Penggalan cerita di atas merupakan cuplikan salahsatu episode awal sinetron Tukang Bubur Naik Haji Series yang tayang secara bersambung di salahsatu stasiun TV swasta nasional hingga kini. Sinetron religi berbalut komedi satir yang digandrungi ibu-ibu ini merupakan gambaran umum bagaimana kata “Haji” terperosok menjadi semacam sandang gelar atau titel yang menjadi prestise sosial di masyarakat. Haji bukan saja menjadi simbol prestasi spiritual menjalankan rukun islam, juga menjadi ajang citra dan kebanggaan.

Penjara Simbol
Prilaku yang dipertontonkan oleh Haji Muhidin bisa terjadi di mana saja. Boleh jadi itu terjadi kepada tetangga, saudara, tak terkecuali keluarga kita sendiri. Ini juga terjadi di kampung saya. Ia yang telah travel ke Mekah dan menunaikan ibadah haji, sepulangnya ke kampung halaman akan merubah wibawa dan gesture penampilannya.
Jika Lelaki, maka ia akan sering memakai kopiah putih lengkap dengan balutan sorban made in china di setiap shalat jumat atau berjamaah di masjid. Bahkan bisa dikenakan seharihari, bila perlu mengenakan pakaian jubah khas Arab ala tokoh Bang Madit dalam sinetron Islam KTP. Jika perempuan, ia akan berselendang putih bermanik-manik dengan seabreg perhiasan mencolok di sana-sini sebagaimana penampilan tokoh Hajah Maimunah istri Haji Muhidin.

Tak cukup sampai di situ. Mereka pun biasanya menjadi rutin dan semakin taat shalat berjamaah di masjid atau menghadiri pengajian. Bukan karena membuktikan kepatuhan terhadap perintah agama, melainkan lantaran malu dilihat warga masa haji bermalas-malasan. Sehingga ada sebagian orang yang telah mampu secara materiil belum juga mau mendaftar ongkos naik haji, lantaran belum sanggup menanggung konsekwensi mesti rutin berjamaah setiap waktu. Tak jarang ia yang kehidupan sebelum dan sesudah naik haji tidak semakin rajin berjamaah atau mengikuti pengajian, akan digunjing masyarakat sebagai “Haji Maktab” (di Mekahnya konon jarang shalat ke masjid, melainkan hanya ngendon numpang tidur di penginapan).
Hal yang lebih menggelikan, ada sebagian orang yang tidak mau sekadar menoleh apalagi menyahut panggilan orang yang memanggilnya tanpa menyertakan embel-embel “pak haji” atau “bu hajah” dengan anggapan tidak menghargai jerih payahnya mengumpulkan biaya besar hingga bisa pergi ke tanah suci. Padahal orang model begini, saat belum ke tanah suci ia mekar hidungnya serta senyamsenyum senang kalau ada orang baru dan tak dikenal yang memanggilnya haji atau hajah.

Bahkan jika haji model di atas menerima surat undangan, dan kita teledor lupa mencantumkan huruf “H” atau “Hj” di depan namanya, bisa dipastikan ia tak akan sudi datang menghadiri undangan dan menuding kita telah melakukan penghinaan.
Saya tidak tahu persis kapan pertama kali julukan haji menjadi semacam titel yang wajib disematkan kepada mereka yang pernah menunaikan ibadah haji. Ada sebagian pendapat itu strategi kolonialisme Belanda sebagai upaya membatasi gerak pemberontakan masyarakat pribumi yang banyak dimotori oleh para haji.

Fenomena di atas tentu hanya fragmen kecil kekeliruan dalam menghayati agama. Tentu banyak pula mereka yang menjadi lebih luas dan besar kontribusinya untuk kemaslahatan umat pasca melakukan ibadah haji. Semisal; menginfakkan sebagian hartanya untuk pembangunan masjid, membangun sarana pendidikan, membangkitkan kemampuan ekonomi fakir miskin, dan sebagainya dan seterusnya.

Haji yang meningkat kebajikannya, konon di tanah suci kerap berjumpa dengan pengalaman spiritual yang membeberkan hampir semua prilaku buruk yang lupa ditobatinya. Menurut penuturan orangorang yang telah melakukan ibadah haji di kampungku. Di Mekah, Allah kerap membalas setimpal apapun keburukan yang pernah kita lakukan sebelum berangkat dan tak akan berhenti sebelum kita menyadari kesalahan dan sungguhsungguh menginsyafinya.
Sekadar menyebutkan beberapa contoh; ada ibuibu yang kesulitan menemukan penjual susu kaleng, lantaran konon ia kerap malas memberikan jatah air susunya kepada anaknya saat kecil. Ada pula yang tibatiba kesasar memasuki hutan kebun salak hingga telapak kakinya penuh duri saat hendak berangkat ke masjidil haram, lantaran kesehariannya di desa terlalu sibuk mengurusi kebun salak hingga terkadang luput tidak bersembahyang.

Filosofi Haji
Semoga esai ngalorngidul ini turut menambah bahan renungan kita bersama. Baik yang belum, akan, maupun yang telah berhaji. Mari kita merenungi filosofi yang bersembunyi di balik ritual-ritual ibadah haji.

Tawaf; mengitari kabah, menginspirasi kita agar bersatu menyusun kekuatan dalam komunitas kebajikan.
Sai; mengenang perjuangan seorang ibu yang pontangpanting mencarikan air untuk minum anaknya, mengajarkan semangat berusaha (setelah kehabisan akal, barulah tawakal).

Melempar jumrah; mengingatkan kita untuk membuang ekses-ekses negatif yang bercokol dalam diri kita.
Tahalul memotong rambut; menginspirasi kita untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian diri.

Pakaian ikhram; menelanjangi diri melepas atribut-atribut keduniawian di hadapan-Nya. Bahwa kita semua sama, yang membedakan hanyalah kualitas dan derajat ketaqwaannya.
Qurban; mengajari kita keikhlasan, iman itu olah rasa bukan pengerahan logika, kita harus berani menyembelih sifatsifat kebinatangan kita.

Minum air zamzam; menginspirasi kita untuk hanya mencari penghidupan yang baik dan halal, bukan hasil manipulasi apalagi korupsi. Dan sebagainya dan seterusnya.
Dengan begitu, berhaji bukan semata keberangkatan kita ke tanah suci, melainkan upaya kita untuk senantiasa menjaga kesucian diri dan menyebarluaskan kontribusi untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan negara. Wallahu alam. *
Esai pernah dimuat Harian Radar Banten, 7 September 2016



