Ada cleaning service melintas. Aku panggil. Aku katakan kepada dia,”Bisa cariin tiket ke Dubai hari ini?”

Cleaning service bilang, “Kalau kartu kredit, saya bisa carikan.”
Saya tunjukkan kartu kedit saya. Kedua mata orang itu berbinar-binar karena melihat kartu kredit saya mereknya Citibank.

“tunggu di sini, Mister!”
Saya yakinkan ke Tias, bahwa di dunia pariwisata India itu tuhannya uang. Kita pasti dilayani dengan baik jika punya uang.

Tidak lama si cleaning service itu datang lagi, “Nanti akan ada taksi datang menjemput.”
Tias was-was. Saya yakinkan lagi, bahwa jika kita punya uang, dunia pariwisata India akan melindungi kita.

Taksi pun datang. Saya dan Tias masuk. Supir taksi menyambut ramah. Saya pernah 6 bulan menjelajahi India pada 1992 – saat masih bujang, jadi sudah bisa beradaptasi. Supir taksi itu meminta garansi lagi, bahwa saya akan membayar dengan kartu kredit. Tias merasa heran, kenapa kartu kredit selalu jadi topik utama.
Aku jelaskan lagi bahwa mereka adalah “dunia hitam”. Mereka bisa membantu kita dalam tukar uang, paspor yang hilang, hotel, daam waktu yang sangat cepat tanpa mau bertransaksi dengan uang cash. Tentu resikonya kami harus membayar mahal. Tidak apa. Yang penting bisa sampai di Dubai. Judhi Prasetyo dkk sudah menunggu dengan berbagai kegiatan. Kalau hari ini idak sampai, berarti kegiatan besok dengan Komunitas Diaspora di Dubai batal.

Taksi melaju agak meminggir ke luar kota Mumbar. Sekita 10 menit, taksi memasuki kawasan ruko. Terus ke belakang. Ini petualangan seru. Saya tidak menyangka, jika di bagian belakang ada kantor. Biasanya toko-toko atau kantor bisnis berlomba-lomba ingin usahanya dilihat orang banyak.
Supir taksi itu membawa kami ke pintu kecil, naik ke lantai tiga. Wow! Ternyata ramai sekali. Interiornya juga mewah. Ada sepasang bule yang kehilangan paspor. Ada yang sedang mengurus tiket pulang karena ketinggalan pesawat. Suara mereka keras saat bernegosiasi soal harga. Dan kami disambut baik ketika membutuhkan tiket hari itu juga.

Betapa sibuk para karyawan perushaan ini. Saya mendengar mereka sedang mengupayakan maskapai China Airlines yang transit di Mumbai tujuan Dubai. Kami dijamu makanan-minuman. Sekitar 30 menit, mereka mendapatkan tiket Mumbai – Dubai. Maskapainya Etihad. Harga Rp. 7 juta untuk 2 orang. Sedangkan kami sudah membeli tiket untuk jurusan sama dengan maskapai lokal – Kingfisher Airlines hanya Rp. 1,4 juta untuk 2 orang. Tapi maskapainya bangkrut. Saya haya garuk-garuk keala. Honeymoon ala Backpacker: Episode Mumbai menyedot dompet!

Apa hendak dikata. Saya keluarkan Citibank. Digesek. Sah. Kami bisa berangkat sesuai jadwal. Teman-teman di Dubai bernapas lega. Kami diantar lagi ke bandara dengan taksi yang sama. Di bandara, kami terkejut lagi. Taksinya gratis. tidak ada tip untuk supir taksi. Luar biasa Honeymoon ala Backpacker: Episode Mumbai ini!

Cleaning service juga muncul lagi dan menanyakan, “Apakah semuanya baik-baik saja, Mister?” Kemudian dia menjelaskan, bahwa kami sudah mendapatkan tip dari perusahaan. Mereka berpesan, agar kami menyebarkan peristiwa ini kepada teman-teman yang mendapatan kesulitan. Mereka siap membantu.
Honeymoon ala Backpacker: Episode Mumbai yang tidak akan bisa kami lupakan. Money can buy everything!
Gol A Gong


