Jika di sekolah siswa nganggur lantaran guru yang mengajar di kelas mereka berhalangan hadir, saya kerap memanfaatkannya untuk membakar daya kritis para siswa. Saat saya sampaikan ilmu adalah cahaya, sebagian besar siswa mengaku telah mendapatkan materi tersebut baik yang dulunya sekolah di MTs pun SMP. Namun sama dengan apa yang saya alami semasa kecil, mereka pun belum sampai pada perenungan dan pemaknaan, baru sebatas mengoleksinya sebagai simpanan hafalan.

Kalau sudah demikian, biasanya pelan-pelan saya akan membuka pemikiran siswa dengan melontarkan pertanyaan akan sifat-sifat cahaya. Saat mereka jawab menerangi. Saya cecar dengan pertanyaan berikutnya. Benda seperti apa yang mungkin bisa ditembus oleh cahaya. Segelintir siswa ada yang menjawab kaca.

Saya tanya lagi, kalau seandainya kaca yang dimaksud kotor berkerak, mungkin nggak cahaya yang masuk akan bersinar cemerlang. Mereka jawab, tergantung kotor tidaknya kaca. Kalau kotor banget hingga berkerak, mungkin cahaya tersebut justru memantul lagi tak sanggup menembus kaca.

Karena mereka kadung menyebutkan kaca sebagai media tembus cahaya, saya pun mengambil gelas dan air sebagai perumpamaan untuk mempermudah pemahaman akan konsep ilmu ibarat cahaya. Saya katakan gelas yang bersih dan bening akan menampilkan cairan apapun yang memenuhinya sebagaimana aslinya. Diisi kopi ia menampung kopi, diisi susu menampilkan susu. Begitu seterusnya. Namun jika gelas tersebut kotor berkerak plus ditempati cicak, misalnya sisa bekas kopi yang tidak dicuci hingga berminggu-minggu lalu dituangkan cairan susu ke dalamnya, maka gelas tersebut tidak bisa menampilkan air susu sebagaimana aslinya, melainkan menjadi kopi susu cicak.

Begitulah barangkali perumpamaan ilmu sebagai cahaya. Ilmu hanya mungkin ditangkap atau mudah dicerna oleh hati dan pikiran bening dan bersih. Itulah mengapa orang-orang tua kita dulu kerap mensyaratkan puasa atau tirakat sebelum menyampaikan materi ilmu yang akan diajarkannya. Jadi, sebelum menerima pelajaran, sebagai pencari ilmu kita harus membuang ketidaksukaan terhadap guru, perasaan lebih tahu, kita mesti khidmat merendah di bawah guru. Bukan berarti mesti melulu membungkuk atau cium tangan saat berjumpa guru, melainkan belajar mendengarkan dan menyimak penuh perhatian apa yang disampaikan guru, untuk kemudian kita kritisi. Ibarat gelas yang dikucuri air dalam teko, air di dalam teko tidak mungkin bisa memenuhi gelas jika gelas tersebut tidak mau merendah di bawah teko.

Itulah ilmu sebagai cahaya yang dapat saya renungkan. Tentu sidang pembaca sekalian, juga bebas menggali dan merenungkannya. Hanya dengan perbekalan ilmulah seseorang akan mampu melakukan perjalanan menuju Tuhan dengan selamat. Karena ilmu adalah cahaya yang akan mengusir pekatnya kegelapan, menjadi parang tajam yang membabat semak belukar yang merintangi perjalanan. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang senantiasa merindukan dan menebarkan indahnya cahaya (ilmu). Karena sungguh, cahaya sekecil apapun selalu unggul atau menang jika disandingkan dengan kegelapan. Wallahu a’lam.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==