“Kata bapak, kalau jujur, insya Allah dalam perjalanan hidup, kita akan diberi kemudahan,” kata H. Martim, saat ditemui di sela-sela berjualan kacang sangrai, di Kampung Pasar Binuang, Rt 01/01, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, Jumat (8/7/2022).
Selain harus jujur, kunci sukses selanjutnya adalah kerja keras pantang menyerah. Soal kerja keras, H. Martim suka dalam hal berdagang. Dirinya mengaku sejak umur 20 tahun sudah senang berjualan di pasar. Mulai dari berjualan buah kecapi, jengkol, topi laken, hingga kini berjualan kacang.

Hasrat untuk berjualan diakui H. Martim datang dari diri sendiri. Orangtuanya tidak pernah menyuruh dirinya berjualan. “Orangtua saya petani. Dulu pengen sendiri jualan. Jualan pake sepeda. Ke Pasar Gedeblang, Binuang, sampai jualan di pasar Jenggot di Balaraja,” ujarnya.
H. Martim mengaku, setelah pulang dari pasar, dia akan membeli oleh-oleh entah itu makanan atau ikan untuk di rumah, di Kampung Laes, Desa Sukamaju, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang. “Saya masih ingat, ketika saya bawakan tembako untuk bapak dan daun nginang untuk ibu, mereka bahagia sekali,” paparnya.

Ditambah, H. Martim muda sangat senang mendapatkan uang jajan dari hasil jerih payahnya sendiri, tanpa perlu minta kepada orang tua.
Saat masih muda ia tidak hanya berjualan dari satu pasar ke pasar lain. Tapi juga jualan di tempat tontonan atau jika ada hiburan film layar tancap ia akan berjualan. Seperti jualan rokok, batu baterai, es, minyak angin dan makanan ringan.
“Alhamdulillah, setiap saya jualan itu tidak pernah mengeluarkan modal. Artinya saya selalu mendapat kepercayaan dari orang-orang, suruh ngejualin barang dagangan mereka. Kalau barang habis, saya tinggal berhitung dengan si pemilik barang bagi keuntungan,” paparnya.
Saat menjual topi laken, ia juga diminta oleh orang Madura untuk membantu menjualkan topi dagangannya. Atas kepercayaan banyak orang itu, H. Martim tidak mau mengecewkan mereka. Ia sebisa mungkin selalu tepat waktu dalam penyetoran. Barang habis, langsung setor. “Kalau sudah ada uang, jangan dibilang tidak ada. Usahakan kita jangan sampai menumpuk-numpuk hutang,” tutur suami dari Hj. Karni ini.
Sejak menikah dan mempunyai anak pertama, H. Martim mulai memutuskan memilih fokus berjualan kacang sangrai saja. Jualan kacang sangrai juga tanpa modal. Menurutnya jualan kacang lebih simpel, tidak perlu belanja ini-itu dulu. Sejak jualan kacang H. Martim tidak keliling lagi. Hanya berjualan di pasar dan di rumah.
“Kacang sangrai selalu dikirim ke rumah. Saya yang jualin. Mulai setor saat kacang habis. Dulu masih ngalamin harga kacang per liternya tiga ribu rupiah. Sekarang sudah sembilan ribu rupiah per liternya,” terangnya.
Keuntungan uang dari hasil berdagang itu, H. Martim selalu rajin menabung. Hasilnya ia bisa berangkat Haji bersama sang istri pada tahun 2017 lalu.
“Alhamdulillah dari hasil jualan juga bisa kebeli tanah dan bangun rumah. Dulu waktu harga tanah per meternya empat ribu rupiah, sama seperti harga emas satu gram. Saya beli tanah dua tahap di Kampung Kedaleman, Desa Ketos. Total luasnya 600 meter persegi. Dibagi dua, untuk anak dan rumah sendiri,” pungkasnya. *
Ahmad Wayang



