Keadaan fenomena di atas, membuat saya prihatin. Saya pun berusaha menjalinkelindankan kata pohon dengan banyak hal yang pernah saya baca. Hal pertama yang saya ingat adalah, pohon buah khuldi (pohon terlarang) yang membuat nabi Adam terdepak dari kenyamanan hidup di surga. Bagaimana Tuhan telah menjadikan pohon sebagai penguji keimanan nabi Adam AS. Bukankah itu menandakan betapa pentingnya kita memerhatikan dan menghikmahi pohon.

Berkat kayu pohon pula, Nabiyullah Nuh berhasil membangun bahtera raksasa, sehingga mampu mengangkut para pengikutnya beserta koloni satwa aneka rupa sehingga terhindar dari banjir besar yang diturunkan Tuhan sebagai azab bagi penolak risalah kenabian nabi Nuh. Betapa pohon, dalam hal ini kayu, turut andil melestarikan perkembangbiakan kehidupan manusia dengan aneka satwa. Jika tak ada pohon atau kayu yang disediakan Tuhan sebagai bahan baku membuat perahu, mungkin kita tidak akan melihat warna warni keindahan alam, serta aneka satwa yang beraneka ragam seperti saat ini.

Saking pentingnya pohon hingga membuatnya disimbolkan sebagai tamsil tinggi rendah kualitas keimanan. Iman yang baik ibarat sebuah pohon yang kokoh. Dimana akarnya menghujam bumi, batangnya kuat, daunnya rindang, sehingga menghasilkan buah yang lezat dan nikmat. Sementara keimanan yang lemah sebaliknya, ibarat pohon yang berakar buruk sehingga membuat batangnya ranggas, daunnya kering, dan sulit berbuah.

Pohon juga ditamsilkan sebagai ilustrasi perjalanan kehidupan kita di dunia fana ini. Konon kehidupan kita di dunia, tak lebih sekadar sebagai seorang musafir yang tengah berteduh rehat sebentar di bawah pohon rindang, sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Dunia bukan tujuan, melainkan tempat berteduh sebentar, agar langkah kita menuju akhirat menjadi lebih segar.

Rasul saja menggunakan pohon dalam hal ini kayu untuk memudahkan pemahaman audiensnya mengenai suatu pembahasan. Bagaimana Rasul menjelaskan mengenai buruknya sifat iri dengki, ghibah, fitnah (yang hari-hari ini begitu mudah kita jumpai), yang bisa menghanguskan amal kebajikan yang kita kumpulkan susah payah sebagaimana kobaran api yang melahap habis kayu kering.

Pohon juga yang membuktikan mukjizat kerasulan nabi Muhammad SAW. Konon, saat Nabi tengah khubtah di mimbarnya, jamaah mendengar jelas suara rintihan yang menyayat hati yang bukan berasal dari manusia. Ternyata itu rintihan pohon kurma yang meratap merindukan sentuhan tangan suci Nabi Muhammad. Hal ini membuktikan bahwa mukjizat Nabi Muhammad jauh lebih istimewa ketimbang mukjizat Nabi Isa yang bisa menghidupkan orang mati atau menyembuhkan orang yang buta semenjak lahir. (tentang ini anda bisa menelaah langsung buku the Road to Muhammad karya Jalaluddin Rakhmat, Mizan: 2009)    

Jika kita melihat kebiasaan orangtua kita di desa-desa. Mereka menjadikan pohon sebagai investasi untuk diwariskan kepada anak cucunya. Pohon kelapa, pohon jati, pohon jengjeng atau albasiyah, bukan saja bisa digunakan sebagai bahan baku kayu mendirikan bangunan rumah, juga turut dipakai untuk bahan baku membuat perabotan rumah tangga.

Bukan itu saja. Pohon juga dikenal sebagai paru-paru kota. Meminimalisir efek pemanasan global. Menjadi pancang keseimbangan alam. Tanpa pohon, kehidupan kita hampir dipastikan akan kacau-balau. Banjir, longsor, kabut asap, lahir karena dipicu ketidakpedulian kita akan keberadaan pohon.

Bahkan sewaktu kecil kami bermain asruk-asrukan ke dalam hutan untuk mencari petet (tumbuhan liar tanpa ditanam) yang kemudian dipelihara di samping rumah masing-masing. Merupakan suatu kebanggaan bagi kami di waktu kecil memiliki banyak tanaman yang diambil dari hutan.

Jika kita tak bisa menanam pohon, minimal kita bisa menjaga dan merawat peninggalan orang-orang terdahulu yang begitu berbaik hati menanamnya untuk kita nikmati. Bahkan saking pentingnya pohon, Rasulallah hingga berkata tegas “Seandainya besok kiamat, saya akan tetap menanam”.

Jika sang kiai yang diceritakan Emha dalam buku Slilit Sang Kiai saja ketar-ketir mengkhawatirkan hisab Allah lantaran kealfaan dirinya menggunakan serpihan kayu kecil untuk slilit tanpa izin. Sudah sepantasnya kita mentobati dosa-dosa struktural kita yang jelas-jelas menyakiti pohon yang tak berdosa dengan memaku-makunya demi syahwat kekuasaan dan kepentingan sesaat. Wallahu alam.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==