Guru Sekolah Khusus Gelagapan Berbahasa Isyarat Saat Diwawancarai

Baru saja saya hendak membaca apa isi tulisan di kertas tersebut, tiba-tiba Pak Mahar, guru kelas mereka, berdiri di samping kami bertiga. “Itu gak boleh dibaca oleh Pak Agus. Biarkan mereka mewawancarai Pak Agus dengan segala kemampuan mereka berisyarat. Pak Agus juga harus menjawabnya dengan berisyarat juga,” cetusnya.

Spontan saya terpaksa sedikit nyengir. Meski sehari-hari saya sudah lama bergaul akrab dengan ABK berbagai ketunaan, tapi saya jujur, tak piawai berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

“Ngerjain saya aja nih, Pak Mahar,” celetuk saya, bernada canda.

“Sekalian ngetes kemampuan gurunya juga,” jawabnya, tak kalah guyon.

Memang, pertama kali mengajar, dahulu di SLB Muara Sejahtera di Pondok Cabe, tahun 2002, saya memang mengampu anak-anak tunarungu. Namun itu sudah dua puluh tahun lalu. Ke sininya, saya selalu dikondisikan oleh atasan-atasan saya untuk menangani anak-anak tunagrahita atau autis.

Melayani wawancara ABK tunarungu, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dalam bahasa isyarat, bagi saya itu lebih sulit daripada menelaah materi persamaan integral atau kalkulus, misalnya. Namun karena kita berhadapan dengan subjek hidup, maka tantangannya menjadi lain. Saya berusaha down to earth, masuk ke alam pikiran serta jiwa anak, apa yang mereka maksud. Jadinya, kami sama-sama saling belajar. Tidak ada guru yang pintar, dan tidak ada murid yang bodoh.

Satu jam diwawancarai mereka, dalam konteks khusus pembelajaran formal, di mana situasinya terdapat kendala beda bahasa sehari-hari, maka di situlah menariknya. Saya merasa sayalah, yang berkebutuhan khusus. Padahal, setiap hari saya bertemu dengan mereka, juga dengan siswa-siswa berkebutuhan khusus lainnya, baik yang tunanetra, tunagrahita, tunadaksa, autis. Masing-masing dengan spektrum atau rentang berbeda satu dengan lainnya.

Intinya, berada di lingkungan anak-anak berkebutuhan khusus dengan segala kondisi, karakteristik, serta jenis kompensasinya, maka seyogyanyalah tiap guru ABK memiliki coping skill kompetensi minimal yang diperlukan oleh tiap jenis kekhususan ABK.

Saya jadi membayangkan lebih jauh, bagaimana tingkat keragaman persepsi masyarakat awam dengan keberadaan para disabilitas di tengah lingkungan mereka. Meskipun pemerintah telah sejak lama memberikan perlindungan dan upaya-upaya pemberdayaan terhadap mereka, melalui perangkat hukum perundang-undangan, dalam prakteknya sehari-hari, dirasa belumlah inklusif.

Paradigma pendidikan inklusif yang sedang dan telah dijalankan melalui sekolah-sekolah inklusi, masih belum memasyarakat secara merata, bahkan di kalangan pendidik pun. Masih banyak sekolah yang memandang adanya ABK yang hendak mendaftar ke sekolah reguler, dipandang dari aspek ‘masalah’ daripada tantangan.

Serang, 28 September 2022

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==