertanggung jawab, coba renungkan sejenak. Bagaimana adegan atau plot di tayangan ini dapat diterapkan di kehidupan nyata oleh masyarakat.

Kebebasan yang Harus Disertai Etika

Ini tidak dapat dipungkiri bahwa film memang memiliki kebebasan berekspresi. Namun, kebebasan itu bukan berarti bebas dari etika dan tanggung jawab. Ketika suatu konten memiliki potensi untuk menormalisasi kepercayaan sesat, maka itu bukan lagi ekspresi seni, melainkan propaganda terselubung yang bisa merusak tatanan sosial dan moral.

Saya menghargai kreativitas. Namun, saya tidak dengan idenya karena konten seperti ini dapat memperkuat budaya takhayul, melemahkan kemampuan berpikir kritis, dan bahkan menjauhkan masyarakat dari solusi yang rasional dan ilmiah dalam menghadapi persoalan. Ngalak gempanngah (mengambil jalan paling mudah meskipun itu keliru).

Sensasi di atas kualitas

Lebih ironisnya lagi, film-film semacam ini justru menarik perhatian luas karena mengandung elemen sensasional. Seperti teman saya yang selalu mengunggulkan ceritanya tanpa melihat aspek lainnya. Ini bukti bahwa masyarakat masih awam terkait hal ini maka berhati-hatilah saat membuat konten terutama konter drama. Mereka sering kali menjadi viral di media sosial, disaksikan ribuan hingga ratusan ribu kali, bahkan dijadikan bahan obrolan santai di warung kopi atau grup WhatsApp.

Popularitas semacam ini tidak menunjukkan bahwa film itu berkualitas, tetapi mencerminkan rendahnya literasi media di kalangan masyarakat kita. Menurut saya, Akeloy Production terlihat lebih memprioritaskan pencapaian statistik dan sensasi viral, ketimbang menyajikan konten yang bertanggung jawab dan meningkatkan kesadaran publik.

Stereotip Negatif terhadap Orang Madura

Yang sangat disayangkan, Akeloy Production yang anggotanya adalah orang Madura itu sendiri, menyebarkan citra mengenai etnis Madura. Dalam beberapa videonya, orang Madura sering kali di tampilkan sebagai sosok yang keras, agresif, dan mudah terlibat dalam pertarungan bersenjata tajam. Meskipun tidak dilarang, tetapi kurang tepat jika ditayangkan di media sosial yang dapat diakses oleh seluruh dunia.

Ini merupakan contoh stereotip etnis yang tidak hanya menyesatkan, tetapi juga merusak pandangan publik terhadap masyarakat Madura. Sebagai catatan, budaya Madura sangat kaya, berdasarkan nilai-nilai keagamaan, kerja keras, dan solidaritas sosial. Orang yang bijak tidak membagikan aib sendiri kepada orang lain.

Saran: kembali ke komedi saja

Sebenarnya, saya sangat menyukai konten yang dibagikan oleh channel YouTube yang bernama Akeloy Production ini. Namun, itu adalah ketika mereka masih aktif membuat konten komedi. Konten komedi ini lebih menarik dibandingkan dengan konten drama yang skenario ceritanya bisa menjerumuskan banyak orang.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==