Dua minggu pasca dinyatakannya saya lulus dari SLTA, sebuah pengumuman dari Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten membuat saya akhirnya merasa
bahagia. Lantaran saya akhirnya diterima di kampus tersebut melalui jalur raport (SPAN-PTKIN), serta di Jurusan yang saya minati yaitu Aqidah Filsafat Islam. Aku anggap usaha saya selama ini tidaklah sia-sia.

Besoknya saya langsung menuju Kampus, dan mencoba menghubungi salah seorang teman yang sudah terlebih dahulu duduk di UIN SMH Banten.

Hampir dua mingguan saya di Serang. Saya juga begitu sangat bersyukur, karena kini saya sudah beralih status menjadi seorang Mahasiswa. Namun saya harus kembali ke kampung halaman usai dinyatakannya saya tidak lulus Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah di UIN SMH Banten tersebut. Saya sadar, bahwa tanpa KIP Kuliah

aktivitas perkuliahan saya nantinya akan terganggu. Apalagi saya masih punya dua adik yang masih sekolah. Kasian orang tua saya.
Tiga hari saya di kampung halaman, teman saya dari Serang kembali menghubungi saya. Katanya ada info beasiswa jalur KIP Kuliah di salah satu Kampus yang ada di Serang. Tak menunggu waktu yang lama, besoknya saya langsung berangkat kembali ke Serang. Saya masih ingat, di dalam tas saya cuma ada Celana Hitam dan Baju Kemeja Putih Polos, serta uang pemberian _Emak_ sebanyak Rp 60 ribu. Jujur saja sebetulnya saya tidak tega pada saat mengambil uang tersebut. Saya berfikir, seharusnya saya lah yang sudah harus meringankan beban orang tua.

Lagi-lagi semangat saya untuk mendapatkan beasiswalah yang akhirnya memberikan keyakinan, bahwa saya esok atau lusa dapat membahagiakan orang tua.

Keadaan masih sama, artinya saya masih belum lolos mendapatkan beasiswa KIP Kuliah. Dua tahun saya harus menunda mimpi saya. Hingga pada tahun 2022 kemaren, saya akhirnya bisa merasakan bangku perkuliahan tanpa harus membebani orang tua. Walaupun harus pindah kampus. Tentu saja saya sangat bersyukur. Dan saya harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.

KIP sangat membantu saya yang sempat mau putus asa untuk belajar. Makanya saya sangat sensitif terhadap hal-hal yang seperti melecehkan martabat seorang pelajar penerima KIP itu. Bukan karena ingin dihargai atau lain sebagainya, tapi soal bagaimana perjuangan untuk bisa mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan yang lainnya itu ternyata cukup sulit. Butuh perjuangan super heroik.

Awalnya saya mengira KIP yang dikabarkan telah berceceran di Kabupaten Lebak pada Kamis (06/2023) lalu adalah betul-betul karena unsur kesengajaan pihak yang tidak bertanggungjawab. Tapi ternyata faktanya masih belum jelas. Toh, kalau memang itu sudah
tidak terpakai, saya lebih merekomendasikan KIP tersebut lebih baik dibakar. Karena KIP itu bukan barang rongsokan, tega sekali orang yang membuang KIP tersebut.

Semoga kasus tersebut dapat segera diselesaikan oleh pihak yang berwajib. Minimal ada klarifikasi dari Dinas terkait, yang tujuan utamanya adalah untuk menghindari asumsi liar dari masyarakat kepada pemerintah. Aamiin. (*)
Tentang Penulis: Nama saya Mukhlas. Sekarang masih duduk di Semester 2 Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Banten Raya, Pandeglang, Jurusan Ilmu Pemerintahan. Saya asli dari Daerah Pandeglang, keaslian saya bisa dilihat dari konsistensi perjalanan pendidikan saya yang SD, SMP, SMA, bahkan sampai kuliah masih di Pandeglang.


